Banner Header Promo Oktober

Bukan Sekedar Memuji Anak

Browse By

Kita tentu tahu bahwa memuji adalah salah satu hal yang dapat mendukung tumbuh kembang si kecil. Pujian berfungsi sebagai motivator eksternal yang dapat menumbuhkan motivasi internalnya.

Karenanya, sebagai orang tua memberi pujian harus bijak dan tulus. Tidak memuji “alakadarnya” namun juga tidak berlebih. Memberikan pujian dengan cara dan waktu yang tepat akan membantu membangun motivasi dalam diri anak.

Tapi, bagaimana sih cara memberikan pujian yang tepat?

Cara Tepat Memuji Anak:

  • Puji Perilakunya, Bukan Anaknya

Pujian “Wah, kakak anak baik kan ya? ” bisa disalah artikan oleh anak. Bagi anak, pujian ini jelas terasa sangat berat. Jika anak tidak bersikap baik, anak tidak lagi menjadi anak baik, tetapi anak jahat.  

Untuk itu, pujilah anak secara spesifik berdasarkan perilakunya. Misalnya, “Wah, hari ini Kakak bangun tidur tanpa nangis. Bagus sekali.” Dengan pujian semacam ini, anak-anak akan termotivasi untuk mengulangi perilaku positifnya.

  • Berikan Pujian dengan Tulus

Memberikan pujian pun harus dilakukan dengan tulus, jangan berlebihan dan jangan digunakan untuk memaksa anak melakukan sesuatu. Misalnya, Anda suka model baju tertentu, tetapi anak tidak suka. Kemudian Anda menggunakan pujian untuk memaksa anak memakai baju tersebut.

Contohnya, “Wah, baju ini kelihatan bagus Kakak pakai. Coba deh lihat di cermin. Kakak jadi makin ganteng”. Pujian seperti ini sangat tidak tulus.

Pujilah anak dengan tulus. Misalnya, saat anak tidak sengaja menumpahkan gula, anak lalu mencoba untuk membersihkan gula yang tercecer. Pada saat seperti ini, Anda bisa memujinya dengan tulus, misalnya “Adik sudah latihan bertanggung jawab. Hebat.”

Atau jika Anak usia tiga tahun sudah bisa makan tanpa berceceran, Anda pun boleh memujinya dengan kalimat seperti “Adik makannya sudah tidak berantakan lagi. Bagus itu.”

  • Gunakan Standar yang Jelas

Berkaitan dengan barang atau benda tertentu, orangtua seringkali memberikan pujian yang tidak realistis. Misalnya, “Kakak nggak cantik ah kalau pakai pita kuning, mending pakai pita ungu saja. Lebih bagus, lho”.

Dengan pujian semacam ini, dijamin anak akan menjauhi warna kuning selama hidupnya karena berpikir bahwa warna ini tidak cocok untuknya. Ubah pujian tersebut dengan standar yang jelas, misalnya “Baju kakak kan ada corak warna ungunya, jadi akan lebih cantik kalau pakai pita ungu. Jadi serasi ,kan?”

  • Puji Anak untuk Mengubah Perilaku yang Buruk

Pujian juga bisa dijadikan salah satu alat untuk mengubah perilaku buruk si kecil. Misalnya, anak Anda sangat suka merengek. Ketika anak tidak merengek, Anda bisa memberikan pujian, seperti “Hari ini Kakak sudah tidak merengek lagi. Bagus sekali.” Dengan begitu, anak-anak pasti akan mencoba untuk tidak merengek atau menangis lagi.

  • Aplikasikan Seni Memuji

Biasakan anak untuk bisa merasa nyaman atas pujian dari orang lain. Misalnya, ketika bertemu dengan kerabat atau saudara, mereka tidak segan-segan memuji anak dengan kalimat, “Wah, kamu ganteng sekali,” atau “Wah, cantik sekali kamu pakai baju princess”. Selain itu, ajarkan anak untuk tidak segan-segan memuji teman lainnya. Memuji dan dipuji akan membentuk sikap peduli kepada orang lain.

Jenis Pujian yang Salah:

  • Memuji untuk Membandingkan

Misalnya, Anda memuji untuk menegaskan pada anak bahwa ia lebih baik dari temannya. Pujian seperti ini akan membuat anak menjadi sombong.

  • Memuji Hasilnya Saja

Anak yang dipuji karena hasil akhir akan fokus hanya pada yang tampak bagus saja, bukan pada prosesnya. Ia cenderung akan menghindari tantangan dan akan memilih hal-hal yang mudah dilakukan supaya mendapatkan pujian. Anak yang dipuji karena hasilnya akan menganggap kegagalan sebagai suatu kebodohan. Sementara anak yang dipuji karena prosesnya akan lebih termotivasi untuk melakukan sesuatu yang baru dan juga menantang.

  • Pujian Berlebihan

Terlalu banyak dipuji, bahkan untuk hal-hal yang tidak istimewa, akan membentuk pribadi anak yang narsistis. Ia merasa bisa melakukan apa saja dan tidak realistis dalam menilai diri sendiri.

  • Memuji sebagai Sindiran / Olok-olok

Seringkali tanpa sadar orangtua atau orang dewasa lain memberikan pujian pada anak untuk menyindir atau yang lebih buruk, sebagai olokan. Misalnya, “Wah, rapi sekali ini ya makannya, kayak ayam kalau makan!” Hal ini buruk bagi perkembangan mental anak, karena nantinya ia akan menganggap pujian sebagai suatu olokan, dan tumbuh menjadi pribadi yang selalu sinis.Yang lebih buruk, bisa saja ia akan meniru, mengolok-olok atau menyindir anak lain dengan cara yang sama.

Nah, memberikan pujian juga harus bijak ya Parents. Jangan sampai pujian yang kita berikan malah menjadi sesuatu yang negatif bagi anak.

Baca juga:

  1. Biang Onar Atau Hanya Mencari Perhatian?
  2. Biasa Memanjakan Anak? Pahami Dampak Buruknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *