Apa itu sindrom text neck?
Anak Ayah Family Health Ibu Parenting Remaja Usia Sekolah

Sindrom “Text Neck”: Penyakit Leher Abad 21

Pengguna ponsel pintar (smartphone) semakin lama semakin menjamur. Sekarang ini semua orang menggunakan smartphone bahkan tanpa batasan usia. Tua, muda, remaja, tak pernah lelah menggunakan smartphone dalam kesehariannya. Menurut wakil Ketua Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia Lee Kang Hyun, pengguna smartphone di Indonesia sendiri telah tumbuh menjadi 30-50% per tahun.

Dilansir dari kominfo.go.id, data pada tahun 2018 menunjukkan bahwa jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia telah meningkat sebanyak lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar ini ternyata Indonesia telah menduduki peringkat ke 4 setelah Cina, India dan Amerika sebagai negara pengguna smartphone terbesar.

Menurut sebagian besar ahli medis, fenomena ini cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, para ahli medis menemukan fakta lain yang muncul akibat banyaknya pengguna smartphone di dunia. Mereka menganggap bahwa kebanyakan penyakit leher yang dialami seseorang di abad 21 ini dikarenakan semakin banyak orang yang menggunakan smartphonenya. Dalam bahasa fisiologi, kondisi ini sering disebut dengan  sindrom “text neck”.

Apa itu Sindrom “Text Neck”?

Sindrom “text neck” adalah penyakit leher yang terjadi akibat penggunaan otot leher, otot punggung dan otot bahu yang berlebihan. Hal ini disebabkan akibat posisi menunduk yang terus menerus dilakukan seseorang dalam jangka waktu yang lama. Pada era sekarang ini, biasanya dilakukan seseorang pada saat sedang menggunakan ponsel.

Apa Saja Gejala Sindrom “Text Neck”?

Sindrom “text neck” memiliki beberapa gejala yang bisa Anda amati pada diri Anda sendiri atau pada anak-anak di rumah, misalnya:

√ Pegal di area leher atau punggung bagian atas, terutama saat menggunakan smartphone.

√ Rasa kaku di bagian bahu.

√ Nyeri seperti ditusuk-tusuk  di area leher dan bahu, terutama menjelang tidur di malam hari.

√ Sakit kepala yang timbul tenggelam dan sering dirasakan saat menggunakan smartphone.

√ Mati rasa di lengan.

√ Sesak napas akibat postur kepala yang terlalu ke depan saat menggunakan smartphone, sehingga menyebabkan 30% penurunan fungsi paru-paru.

Siapa Saja yang Bisa Mengalami Sindrom “Text Neck”?

Jangan pernah berpikir bahwa sindrom “text neck” ini hanya bisa dialami oleh orang dewasa yang kesehariannya lebih sering menggunakan smartphone untuk keperluan pekerjaan. Nyatanya sindrom “text neck” ini bisa saja menyerang berbagai macam usia, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.

Sebuah studi menemukan fakta bahwa anak-anak dan remaja rata-rata telah menghabiskan 5-7 jam sehari hanya dengan membaca pesan SMS, chat pada ponsel mereka. Semua kegiatan ini dilakukan dalam posisi leher yang menunduk (menekuk ke arah bawah).

Jika kondisi ini terus saja berlangsung maka, saat anak-anak berusia sekitar 20 atau 30 tahun, akan terjadi perubahan degeneratif pada postur tubuh mereka. Kemungkinan yang terjadi adalah anak-anak akan terlihat memiliki postur bungkuk pada usianya yang relatif masih muda di masa mendatang. Tak hanya itu, apabila sindrom “text neck” ini tidak mendapat perhatian dan penanganan yang tepat, maka kesehatan anak-anak akan terganggu. Mereka bisa saja lebih banyak mengkonsumsi obat-obatan atau menjalani operasi di usianya yang masih muda kelak.

Apa Saja Akibat dari Sindrom “Text Neck”?

Sebaiknya jangan menganggap remeh sindrom “text neck” yang disebabkan karena penggunaan smartphone yang terlalu sering ini. Hal ini karena ada beberapa akibat berbahaya yang ditimbulkan oleh sindrom ini. Beberapa akibat tersebut antara lain:

√ Terjadi degenerasi tulang belakang di awal kehidupan.

√ Nyeri leher dan punggung kronis

√ Operasi di awal kehidupan

Bagaimana Mengatasi Sindrom “Text Neck”?

Maraknya penggunaan ponsel pintar yang membuat banyaknya orang mengalami sindrom “text neck” tentu bisa dicegah sekaligus diatasi dengan beberapa pola perilaku seperti:

  • Batasi Penggunaan Smartphone

Penting bagi Anda dan anak-anak untuk membatasi penggunaan smartphone. Jangan sampai Anda atau anak-anak menggunakannya secara berlebihan. Apalagi menggunakan smartphone dengan posisi leher yang menekuk ke bawah atau kepala yang menunduk.

Dilansir dari liputan6.com, menurut Patrick Kerr, seorang ahli kesehatan asal New York, saat postur seseorang berada pada kondisi tegak maka kepala akan seimbang dengan leher. Akan tetapi, saat kepala mulai menunduk maka kondisi kepala dan leher tidak akan seimbang. Kondisi inilah yang akan menimbulkan seseorang mengalami sindrom text neck.

Fakta lain, sebuah studi yang dilakukan oleh spesialis bedah tulang, Kenneth Hansraj di New York menemukan fakta bahwa berat kepala manusia sekitar 5-6 Kg pada posisi netral (tegak). Namun, berat kepala manusia ini akan bertambah sebanyak 14 kg pada saat posisi kepala menunduk pada sudut 15 derajat, 20 kg pada sudut 30 derajat, dan 30 kg pada saat kepala manusia menunduk 60 derajat.

Nah, Anda tentu bisa membayangkan berapa berat kepala yang harus ditopang oleh leher Anda tiap harinya jika terlalu sering menggunakan smartphone. Tentunya, tidak seringan kapas kan? Inilah kondisi yang bisa memperburuk sindrom text neck pada diri Anda dan mungkin juga pada anak-anak.

  • Pertahankan Posisi Smartphone Sejajar dengan Mata

Selain membatasi penggunaan smartphone, untuk mengatasi sindrom text neck, maka usahakan untuk selalu mempertahankan posisi smartphone Anda sejajar dengan mata.

Artinya, hindari posisi menunduk pada saat melihat, membaca bahkan mengetik pesan di smartphone Anda. Jangan lupa terapkan aturan ini pada seluruh anggota keluarga di rumah termasuk anak-anak yang sudah cukup usia menggunakan smartphone secara mandiri.

  • Istirahat dari Penggunaan Smartphone

Langkah selanjutnya untuk mengatasi sindrom text neck adalah dengan selalu memberi jeda istirahat tiap kali menggunakan smartphone. Sebaiknya, lakukan istirahat setelah 20-30 menit penggunaan smartphone.

Letakkan smartphone Anda selama 2-3 menit untuk memberikan kesempatan otot leher, punggung dan bahu untuk berelaksasi. Apabila 2-3 menit dirasa kurang cukup, maka tambahkan saja durasinya.

  • Lakukan Peregangan Otot

Penting bagi Anda untuk melakukan peregangan otot setelah penggunaan smartphone cukup lama. Hal ini dilakukan untuk mengatasi sindrom text neck yang mungkin saja bisa Anda alami.

Cara yang cukup mudah untuk meregangkan otot adalah dengan menundukan dan mendongakan kepala secara bergantian. Lalu gelengkan kepala ke arah kanan dan kiri. Jangan lupa untuk memutar bahu searah dan berlawanan arah jarum jam secara bergantian untuk meregangkan otot bahu.

  • Manfaatkan Fitur Suara

Mengatasi sindrom text neck juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan fitur pesan suara (voice note) yang terdapat dalam smartphone Anda. Atau saat Anda sedang ingin melakukan pencarian pada Google, manfaatkan saja fitur pencarian via suara yang terdapat di mesin pencarian Google.

  • Ambil Kesempatan untuk Berbaring

Apabila leher atau bahu Anda sudah cukup nyeri karena menggunakan smartphone terlalu lama, maka langkah lainnya untuk mengatasi sindrom “Text Neck”  adalah dengan berbaring. Sebaiknya ambil kesempatan sekitar 5-10 menit untuk berbaring. Cara ini cukup mampu mengurangi nyeri pada area leher, bahu dan punggung Anda.

  • Segera Hubungi Dokter

Apabila sakit atau nyeri di punggung, bahu atau leher Anda semakin menjadi-jadi, maka saatnya mengunjungi dokter. Dokter atau ahli medis lainnya akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menangani sindrom text neck yang sedang Anda alami. Anda tidak perlu takut dengan perawatan atau terapi yang mungkin saja Anda lakukan atas saran dokter. Semakin cepat terapi dan pengobatan dijalani, maka semakin sedikit resiko atau akibat yang terjadi pada kesehatan Anda.  

Sindrom text neck bisa dialami oleh siapa saja termasuk oleh anak-anak. Sehingga penting bagi Anda untuk membatasi penggunaan smartphone pada anak tiap harinya. Langkah ini tidak hanya akan menghindarkan anak-anak dari sindrom text neck, akan tetapi juga menghindarkan anak dari bahaya penggunaan smartphone lainnya.

Artikel terkait:

  1. Jangan Lengah Parents, Ini Bahayanya Anak Bermain Gadget
  2. Ketika Anak Telah Kecanduan Gadget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *