Parenting Remaja School Life Usia Sekolah

Anakku Tukang Bully?

Meskipun isu bullying sudah mulai tenggelam, fenomena ini tetap harus menjadi perhatian ekstra bagi para orang tua dan guru. Kita tentu tidak ingin anak atau murid kita tumbuh menjadi anak yang kasar, bukan? Apalagi sampai mengganggu teman-temannya. Kita harus waspada karena efek bullying ini tidak hanya berlaku pada si korban saja, tetapi juga bagi pelaku bullying. Bagaimana anak-anak bisa sampai tumbuh menjadi pelaku bullying?

Sebagian kita sudah sangat tahu alasan mengapa anak-anak tumbuh menjadi pelaku bullying. Anak-anak dengan perilaku ini biasanya muncul dari orang tua yang tidak memberikan bimbingan yang cukup tentang perilaku positif. Pola asuh orang tua yang terlalu permisif, terlalu keras, dan tidak konsisten menjalankan disiplin juga menjadi faktor pembentuk karakter anak tukang bully. Faktor lain yang menyebabkan anak menjadi pembully adalah karena mencontoh perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua.

Contoh pola asuh yang salah adalah orang tua membiarkan anak melanggar aturan tanpa ada konsekuensi apa pun. Secara tidak langsung, nantinya dalam diri anak akan tertanam bibit-bibit sikap pembangkang dan tidak taat aturan. Sikap negatif ini kelak bisa menjurus ke perilaku bullying. Lalu, tayangan televisi yang semakin sering menampilkan adegan bullying juga menjadi inspirasi anak untuk melakukan tindakan yang sama. Pengaruh dari televisi dan media sosial menjadi salah satu pendorong utama mengapa anak bisa sampai melakukan tindakan bullying.

Untuk mencegah anak menjadi pelaku bullying, orang tua tidak cukup hanya memberikan nasihat dan pengarahan saja. Kita juga harus peka terhadap perubahan perilaku dari si anak. Pelaku bullying biasanya adalah anak-anak yang memiliki sifat agresif berlebihan, destruktif, dan suka mendominasi anak lain. Lebih lanjut, anak-anak yang melakukan bullying rata-rata memiliki sifat mudah tersinggung, meledak-ledak, minim toleransi, dan mudah frustasi. Anak seperti ini cenderung kesulitan memproses informasi sehingga ia sering salah menginterpretasikan perilaku anak lain sebagai perilaku permusuhan. Bahkan ketika sebenarnya temannya baik-baik saja.

Bagaimana orang tua bisa tahu dan mencegah anak mereka jadi pelaku bulliying? Orang tua secara konsisten mlakukan supervisi terhadap kegiatan dan perilaku anak. Orang tua juga harus peduli dengan apa yang dilakukan anak-anak di sekolah dan di luar sekolah. Jalin kerja sama dengan guru dan orang tua murid lain untuk mengetahui perkembangan anak-anak.

 

Terakhir, orang tua juga harus melek teknologi untuk mencegah pengaruh buruk dari media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *