Banner Header

Anakku Tukang Bully?

Browse By

Meskipun isu bullying sudah mulai tenggelam, fenomena ini tetap harus menjadi perhatian ekstra bagi para orang tua dan guru. Kita tentu tidak ingin anak atau murid kita tumbuh menjadi anak yang kasar, bukan?

Apalagi sampai mengganggu teman-temannya. Kita harus waspada karena efek bullying ini tidak hanya berlaku pada si korban saja, tetapi juga bagi pelaku bullying. Bagaimana anak-anak bisa sampai tumbuh menjadi pelaku bullying?

Dilansir dari parents.com, menurut terapis keluarga sekaligus penulis buku Getting Beyond Bullying and Exclusion PreK-5, Ronald Mah mengatakan bahwa alasan anak menjadi pelaku bullying karena beberapa hal utama, yaitu:

Pertama, karena anak-anak yang merasa kuat tetap ingin mempertahankan kekuatannya serta kekuasaanya terhadap anak-anak lain. Keinginan ini mendorong anak tersebut melakukan bullying. Menurutnya, dengan menjadi pelaku bullying maka anak-anak lain akan merasa takut, sehingga kekuatan dan kekuasaan yang selama ini diperoleh tetap terjaga dengan baik.

Kedua, karena ingin balas dendam. Anak-anak yang merasa lemah, mungkin karena mendapatkan perilaku bullying justru berbalik menjadi pelaku bullying tersebut. Anak-anak ini mungkin berpikir bahwa dengan mem-bully, maka Ia tidak akan tertindas lagi.

Ketiga, karena terpengaruh lingkungan sekitar seperti terpengaruh dengan media politik, acara-acara TV, terpengaruh  anak-anak lainnya di sekolah, bahkan terpengaruh anggota keluarga yang juga sering melakukan bullying. Kemungkinan besar anak-anak ini tidak mengerti bahwa bullying adalah salah satu perilaku yang tidak dapat diterima, karena seringnya mereka terpapar perilaku tersebut dari lingkungan.

Lingkungan memang dianggap memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan perilaku anak sehari-hari. Sehingga tidak menutup kemungkinan anak-anak yang sering melihat anggota keluarga, misalnya orangtua melakukan “bullying” pada orang lain juga akan melakukan hal yang sama pada teman-temannya.

Dalam hal ini, orangtua dianggap lalai dalam memberikan bimbingan dan contoh perilaku positif pada anak. Sehingga, beberapa kesalahan pola asuh orangtua bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab anak menjadi pelaku bullying. Lalu, apa saja kesalahan orangtua yang mendorong anak menjadi pelaku bullying?

Apa Saja Kesalahan Pola Asuh Orangtua?

1. Membiarkan Anak Melanggar Peraturan

Salah satu kesalahan orangtua yang menjadi pemicu anak-anak melakukan bullying adalah dengan membiarkan anak-anak melanggar peraturan. Misalnya saat anak-anak dengan sengaja atau tidak sengaja “mengejek” temannya yang tidak bisa bermain bola. Seharusnya, orangtua mengingatkan bahwa tindakan anak tersebut tidak baik. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka orangtua boleh saja memberi anak konsekuensi.

Sayangnya, beberapa orangtua cenderung membiarkan perilaku anak karena menganggap bahwa hal tersebut adalah urusan anak, di mana orangtua tidak perlu ikut campur saat anak-anak sedang bermain.

2. Tidak Melakukan Sensor Acara Televisi

Acara televisi seringkali memuat konten yang tidak ramah dengan anak. Beberapa acara televisi mungkin saja mengandung unsur bullying, yang jika ditonton oleh anak bisa mempengaruhi perilaku anak.

Nah, beberapa orangtua mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga seringkali lupa melakukan penyaringan pada acara yang ditonton oleh anak.

Apa yang Harus Dilakukan Orangtua Saat Anak Membully Orang lain?

1. Akui Bahwa Anak Mem-Bully

Beberapa orangtua mungkin saja tidak mengakui bahwa anaknya mem-bully orang lain (teman). Hal ini disampaikan oleh Jennifer Cannon, seorang terapis keluarga asal California. Menurut Cannon, 99% orangtua akan mengelak bahwa anaknya adalah pelaku bullying. Namun, jika dalam kenyataannya anak memang melakukan bullying maka orangtua harus mengakuinya.

Sebaiknya duduk bersama dengan anak, tanyakan pada anak apa yang sebenarnya terjadi dan jadilah pendengar yang baik. Hindari menyalahkan perilaku anak tersebut dan katakan padanya bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan. Kemudian jelaskan pada anak bahwa “Keluarga kita tidak melakukan bullying”, dan tidak ingin orang lain melakukannya pada kita”. Tambahkan dengan pertanyaan, “Apakah kamu ingin teman-teman lain mem-bully dirimu?”

2. Fokus Pada Konsekuensi

Alih-alih hanya memarahi perilaku anak, sebaiknya fokus saja pada konsekuensi yang akan diberikan pada anak, karena perilaku bullyingnya. Konsekuensi ini membantu anak memahami bahwa setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya. Beberapa konsekuensi yang bisa Anda berikan pada anak, misalnya mengambil salah satu barang kesayangannya seperti video game, melarang menonton TV, atau mengurangi uang jajan anak.

Konsekuensi pada anak juga bisa berupa aktivitas yang membuatnya memahami bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Misalnya dengan menulis surat permintaan maaf pada anak yang Ia bully.

3. Minta Bantuan Sekolah

Merawat dan mendidik anak memang sulit, sehingga sangat wajar jika Anda meminta bantuan pihak lain. Anda tentu bisa meminta bantuan pihak sekolah dalam mengatasi perilaku bullying anak. Pihak sekolah biasanya menyediakan bimbingan konseling yang akan membantu anak menangani perilaku negatifnya ini. Yang perlu Anda lakukan adalah bekerjasama dengan pihak sekolah dalam mengatasi perilaku anak ini.

4. Dorong Anak Mengikuti Program-Program Sosial

Bullying bisa dikatakan tindakan yang berlawanan dengan sikap sosial seseorang, sehingga pelaku bullying sering kali tidak memiliki ketangkasan sosial yang baik.

Untuk itu, dorong anak pelaku bullying mengikuti program-program sosial yang bisa membangun ketangkasan sosial, seperti kesadaran diri, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, kerjasama team yang baik serta manajemen emosi yang baik. Nah, beberapa program sosial yang bisa diikuti oleh anak misalnya ekstrakurikuler.  

Mendengar anak kita sebagai pelaku bullying memang sangat mengejutkan. Namun, sebagai orangtua perlu bangkit dan membantu anak untuk terlepas dari perilaku tersebut. Beberapa cara di atas bisa digunakan oleh parents untuk menangani anak yang sering melakukan bullying pada orang lain.

Baca juga:

  1. Bagaimana Cara Menangani Anak Korban Bullying?
  2. Empati yang Hilang dan Munculnya Generasi Tukang Bully

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *