
{"article":[{"post_id":16265,"post_title":"Bagaimana Mengatasi Social Anxiety di Acara Keluarga?","post_link":"https://schoolofparenting.id/bagaimana-mengatasi-social-anxiety-di-acara-keluarga/","post_image":"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2023/04/feature-image-02-1.jpg","post_date":"2023-04-14","post_cat":"Aku dan Diriku","post_cat_slug":"aku-dan-diriku","post_excerpt":"Siapa yang malah cemas dan enggan pergi ke acara keluarga?\u00a0Anak-anak mungkin banyak yang merasa cemas atau malah rewel ketika diajak ke acara kumpul keluarga, namun cukup banyak orang dewasa yang suka bahkan menantikan acara gathering atau reuni keluarga besar.\u00a0 Namun, sebagian lagi dari kita ada yang alih-alih semangat, malah seringkali sibuk mencari banyak alasan untuk [&hellip;]","post_content":"<p>Siapa yang malah cemas dan enggan pergi ke acara keluarga?<span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0</span><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak mungkin banyak yang merasa cemas atau malah rewel ketika diajak ke acara kumpul keluarga, namun cukup banyak orang dewasa yang suka bahkan menantikan acara <em>gathering</em> atau reuni keluarga besar.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sebagian lagi dari kita ada yang alih-alih semangat, malah seringkali sibuk mencari banyak alasan untuk melewatkan acara keluarga. Tenang, Anda tidak sendiri, mengalami kecemasan sosial atau Social Anxiety adalah hal umum yang dialami cukup banyak orang.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian orang, acara keluarga adalah waktu yang menyenangkan\u2013 kerabat berkumpul dari jauh untuk berkumpul, makan, minum, dan bergembira. Di sisi lain yang sebenarnya ada ipar atau seorang tante kita yang sering menanyakan soal perkembangan anak atau membanggakan karir anaknya. Atau sepupu jauh ibu yang sering menanyakan pertanyaan yang sama setiap tahun seperti, \u201c<em>kapan nikah?</em>\u201d\u00a0</span><span style=\"font-weight: 400;\">Itu semua bisa membuat \"reuni keluarga yang indah\" menjadi salah satu saat paling </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stressfu</span></i><span style=\"font-weight: 400;\">l dalam setahun. Dan itu membuat kita merasa cemas sebelum, selama, dan setelah pertemuan keluarga.\u00a0</span>Mengapa pertemuan keluarga kerap membuat stres?</p>\n<h4><strong>Penyebab Stres di Pertemuan Keluarga</strong></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita masing-masing adalah pribadi yang unik dan banyak dinamika dalam keluarga yang kompleks membuat pertanyaan ini sulit dijawab, tetapi ada beberapa alasan umum mengapa pertemuan keluarga dapat menyebabkan stres:\u00a0</span></p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Beda nilai dan pendapat</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ada berbagai tingkat keterampilan komunikasi dan penggunaan empati</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kesenjangan sudut pandang antar generasi</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Perasaan negatif dari pengalaman masa lalu</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Topik yang muncul dalam percakapan yang</span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> triggering</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> (pemicu adalah sesuatu yang memunculkan ingatan yang menyakitkan dan seringkali membuat stres)</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tingkat kenyamanan yang berbeda dalam berbagi informasi pribadi tentang kehidupan seseorang (misalnya pasangan, kehidupan keluarga, atau karier seseorang)</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Merasa tidak nyaman di sekitar seseorang berdasarkan cara mereka berbicara atau bertindak di masa lalu</span></li>\n</ul>\n<h4><b>Apa itu Social Anxiety?</b></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Social Anxiety atau kecemasan sosial adalah gangguan di mana seseorang akan sepenuhnya menghindari interaksi dengan orang lain jika merasa terlalu cemas, stres, atau tidak nyaman dalam situasi sosial.</span><span style=\"font-weight: 400;\"> Terutama di lingkungan sosial, orang dengan</span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> social anxiety</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> mungkin mengalami gejala seperti:</span></p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peningkatan detak jantung</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berkeringat berlebihan</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kesulitan bernapas</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mual atau muntah</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Diare</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ketegangan otot</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penurunan kesadaran</span></span></span>&nbsp;</li>\n</ul>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun perasaan tidak nyaman sesekali dalam situasi sosial adalah normal, namun </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social anxiety</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan menjadi masalah ketika membuat seseorang tidak dapat menjalankan tanggung jawab sehari-hari.</span></p>\n<p>&nbsp;</p></blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa orang juga mungkin mengalami gejala gangguan kecemasan yang tersembunyi tanpa disadari.</span></p>\n<p><img class=\"alignnone size-full wp-image-16268\" src=\"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2023/04/infografis-03-e1681452369175.jpg\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"948\" /></p>\n<h4><b>Cara Mengatasi </b><b><i>Social Anxiety</i></b><b> di Acara Keluarga</b></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita mengalam</span><i><span style=\"font-weight: 400;\">i social anxiety</span></i><span style=\"font-weight: 400;\">, bukan berarti kita perlu selalu menghindari acara keluarga atau pesta ataupun acara dengan banyak orang. Untuk menghadapi kecemasan itu, ada hal-hal yang bisa kita lakukan:\u00a0\u00a0</span></p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Buat Rencana</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu strategi terbaik untuk mengatasi gangguan kecemasan sosial pada pertemuan keluarga adalah memiliki rencana. Membuat daftar hal-hal dan orang-orang yang harus Anda hindari dapat mencegah Anda terjebak dalam situasi yang tidak nyaman. Anda juga dapat menulis daftar topik yang Anda rasa nyaman untuk dibicarakan.</span></p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Kenali Lokasi untuk Menemukan \u2018Safe Place\u2019\u00a0</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketahui ke mana Anda akan pergi sebelumnya dan pilih tempat di lokasi tersebut yang dapat menjadi \u201c</span><i><span style=\"font-weight: 400;\">safe place</span></i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d yang dapat dikunjungi ketika Anda merasa kewalahan. Pilih lokasi alternatif untuk menjauh sejenak saat di acara keluarga, di mana Anda bisa menenangkan diri tanpa ada yang mengganggu.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, lokasi di sebuah gedung, mungkin ada kafe terdekat di seberang atau samping gedung, di mana Anda bisa duduk sebentar untuk menenangkan diri. Atau jika tidak memungkinkan, pelajarilah lokasi toilet atau mushola yang ada di gedung tersebut, yang mungkin bisa Anda gunakan untuk meredakan rasa cemas.\u00a0</span></p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Jangan Terlalu Memikirkan Komentar Negatif\u00a0</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak dari kita memiliki satu anggota keluarga yang suka terlalu banyak mengkritik. Meskipun ini salah di pihak mereka,kita tidak memiliki kendali atas tindakan atau kata-kata orang lain. Kuncinya adalah tidak memasukkan komentar negatif ke dalam hati. Ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, tetapi jika berhasil melakukannya, ini dapat mengurangi perasaan cemas.</span></p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Jangan <i>Overthinking</i> Karena Itu</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adalah hal umum bagi orang-orang dengan</span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> social anxiety </span></i><span style=\"font-weight: 400;\">untuk terlalu memikirkan situasi sampai terlalu jauh. Hindari membuat skenario palsu di pikiran Anda. Bersiaplah untuk yang terburuk, tetapi jangan mendramatisir. Semakin positif pikiran Anda, semakin baik.</span></p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Obrolan Ringan Bukanlah \u201cMusuh\u201d Anda</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obrolan ringan bisa terasa canggung, tetapi ini hal yang baik untuk situasi sosial yang melibatkan orang yang tidak Anda kenal. Obrolan ringan adalah cara yang bagus untuk berkenalan kembali dengan anggota keluarga yang sudah lama tidak Anda temui atau seseorang yang ingin Anda kenal lebih baik. Jangan merasa tertekan untuk selalu tahu harus berkata apa, nikmati saja percakapan yang terjadi secara alami.</span></p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Bicara Tentang Hal-Hal yang Anda Sukai</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menangani kecemasan sosial di pertemuan keluarga lebih mudah saat Anda membicarakan sesuatu yang Anda sukai. Itu bisa tentang hewan peliharaan,fashion,hobi, atau film yang baru saja Anda tonton, jangan takut membicarakan hal-hal yang membuat Anda bahagia.</span></p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><b>Buat Batasan</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak dari kita memiliki kerabat usil yang mengajukan terlalu banyak pertanyaan yang sangat pribadi. Jika Anda terjebak dalam situasi dengan orang tersayang yang terlalu banyak bicara, Anda tidak berkewajiban untuk menjawab pertanyaan mereka. Arahkan percakapan dengan sopan ke arah yang berbeda atau beri tahu mereka bahwa Anda lebih memilih tidak memberi jawaban.</span></p>\n<p>&nbsp;</p>\n<p><strong>Baca juga :</strong></p>\n<ol>\n<li><strong><a href=\"https://schoolofparenting.id/kecemasan-serangan-panik-itu-sama/\">Kecemasan dan Serangan Panik itu Sama?</a></strong></li>\n<li><strong><strong><a href=\"https://schoolofparenting.id/kuis-apa-tipe-introvertmu/\">Kuis : Apa Tipe Introvertmu?</a></strong></strong></li>\n</ol>\n<h4><b>Bagaimana Mengatasi Social Anxiety Lebih Lanjut ?\u00a0</b></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa pun yang memiliki </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social anxiety </span></i><span style=\"font-weight: 400;\">harus menerima perawatan profesional untuk belajar tidak hanya bagaimana menangani kecemasan sosial di pertemuan keluarga tetapi juga</span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> coping strategy</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sehat dan efektif.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendapatkan bantuan dari profesional seperti psikolog dapat mencegah Anda mengalami berbagai efek kecemasan pada tubuh. Jika ada teman atau orang terdekat Anda yang mengalaminya, dukung dan bantu mereka untuk mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan.Yang juga penting adalah memahami mereka dengan memberikan suasana pembicaraan yang nyaman.</span></p>\n"},{"post_id":16262,"post_title":"Kuis : Apa Cara Memaafkanmu?","post_link":"https://schoolofparenting.id/kuis-apa-cara-memaafkanmu/","post_image":"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2023/04/feature-image-.png","post_date":"2023-04-13","post_cat":"Aku dan Diriku","post_cat_slug":"aku-dan-diriku","post_excerpt":"Kita semua pernah berjuang untuk mengucapkan tiga kata itu, &#8220;aku memaafkanmu.&#8221; Tapi, ada dari kita yang bahkan tidak bisa bilang bahwa, &#8220;kamu menyakitiku&#8221; dan menutupinya dengan bilang, &#8220;tidak ada apa-apa kok.&#8221; Jadi, tipe yang manakah kamu? Bagaimana Menurut Anda? +1 55 +1 16 +1 3","post_content":"<p>Kita semua pernah berjuang untuk mengucapkan tiga kata itu, \"aku memaafkanmu.\"<br />\nTapi, ada dari kita yang bahkan tidak bisa bilang bahwa, \"kamu menyakitiku\" dan menutupinya dengan bilang, \"tidak ada apa-apa kok.\"</p>\n<p>Jadi, tipe yang manakah kamu?</p>\n<p>[wp_quiz_pro id=\"16259\"]</p>\n"},{"post_id":16203,"post_title":"Kuis : Seberapa Mudahkah Kamu Marah?","post_link":"https://schoolofparenting.id/kuis-seberapa-mudahkah-kamu-marah/","post_image":"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2023/04/Add-a-little-bit-of-body-text-46.png","post_date":"2023-04-03","post_cat":"Aku dan Diriku","post_cat_slug":"aku-dan-diriku","post_excerpt":"Kuis ini akan melihat bagaimana kamu bereaksi dalam situasi stres dan marah dengan menggunakan metode yang dikembangkan di Novaco Anger Inventory. Jawab pertanyaan di bawah ini dan dapatkan hasil tingkat kemarahanmu! Harap dicatat: Kuis ini tidak dimaksudkan untuk memberikan tingkat diagnosis atau saran yang dapat dilakukan oleh praktisi yang berkualifikasi. Jika kamu merasa tertekan atau [&hellip;]","post_content":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuis ini akan melihat bagaimana kamu bereaksi dalam situasi stres dan marah dengan menggunakan metode yang dikembangkan di Novaco Anger Inventory. Jawab pertanyaan di bawah ini dan dapatkan hasil tingkat kemarahanmu!</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harap dicatat: Kuis ini tidak dimaksudkan untuk memberikan tingkat diagnosis atau saran yang dapat dilakukan oleh praktisi yang berkualifikasi. Jika kamu merasa tertekan atau menderita kecemasan, kamu bisa konseling dengan psikolog di <a href=\"https://komunitas.schoolofparenting.id/tanyaahli\">tanya ahli</a> dan jika kamu ingin mengetahui lebih lanjut tentang emosi <a href=\"https://komunitas.schoolofparenting.id/vod/single/aku-dengan-gendongan-ransel-emosiku\">tonton video ini.</a><br />\n</span></p>\n<p>[wp_quiz_pro id=\"16197\"]</p>\n"},{"post_id":7232,"post_title":"Cara Minta Maaf ke Pasangan","post_link":"https://schoolofparenting.id/cara-minta-maaf-ke-pasangan/","post_image":"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2020/02/FEATURE-IMAGE-Minta-Maaf-Ke-Pasangan-Mudah-Tapi-Gengsi.png","post_date":"2023-03-30","post_cat":"Aku dan Pasanganku","post_cat_slug":"pasangan","post_excerpt":"Minta maaf seharusnya menjadi hal yang mudah. Meski mudah, banyak pasangan gengsi untuk minta maaf. Gimana sih cara minta maaf ke pasangan?","post_content":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerap kali bertengkar dengan pasangan, tapi berapa banyak yang diselesaikan dengan permintaan maaf selain saat Idul Fitri?\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minta maaf bisa dilakukan kapan saja, bahkan jika tidak ada hari spesial sekalipun. Mengingat, setiap hari kita seringkali berbeda pendapat dan bersitegang dengan pasangan. Maka, sudah seharusnya kita saling minta maaf dan memaafkan agar hubungan tetap berjalan dengan baik sebagai suami istri.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, tak banyak pasangan yang bersedia minta maaf dengan tulus Seringkali, baik suami atau istri merasa gengsi untuk minta maaf. Beberapa, merasa pasangan lah yang terlebih dahulu berbuat salah, sedangkan yang lain merasa bahwa kesalahan yang dilakukan akibat dari kesalahan pasangan. </span><b>Mengapa sulit untuk minta maaf?</b></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minta maaf tentu diperlukan dalam komunikasi antar pasangan, namun ketika pasangan atau mungkin kita sendiri enggan atau sulit untuk minta maaf, mari kita cari tahu apa penyebabnya:</span></p>\n<p><b>1.Khawatir Ditolak\u00a0</b></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seseorang mungkin enggan meminta maaf karena khawatir orang lain tidak akan menerima permintaan maafnya. Mungkin takut permintaan maaf mereka hanya akan membuka pintu untuk tuduhan dan konflik lebih lanjut. Mereka khawatir begitu mereka mengakui satu kesalahan, pasti orang akan menggunakan kesempatan itu untuk menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka yang lain yang sudah lewat.</span></p>\n<ol start=\"2\">\n<li><b> Merasa Buruk</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengakui kesalahan sangat mengancam bagi beberapa orang karena mereka kesulitan memisahkan tindakan dari karakter. Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, mereka merasa itu artinya pasti orang jahat; jika mereka lupa atau lalai, itu artinya egois dan tidak peduli; dll. Oleh karena itu, permintaan maaf merupakan ancaman besar bagi harga dirinya.\u00a0</span></p>\n<ol start=\"3\">\n<li><b> Rasa Malu</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih merasa bersalah, meminta maaf mungkin membuka pintu rasa malu bagi beberapa orang. Rasa bersalah bisa membuat kita</span><b> merasa buruk akan sebuah tindakan</b><span style=\"font-weight: 400;\">, sementara rasa malu membuat seseorang merasa buruk tentang dirinya\u2014 tentang siapa mereka \u2014 ini yang membuat rasa malu menjadi emosi yang jauh lebih beracun daripada rasa bersalah, dan membuat seseorang enggan meminta maaf</span></p>\n<ol start=\"4\">\n<li><b> Menolak Kedekatan Emosional\u00a0</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan menolak untuk meminta maaf, seseorang mencoba untuk mengatur emosi mereka. Bagi mereka yang \u201cterbiasa\u201d dengan kemarahan dan kerap menjaga jarak emosional,</span><b> meminta maaf artinya mengalami kedekatan emosional dan membuka kerentanan</b><span style=\"font-weight: 400;\">. Mereka takut itu akan menurunkan kewaspadaan dan akan membuat pertahanan psikologis mereka runtuh.\u00a0</span></p>\n<ol start=\"5\">\n<li><b> Tak Ingin Selalu Disalahkan</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seseorang mungkin takut bahwa dengan meminta maaf, mereka akan memikul tanggung jawab penuh dan membebaskan pihak lain dari kesalahan apa pun. Jika berdebat dengan pasangan, misalnya, mereka mungkin takut permintaan maaf akan membuat pasangannya lepas dari tanggung jawab dan ia harus terus mengaku sebagai pihak yang bersalah.</span></p>\n<h4><b>Bagaimana Memaafkan Seseorang yang Tidak Meminta Maaf?</b></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah studi tahun 2020 menunjukkan bahwa memaafkan punya efek terhadap kesejahteraan psikologis dan sosial yang lebih baik secara keseluruhan. Namun,memang tidak mudah untuk memaafkan, apalagi ketika seseorang yang Anda anggap bersalah tidak meminta maaf.\u00a0 Apa yang bisa kita lakukan dalam situasi ini ?</span></p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berdamai dengan keadaan</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Alihkan fokus ke diri Anda sendiri</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bertanggung jawab atas perasaan Anda</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Ambil langkah untuk diri sendiri\u00a0</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hindari merasa diremehkan</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memandang dunia dengan cinta<br />\n</span></li>\n</ol>\n<p><strong>Baca juga:</strong></p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https://schoolofparenting.id/jangan-lakukan-hal-ini-ketika-bertengkar-dengan-pasangan/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan Lakukan Hal Ini Ketika Bertengkar dengan Pasangan!</span></a></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https://schoolofparenting.id/pernikahan-hambar-setelah-ada-anak/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pernikahan \u201cHambar\u201d Setelah Ada Anak?</span></a></li>\n</ol>\n<h4><b>Bagaimana cara minta maaf ke pasangan?\u00a0</b></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak manfaat dari memaafkan dan meminta maaf yang mungkin belum pernah Anda ketahui sebelumnya. Karena itu maaf memang punya peranan penting dalam satu relasi.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita yang punya kesalahan dan merasa perlu meminta maaf kepada pasangan, bagaimana memulainya ? Beberapa langkah di bawah ini perlu diperhatikan saat ingin minta maaf pada pasangan.</span></p>\n<p><b>#Pertama: Akui Kesalahan\u00a0</b></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengakui kesalahan adalah langkah pertama yang perlu ditempuh saat ingin minta maaf pada pasangan. Tak hanya mengakui kesalahan, sebagai pihak yang bersalah, kita juga perlu bertanggung jawab dan belajar dari kesalahan tersebut. Dengan demikian, permintaan maaf kita akan terlihat tulus di mata pasangan.\u00a0</span></p>\n<p><b>#Kedua: Hindari Kalimat Pembelaan Diri</b></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minta maaf memang harus dengan sepenuh hati agar pasangan memaafkan kita. Sebaiknya, hindari kalimat pembelaan diri seperti \u201cAku minta maaf, tapi kan semua ini karena Ayah/Mamah\u2026\u201d atau \u201cAku tau aku salah\u00a0 tapi semua ini karena kamu juga\u2026\u201d.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada menggunakan kalimat pembelaan, lebih baik gunakan kalimat seperti \u201cAku minta maaf karena (sebutkan kesalahan kita) dan aku sangat menyesal membuatmu merasa (kecewa/sedih/marah, dsb)\u201d</span></p>\n<p><b>#Ketiga: Hindari Menyalahkan Pasangan di Tengah Permintaan Maaf</b></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini seringkali kita lakukan saat minta maaf, yaitu menyelipkan kesalahan pasangan di tengah permintaan maaf. Sebaiknya, fokus pada diri sendiri terlebih dahulu saat minta maaf. Jika ada hal yang mengganjal di hati karena pasangan tak sepenuhnya benar, maka bisa didiskusikan di lain kesempatan.</span></p>\n<p><b>#Keempat: Bersiap Jika Tidak Dimaafkan</b></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun kita sudah bersungguh-sungguh minta maaf, kadang-kadang pasangan tidak mudah memaafkan kita. Sebaiknya bersiaplah dengan\u00a0 jawaban \u201ctidak\u201d dari pasangan. Terlebih jika kesalahan yang dilakukan cukup berat.\u00a0</span></p>\n<p><b>#Kelima: Beri Pasangan Waktu untuk Memproses Permintaan Maaf</b></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langkah ini sangat berkaitan dengan poin sebelumnya. Sebaiknya, berikan pasangan waktu untuk memaafkan kita dan hindari memaksanya untuk memaafkan. Dalam tahap ini, kita memang harus menunggu dan bersabar.</span></p>\n<p><b>#Keenam: Hindari Melakukan Kesalahan yang Sama</b></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minta maaf dengan tulus saja tidak cukup. Kita wajib menghindari melakukan kesalahan yang sama. Jika kita terus saja melakukan kesalahan yang sama dan kemudian meminta maaf setelahnya, pasangan\u00a0 akan berpikir bahwa semua permintaan maaf tersebut tak ada gunanya. Jadi, jangan salahkan pasangan jika dia tak menerima permintaan maaf kita di lain kesempatan.\u00a0</span></p>\n<p><b>#Ketujuh: Maafkan Diri Sendiri\u00a0</b></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seringkali </span><a href=\"https://schoolofparenting.id/rasa-bersalah-ibu-itu-wajar-dialami-tapi-harus-diakhiri/\"><span style=\"font-weight: 400;\">kita merasa sangat bersalah</span></a><span style=\"font-weight: 400;\">, tapi memaafkan diri sendiri juga sangatlah penting. Ingatlah, bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan, jadi berusaha untuk memaafkan diri sendiri adalah langkah yang bijak.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minta maaf memang tak hanya dilakukan di hari-hari spesial. Minta maaf kepada pasangan bisa kita lakukan segera setelah kita melakukan kesalahan. Tak hanya minta maaf di mulut saja, sebaiknya ucapan maaf juga diimbangi dengan keinginan untuk berubah dan berusaha tidak melakukan kesalahan yang sama.\u00a0</span></p>\n<p><b>Jadi, sudahkah Anda minta maaf pada pasangan hari ini? Jika belum, yuk kita pahami dulu bahasa permintaan maaf pada pasangan melalui kelas online berikut ini. Klik poster untuk pendaftaran!</b></p>\n"},{"post_id":16155,"post_title":"Bersahabat dengan Diri Kecilku","post_link":"https://schoolofparenting.id/bersahabat-dengan-diri-kecilku/","post_image":"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2023/03/Add-a-little-bit-of-body-text-40.png","post_date":"2023-03-27","post_cat":"Aku dan Diriku","post_cat_slug":"aku-dan-diriku","post_excerpt":"Selama kurang lebih 30 tahun belakangan, saya hidup dengan rasa takut yang intens. Rasa takut yang tidak bisa saya telusuri asal mulanya, namun sangat melekat hingga dewasa. Rasa takut akan bahaya, kehilangan, hingga kematian. Musim hujan serta berada di kegelapan adalah saat-saat paling triggering untuk memantik ketakutan itu. Suatu sore, saya sedang tidur bersama dengan [&hellip;]","post_content":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama kurang lebih 30 tahun belakangan, saya hidup dengan rasa takut yang intens. Rasa takut yang tidak bisa saya telusuri asal mulanya, namun sangat melekat hingga dewasa. Rasa takut akan bahaya, kehilangan, hingga kematian.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musim hujan serta berada di kegelapan adalah saat-saat palin</span><i><span style=\"font-weight: 400;\">g triggering</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk memantik ketakutan itu. Suatu sore, saya sedang tidur bersama dengan anak-anak, lalu tiba-tiba jantung saya berdebar-debar dan tubuh saya lemas. Saya spontan bergumam, \u201cApa yang akan terjadi? Apakah sesuatu yang buruk? Orang akan meninggal?\u201d</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman fisik dan sekaligus batin seperti ini, saya dapatkan pertama kali saat almarhum oma saya meninggal. Saat itu, hari sudah malam dan saya bersama mama dan adik saya menuju rumah karena kami baru saja kembali dari rumah sakit tempat almarhum oma dirawat. Di becak menuju rumah, tubuh saya lemas. Sesampainya kami di rumah, saya,adik dan mama beristirahat. Saat itu, Papa berada di rumah sakit menemani Oma.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak lama sejak kami tiba di rumah, pintu rumah kami diketuk cepat oleh salah seorang tetangga kami. Kami bertiga diberitahu bahwa Oma sudah meninggal. Lalu, Mama saya berucap, \u201cWah, yang kamu alami di becak tadi adalah pertanda Oma mau meninggal,Nin.\u201d</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ucapan Mama itu menubuh dalam diri dan ingatan saya dan terus dipeluk oleh batin sampai hari ini. Saya percaya akan ucapan mama saya. Kini, bertahun setelah hari itu, jika tubuh saya mengeluarkan \u201csinyal\u201d seperti yang terjadi di becak berpuluh tahun lalu itu, saya ketakutan dan mengira akan ada seseorang yang akan meninggal.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembali ke cerita di sore hari saat saya beristirahat dengan kedua anak saya. Saya memutuskan untuk keluar kamar daripada </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">overthinking</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> memikirkan sinyal tadi. Tak lama, suami saya pulang. Saya kaget, karena belum waktunya dia tiba di rumah seperti biasanya. Danang, suami saya dengan wajah sayu dan di tangannya ada seplastik rujak yang dibelinya untuk saya, berkata, \u201cSaya sakit\u201d</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh Tuhan! Apa yang terjadi dengan suami saya?</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bertahun setelah dilabeli bahwa saya bisa merasakan apabila seseorang akan meninggal atau mengalami sesuatu, saya berusaha memblokir segala upaya untuk tidak terjebak dalam kemalangan, seperti penyakit, hingga kematian.</span></p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, saya tahu, bagaimana kita dapat lari dari kematian, padahal hidup kita ini kan memang berjalan menuju kematian? Sebagaimana daun di permukaan aliran sungai--menelusuri arus kehidupan yang kematian adalah muaranya.</span></p></blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga hari sudah suami saya sakit. Demam masih menempel di badannya. Ada seribu macam pikiran yang menari-nari di kepala saya. \u201cBagaimana jika suami saya meninggal?</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah saya akan siap?\u201d\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga pikiran \u201cBagaimana kalau nanti saya yang meninggal duluan? Dan salah satu pikiran \u201cgila\u201d saya adalah \u201cBgaimana jika saya yang terlihat sehat-sehat saja, tiba-tiba mengidap sebuah penyakit\u00a0 seperti kanker?\u201d</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru-baru ini saya melihat sebuah akun Instagram. Saya tidak kenal orang yang memiliki akun tersebut. Namun demikian, beberapa hari belakangan, saya intens melihat story nya. Mengapa? Karena dia mengidap kanker.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus kenapa? Nah, sebelumnya saya mengikuti kisah-kisahnya. Dia adalah salah satu selebgram yang saya idolakan. Dia seorang petani kota yang terlihat menjalani pola hidup sehat dengan makan sayur- sayuran, buah-buahan dari kebunnya.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya dia sakit, yaitu batuk berkepanjangan dan demam. Mata saya langsung terbelalak melihat suami saya sedang sakit demam dan sudah tiga hari tidak juga pulih. Kecemasan, ketakutan, pikiran intens saya pun kembali aktif. Ada apa dengan saya? Mengapa rasa takut di dalam, bercampur dengan peristiwa di luar. Sampai-sampai saya merasa bahwa saya tidak betul-betul hadir di saat ini.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari setelah suami saya sakit, giliran saya dan anak kami yang sakit. Rupanya kami mengidap COVID saat itu. Dan lagi-lagi saya sudah jauh memikirkan kemungkinan yang paling buruk.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi saya perlu hadir untuk keluarga. Saya perlu merasa bahwa anak-anak saya, suami saya, dan saya sendiri dilindungi oleh Sang Kuasa. Akhirnya saya berpikir bahwa tidak ada satu kuasa pun dalam diri saya yang berhak untuk menggantikan peran Yang Maha Kuasa. Ada banyak hal yang bisa saya kendalikan, namun ternyata juga banyak yang harusnya saya pasrahkan.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin saya bukan satu-satunya yang memiliki ketakutan berlebih ini. Mungkin kamu juga mengalaminya. Jika iya, kenapa kita tidak berhenti sejenak. Kita nikmati kehadiran diri dan orang-orang tersayang di masa kini.</span></p>\n<p>Penulis<br />\n<span style=\"font-weight: 400;\">Nyssa Janice</span><br />\nKawan School of Parenting</p>\n"},{"post_id":11282,"post_title":"Menghadapi Anak yang Tidak Bisa Menerima Kekalahan (Overly-Competitive)","post_link":"https://schoolofparenting.id/menghadapi-anak-yang-tidak-bisa-menerima-kekalahan-overly-competitive/","post_image":"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2021/08/feature-image-07-1.jpg","post_date":"2023-03-16","post_cat":"Aku dan Anakku 5-10 Tahun","post_cat_slug":"anak-usia-5-10-tahun","post_excerpt":"Anak sering tantrum saat kalah di suatu kompetisi? Mari ajarkan anak berbesar hati menghadapi kekalahan dengan cara berikut ini.","post_content":"<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang anak berusia 9 tahun memainkan game <em>Candy Crush</em>, gagal berulang kali, lalu ia membanting ponselnya.\u00a0</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang anak berusia 6 tahun bermain\u00a0 dengan dua saudaranya, ia kalah dan berlari mengadu ke ibunya bahwa saudaranya curang.\u00a0</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang anak 14 tahun keluar dari klub basket karena pelatihnya memintanya untuk lebih bekerja sama dengan teman satu timnya dan ia tampak sering \u201cmain sendiri\u201d.\u00a0</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang anak berusia 18 tahun menolak untuk kuliah karena ia gagal di ujian masuk di satu universitas idamannya.\u00a0</span></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah Parents pernah menjumpai kasus-kasus ini ?</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benarkah mereka anak-anak yang tidak bisa menerima kekalahan ?\u00a0</span></p>\n<h4><b>Efek Positif Kompetisi\u00a0</b></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi pemenang dan momen kemenangan memang memiliki efek positif dan akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi banyak anak. Pun bisa menjadi motivasi mereka untuk lebih berkembang.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kompetisi dapat membantu anak Anda terus mendorong kemampuannya dan melakukan yang terbaik. Memiliki satu tujuan adalah pendorong kepercayaan diri yang sangat besar. Ditambah lagi, mereka belajar bahwa dibutuhkan kerja keras untuk terus mencapai tujuan mereka.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kerap dijumpai anak-anak yang mudah menyerah, enggan bersaing lagi setelah kalah, dan ada pula yang tidak bisa menerima kekalahan sehingga melampiaskannya dengan cara negatif.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, penting untuk memahami apa yang membuat anak menjadi kompetitif, bagaimana mendorong persaingan yang sehat, dan bagaimana mengelola anak yang sangat kompetitf </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">(overly-competitive</span></i><span style=\"font-weight: 400;\">) .</span></p>\n<h4><b>Tanda-tanda Anak Anda Mungkin Over-Kompetitif</b></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak sulit untuk melihat anak-anak yang sangat kompetitif, berikut beberapa petunjuknya:</span></p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\" aria-checked=\"false\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka cenderung kritis secara negatif tentang diri mereka sendiri.</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\" aria-checked=\"false\"><span style=\"font-weight: 400;\">Anak Anda pamer tentang diri mereka sendiri saat mereka punya kesempatan untuk melakukannya.</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\" aria-checked=\"false\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menganggap curang untuk menang bukan sebagai hal yang buruk.</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\" aria-checked=\"false\"><span style=\"font-weight: 400;\">Anak tidak memiliki rasa hormat terhadap teman atau lawannya dalam kompetisi.</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\" aria-checked=\"false\"><span style=\"font-weight: 400;\">Anak berusaha keras untuk menjadi yang terbaik.</span></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\" aria-checked=\"false\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka mengamuk, membalas, atau merengek ketika mereka tidak menang.</span></li>\n</ul>\n<h4><b>Yang Sebaiknya Dilakukan</b></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>1. Fokus pada hal positif</strong>\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tunjukkan cinta dan dukungan tanpa syarat kepada anak Anda ketika mereka kalah. Ini akan membantu mereka kalah dengan positif. Ajari mereka bahwa berusaha dan mencoba lebih penting daripada sekadar menang.\u00a0</span></p>\n<p><strong>2. Contohkan bagaimana menang atau kalah yang positif\u00a0</strong></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadilah contoh dan tunjukkan kepada mereka bagaimana mengendalikan emosi mereka \u2013 saat kalah ataupun menang. Puji usaha anak Anda dan bantu mereka memahami pentingnya menghormati peserta lain dan juga menghargai usaha kompetitornya.\u00a0</span><span style=\"font-weight: 400;\">Menang dengan rendah hati dan kalah dengan sportif adalah kunci.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>3. Carilah kesempatan untuk mengajar</strong>\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gunakan hal-hal yang dapat mereka amati di dunia sekitar untuk membuat mereka melihat kerugian menjadi over-kompetitif. Bantu mereka untuk memahami bahwa tidak layak merusak hubungan pribadi atau melukai hanya untuk menjadi pemenang.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>4. Ajari anak Anda fokus yang tepat untuk kompetisi</strong>\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puji upaya mereka, bukan hasilnya. Bantu mereka menghubungkan kesuksesan mereka dengan usaha untuk melakukan yang terbaik secara personal.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>5. Biarkan anak Anda menjalani kehidupan mereka sendiri</strong>\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biarkan mereka memilih kegiatan apa yang ingin mereka kejar dan pada tingkat apa mereka ingin bersaing. Kemudian mereka bisa bangga dengan keberhasilan diri sendiri dan belajar dari kekalahannya.</span></p>\n<p><img class=\"alignnone wp-image-16119 size-full\" src=\"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2021/08/infografis-06-2-e1678971824981.jpg\" alt=\"overly competitive\" width=\"500\" height=\"889\" /></p>\n<p>&nbsp;</p>\n<h4><b>Yang Perlu Dihindari</b></h4>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Jangan mengukur kesuksesan pengasuhan Anda dengan apa yang dicapai anak</strong>\u00a0</span></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parents mungkin tergoda untuk memaksakan ide sendiri pada anak dan menganggap keberhasilan anak sebagai tolok ukur kesuksesan pola asuh. Tetapi ini bukanlah hal yang bijak, dan berpeluang mengganggu kesehatan mental anak-anak</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>2. Jangan biarkan persetujuan Anda bergantung pada kesuksesan mereka</strong>\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan pernah membuat anak Anda merasa bahwa kasih sayang orang tuanya bergantung pada bagaimana mereka jadi lebih baik dari orang lain. Membebani anak dengan tuntutan semacam ini dapat menyebabkan mereka menghindar dari aktivitas apapun yang mereka pikir akan membahayakan posisinya.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>3. Jangan mendorong untuk menyombongkan diri</strong>\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berhati-hatilah dalam berbicara tentang prestasi anak atau pencapaian Anda sendiri. Jika mereka mendengar Anda membual tentang mengalahkan orang lain, mereka mungkin belajar untuk meniru itu. Ajari mereka untuk bangga dengan pencapaian mereka, tetapi tidak perlu menertawakan orang lain.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>4. Jangan mendorong persaingan</strong>\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini mungkin seperti hal yang remeh, tetapi membujuk anak-anak Anda ke dalam perlombaan dengan saudaranya -- untuk membersihkan mainan misalnya, akan mendorong persaingan. Sebaliknya, pujilah pencapaian anak Anda \u2013 pujilah mereka untuk sesuatu yang spesifik \u2013 tanpa mengadu domba mereka dengan orang lain apalagi dengan saudaranya.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi terlalu kompetitif dapat menyebabkan anak Anda melihat semua orang sebagai ancaman dan hambatan untuk tujuan mereka. Mungkin juga membuat mereka berpikir bahwa satu kegagalan saja bisa membuat mereka tidak akan pernah sukses dalam hidup mereka. Ini bukan pandangan yang sehat.\u00a0</span><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, jelaskan kepada mereka \u2013 persaingan bukanlah segalanya dan kekalahan bukanlah akhir dari dunia.\u00a0</span></p>\n<p>&nbsp;</p>\n<p><strong>Baca Juga:</strong></p>\n<ol>\n<li><a href=\"https://schoolofparenting.id/mental-anak-kuat-dengan-kompetisi-sehat/\">Mental Anak Kuat dengan Kompetisi Sehat</a></li>\n<li>\u00a0<a href=\"https://schoolofparenting.id/atasi-iri-hati-yang-menjangkiti-anak/\">Atasi Iri Hati yang \"Menjangkiti\" Anak</a></li>\n</ol>\n"},{"post_id":4878,"post_title":"High Functioning Depression: Depresi Yang Sulit Dideteksi, Mungkin Anda juga Mengalami","post_link":"https://schoolofparenting.id/high-functioning-depression-depresi-yang-sulit-dideteksi-mungkin-anda-juga-mengalami/","post_image":"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2020/05/feature-image-02.jpg","post_date":"2023-03-14","post_cat":"Aku dan Diriku","post_cat_slug":"aku-dan-diriku","post_excerpt":"Sinta (35) tahun, seorang Ibu yang bekerja, selalu menghabiskan waktunya dengan berbagai macam aktivitas setiap harinya. Mulai dari mengurus keperluan anak, suami, pekerjaan kantor, hingga tak lupa masih menyempatkan diri bersosialisasi dengan teman-teman sekantor. Tak ada yang aneh jika seseorang melihat aktivitas yang dilakukan oleh Sinta setiap harinya. Ia masih sangat terlihat bahagia, tertawa, dan [&hellip;]","post_content":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sinta (35) tahun, seorang Ibu yang bekerja, selalu menghabiskan waktunya dengan berbagai macam aktivitas setiap harinya. Mulai dari mengurus keperluan anak, suami, pekerjaan kantor, hingga tak lupa masih menyempatkan diri bersosialisasi dengan teman-teman sekantor. Tak ada yang aneh jika seseorang melihat aktivitas yang dilakukan oleh Sinta setiap harinya. Ia masih sangat terlihat bahagia, tertawa, dan sering bercanda dengan anak-anak dan suaminya. Semua nampak wajar di mata orang lain.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, tak begitu bagi Sinta. Entah mengapa beberapa hari belakangan ini dia merasakan hal berbeda. Ia merasa sangat hampa. Anehnya, rasa hampa yang dirasakan oleh Sinta, bukan karena ia merasa sedih atau marah. Sinta bahkan merasa tidak ada hal yang benar-benar membuatnya sedih karena keluarga, karir dan kehidupan pertemanannya nampak baik-baik saja dan cenderung tidak ada masalah berarti.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada awalnya Sinta merasa hal ini mungkin karena kelelahan semata dan akan hilang setelah ia tidur atau cukup beristirahat. Namun ternyata perasaan hampa yang dirasakannya terus muncul hingga berbulan-bulan. Sinta bahkan tidak tahu, apa yang sedang terjadi pada dirinya, hingga salah satu teman dekatnya mengatakan bahwa mungkin dirinya sedang mengalami depresi.</span></p>\n<h3><b>Benarkah Demikian?</b></h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang dialami dan dirasakan oleh Sinta mungkin juga sedang Anda alami saat ini. Merasa bahwa, karir, keluarga dan kehidupan sosial Anda terlihat baik-baik saja atau malah sedang luar biasa, namun jauh dalam lubuk hati Anda justru merasa hampa. Kondisi seperti ini juga dialami oleh Caroline Shannon-Karasik, seorang penulis dan aktivis asal Amerika Serikat seperti yang dilansir dari dari tirto.id.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam esainya, Karasik mengaku bahwa dirinya pernah mengalami depresi di sebagian besar masa dewasanya. Namun demikian, Karasik mengaku ia masih sangat produktif dan menjalani aktivitas layaknya orang \u201cnormal\u201d lainnya. </span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karasik menjelaskan bahwa depresinya seakan hilang saat ia sedang menjalani aktivitas, namun kembali muncul saat ia selesai dengan rangkaian aktivitas sehari-harinya.</span></p>\n<p><b>Para ahli pun menggolongkan apa yang dialami oleh Sinta dan Karasik termasuk ke dalam </b><b><i>high functioning depression</i></b><b> (HFD).</b></p>\n<h3><b>Apa itu </b><b><i>High Functioning Depression</i></b><b> (HFD)?</b></h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">HFD sendiri adalah sebutan bagi seseorang yang mengalami depresi ringan dan tidak tergolong dalam gangguan mental definitif. HFD memang tidak tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, yaitu buku panduan bagi seseorang yang berprofesi dalam bidang kesehatan mental.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para ahli menggunakan istilah HFD untuk menggolongkan seseorang dengan gangguan kecemasan, keletihan dan gangguan suasana hati. Biasanya, seseorang yang mengalami HFD merasa tidak bahagia tapi belum sepenuhnya tergolong seseorang yang mengalami depresi.</span></p>\n<h3><b>Bagaimana Mendeteksi HFD?</b></h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada tes khusus untuk mendeteksi HFD pada seseorang karena HFD tidak tergolong dalam gangguan mental definitif. Satu-satunya hal yang bisa menggolongkan seseorang sedang mengalami HFD ada diagnosa secara subjektif yang dilakukan oleh para ahli kejiwaan (psikolog). Menurut Prof. Steven Huprich dari University of Detroit Mercy, salah satu tanda seseorang mengalami HFD adalah saat ia merasakan ada perasaan negatif yang mempengaruhi kesehariannya.</span></p>\n<p>&nbsp;</p>\n<h3><b>Jangan Remehkan HFD!</b></h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun tergolong depresi ringan, HFD bisa berkembang menjadi depresi yang lebih kronis jika dibiarkan tanpa penanganan. Oleh karena itu, seseorang yang mengalami HFD perlu melakukan rangkaian treatment seperti para penderita depresi lainnya. Rangkaian treatment ini tentunya dalam pengawasan psikolog dan para ahli kesehatan mental lainnya.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, kecenderungan masyarakat yang menganggap bahwa seseorang yang memeriksakan diri ke psikolog adalah hal yang memalukan, ternyata masih sangat tinggi. Hal inilah yang menyebabkan penderita HFD merasa ragu dan enggan meminta bantuan psikolog. Penderita HFD bahkan enggan bercerita pada keluarga terdekatnya, sehingga pada akhirnya depresi ringan ini menjadi lebih berat.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dilansir dari situs vice.com, seorang profesor psikologi dan pediatri dari UCLA, Michelle Craske mengatakan bahwa, tanda atau gejala depresi yang dialami oleh seseorang sangat bervariasi. Itulah mengapa kita tidak boleh meremehkan gejala dari suatu depresi, khususnya seseorang yang mengalami HFD.</span></p>\n<h4><b>Apa Saja Tanda Awal Penderita HFD?</b></h4>\n<ul>\n<li><b>Mulai Menolak Aktivitas Sosial</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanda awal seseorang mengalami HFD adalah ia mulai menolak melakukan aktivitas sosial, misalnya pergi dengan teman. Menurut Jason Stamper, MD, seorang psikiatri di Pikeville, Kentucky, pada Reader Digest \u00a0mengatakan bahwa seseorang yang mengalami HFD tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa. Seperti pergi ke kantor dan berinteraksi dengan orang lain. Namun, setelah pulang kerja, penderita HFD mungkin tidak ingin lagi pergi keluar </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">(hangout)</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> bersama dengan teman-temannya. Kebanyakan penderita HFD memberi alasan bahwa pekerjaannya sangat berat dan melelahkan sehingga ia ingin beristirahat dan tidak bisa pergi bersama teman-teman. </span></p>\n<p><img class=\"alignnone size-full wp-image-16103\" src=\"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2020/05/infografis-01-e1678774656145.jpg\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"889\" /></p>\n<ul>\n<li><b>Adanya Gangguan Kesehatan Lainnya</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan lain, seperti diabetes, kanker, jantung atau kesehatan lainnya yang termasuk penyakit berat bisa saja memicu seseorang menderita HFD. Di sisi lain, depresi seperti HFD juga bisa menyebabkan kesehatan seseorang terganggu dan rentan terhadap penyakit tertentu. </span></p>\n<ul>\n<li><b>Perubahan Kebiasaan Tidur</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanda selanjutnya seseorang menderita HFD adalah perubahan kebiasaan tidur. Jika sebelum menderita HFD, seseorang tidak pernah mendengkur saat tidur, saat ia menderita HFD kemungkinan ia bisa saja mendengkur.</span></p>\n<p>&nbsp;</p>\n<p><strong>Baca juga:</strong></p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https://schoolofparenting.id/terlalu-narsis-ternyata-masuk-kategori-gangguan-jiwa/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terlalu Narsis Ternyata Masuk Kategori Gangguan Jiwa!</span></a></li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https://schoolofparenting.id/siaga-masalah-kejiwaan-pada-lansia/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Siaga Masalah Kejiwaan Pada Lansia</span></a></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentunya, mendengkur atau tidak bukan patokan seseorang menderita HFD atau tidak. Hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah bahwa, adanya perubahan kebiasaan tidur. Tidak bisa tidur juga bisa menjadi salah satu tanda seseorang menderita HFD, jika ia tergolong orang yang mudah sekali tidur sebelumnya. </span></p>\n<ul>\n<li><b>Merasa Lebih Cemas dan Khawatir</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seseorang yang menderita HFD biasanya merasa lebih cemas dan khawatir. Rasa cemas dan khawatir ini bukan hanya berasal dari rasa takut, namun juga bisa berasal dari hal lainnya yang tidak bisa dijelaskan. Biasanya seseorang akan mudah merasa cemas tanpa tahu hal yang membuatnya cemas.</span></p>\n<ul>\n<li><b>Sering Merasa Sedih dan Hampa</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penderita HFD memiliki anda lain seperti rasa sedih dan hampa. Rasa sedih dan hampa ini sebenarnya tidak perlu dialami mengingat penderita HFD kebanyakan adalah seseorang yang sukses dalam hal karir dan keluarga. Inilah yang sering membuat penderita HFD merasa bingung dari mana asal kesedihan dan rasa hampa tersebut.</span></p>\n<ul>\n<li><b>Mulai Mengikuti Keinginan Pribadi</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seseorang yang merasa stres lebih sering melakukan hal sesuai dengan kehendaknya. Seperti melampiaskannya dengan banyak makan atau melakukan hal lain untuk menyembuhkan rasa stres yang sedang dihadapi. Hal yang demikian juga dirasakan bagi penderita HFD. Para penderita HFD akan mengalami beberapa tanda, misalnya lebih sering minum-minuman keras, merokok, bermain game berlebihan, dan aktivitas lainnya yang dianggap bisa mengurangi depresi seseorang.</span></p>\n<ul>\n<li><b>Anda Termasuk Sosok yang Berpendidikan</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanda penderita HFD yang paling sering muncul adalah bahwa kebanyakan penderita HFD merupakan sosok yang berpendidikan, sehingga kebanyakan memiliki karir yang bagus dan menduduki jabatan yang penting dalam hal pekerjaan. Sayangnya, karir dan jabatan yang penting inilah yang seringkali membuat seseorang menderita HFD.</span></p>\n<ul>\n<li><b>Menjadi Pemarah</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penderita HFD seringkali menjadi pemarah. Sikap penderita yang mulai berubah menjadi pemarah ini biasanya sering dipertanyakan oleh keluarga atau teman terdekat.</span></p>\n<ul>\n<li><b>Memiliki Sejarah HFD Sebelumnya</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para ahli sepakat bahwa untuk mengetahui seseorang menderita HFD, maka perlu dilakukan observasi secara keseluruhan, termasuk apakah ada riwayat keluarga yang juga menderita HFD sebelumnya. Para ahli berpendapat bahwa, dengan mengetahui riwayat kesehatan keluarga, maka penderita HFD akan semakin cepat didiagnosa dan disembuhkan. </span></p>\n<ul>\n<li><b>Orang Lain dan Keluarga Menilai Anda Baik-Baik Saja</b></li>\n</ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanda seseorang menderita HFD memang sulit dideteksi, sehingga kebanyakan teman atau keluarga penderita menganggap perubahan sikap yang dialami penderita adalah hal yang wajar dan masih dalam taraf yang normal. Sayangnya, semakin lama kondisi ini dibiarkan maka semakin parah tingkat depresi seseorang.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">HFD merupakan depresi ringan yang bisa dialami oleh siapa saja. Penderita HFD pun sangat sulit terdeteksi karena pertanda yang timbul biasanya dianggap wajar atau normal bagi orang lain. Nah, beberapa pertanda di atas bisa digunakan sebagai referensi bagi Anda untuk mengetahui apakah Anda termasuk penderita HFD atau bukan. Pastikan </span><a href=\"https://schoolofparenting.id/yang-sering-terlupakan-kesehatan-mental-anak/\"><span style=\"font-weight: 400;\">kesehatan mental Anda, suami dan anak-anak tetap terjaga dengan baik</span></a><span style=\"font-weight: 400;\">. Segera hubungi psikolog jika Anda merasakan perubahan dalam diri Anda, seperti kesedihan atau rasa hampa yang terus menerus dirasakan. </span></p>\n"},{"post_id":16078,"post_title":"Kuis : Ungkap Kekuatanmu sebagai Perempuan!","post_link":"https://schoolofparenting.id/kuis-ungkap-kekuatanmu-sebagai-perempuan/","post_image":"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2023/03/Add-a-little-bit-of-body-text-37.png","post_date":"2023-03-08","post_cat":"Aku dan Diriku","post_cat_slug":"aku-dan-diriku","post_excerpt":"Pernahkah kamu bertanya-tanya apakah kamu seorang perempuan yang kuat? Kami mengajak kamu untuk mengikuti kuis ini untuk memahami diri dengan lebih baik dan ungkap apa kekuatanmu. Perempuan yang kuat adalah seseorang yang percaya diri pada diri sendiri.\u00a0 Kami berharap dengan mengikuti kuis ini, kamu bisa memulai perjalanan dalam mencintai diri sendiri. Ingat, kamu berharga dan [&hellip;]","post_content":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernahkah kamu bertanya-tanya apakah kamu seorang perempuan yang kuat? Kami mengajak kamu untuk mengikuti kuis ini untuk memahami diri dengan lebih baik dan ungkap apa kekuatanmu. Perempuan yang kuat adalah seseorang yang percaya diri pada diri sendiri.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami berharap dengan mengikuti kuis ini, kamu bisa memulai perjalanan dalam mencintai diri sendiri. Ingat, kamu berharga dan sempurna apa adanya! Apakah kamu siap untuk menjadi versi dirimu yang lebih baik? Yuk, coba kuisnya!</span></p>\n<p>[wp_quiz_pro id=\"16075\"]</p>\n"},{"post_id":16012,"post_title":"Kuis : Apa Tipe Introvertmu?","post_link":"https://schoolofparenting.id/kuis-apa-tipe-introvertmu/","post_image":"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2023/02/Add-a-little-bit-of-body-text-36.png","post_date":"2023-02-28","post_cat":"Aku dan Diriku","post_cat_slug":"aku-dan-diriku","post_excerpt":"Introvert adalah sifat kepribadian yang dimiliki banyak orang. Adanya kuis ini bertujuan untuk menjelaskan lebih banyak tentang sifat kepribadian ini. Menariknya, ada lebih banyak hal tentang sifat introvert dari yang biasa diketahui oleh orang-orang.\u00a0Ikuti kuis ini untuk menemukan apa tipe introvertmu! Pastikan untuk secara jujur memilih opsi yang beresonansi dengan kamu dan dapatkan hasilnya secara [&hellip;]","post_content":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Introvert adalah sifat kepribadian yang dimiliki banyak orang. Adanya kuis ini bertujuan untuk menjelaskan lebih banyak tentang sifat kepribadian ini. Menariknya, ada lebih banyak hal tentang sifat introvert dari yang biasa diketahui oleh orang-orang.\u00a0Ikuti kuis ini untuk menemukan apa tipe introvertmu! Pastikan untuk secara jujur memilih opsi yang beresonansi dengan kamu dan dapatkan hasilnya secara langsung!</span></p>\n<p><b>Disclaimer : Pertanyaan berikut tidak bisa sepenuhnya menjadi acuan dalam menentukan jenis introvertmu. Kuis ini hanya dimaksudkan sebagai pengetahuan mengenai kepribadian introvert dan membantumu dalam bersosialisasi.</b></p>\n<p>[wp_quiz_pro id=\"16007\"]</p>\n"},{"post_id":15969,"post_title":"Mencegah Anak Di Bawah Umur Menjadi Pelaku Kekerasan Seksual","post_link":"https://schoolofparenting.id/mencegah-anak-di-bawah-umur-menjadi-pelaku-kekerasan-seksual/","post_image":"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2023/02/feature-image-09.jpg","post_date":"2023-02-20","post_cat":"Aku dan Anak Remajaku","post_cat_slug":"aku-dan-anak-remajaku","post_excerpt":"Wajar jika orang tua khawatir anaknya menjadi korban pelecehan seksual. Kasus-kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak angkanya cukup tinggi di Indonesia. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat hampir 7.000 kasus kekerasan seksual anak terjadi sepanjang 2021.\u00a0 Namun ada temuan baru, bahwa ada pelaku kekerasan seksual terhadap anak juga masih dalam usia anak [&hellip;]","post_content":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wajar jika orang tua khawatir anaknya menjadi korban pelecehan seksual. Kasus-kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak angkanya cukup tinggi di Indonesia. </span><span style=\"font-weight: 400;\">Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat hampir 7.000 kasus kekerasan seksual anak terjadi sepanjang 2021.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun ada temuan baru, bahwa ada pelaku kekerasan seksual terhadap anak juga masih dalam usia anak dan remaja.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini jelas merupakan alarm darurat bagi dunia anak Indonesia. Karena mereka anak-anak Indonesia bukan hanya sebagai korban kekerasan seksual namun juga menjadi pelaku.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pendapat yang mengatakan anak-anak yang menjadi pelaku kekerasan seksual akan tumbuh menjadi pedofilia, yang sebenarnya pendapat ini belum terbukti.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Elizabeth Letourneau dari Pusat Pencegahan Pelecehan Seksual Anak Moore di Sekolah Kesehatan Masyarakat Bloomberg, telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari kejahatan seksual terhadap anak-anak dan orang-orang yang melakukannya.</span></p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia menyatakan\u00a0 \"Alih-alih berfokus pada pencegahan, kita kerap memfokuskan hampir semua upaya untuk memberikan hukuman. Kita tahu bahwa memenjarakan atau menahan anak-anak, bahkan secara singkat, akan mengurangi kemungkinan mereka lulus dari sekolah dan meningkatkan kemungkinan mereka akan melakukan lebih banyak kejahatan.\u201d</span></p></blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebuah komentar tahun 2008 yang diterbitkan dalam jurnal Child Maltreatment, psikolog dan peneliti Mark Chaffin mencatat bahwa pelaku mungkin adalah anak laki-laki atau perempuan yang \u201cmengulang\u201d pelecehan seksual yang mereka alami sendiri, atau anak-anak impulsif yang bertindak tanpa berpikir tanpa memahami hukum atau konsekuensi dari tindakan mereka. Beberapa anak berperilaku demikian karena gangguan mental; beberapa memuaskan keingintahuan mereka dengan bereksperimen tanpa pemahaman yang matang tentang bahaya yang mungkin mereka lakukan.</span></p>\n<h4><strong>Apakah tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh anak ini bisa dicegah?</strong></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal perilaku seksual yang menyimpang, orang tua harus </span><b>memperhatikan tanda-tanda</b><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menunjukkan bahwa anak mereka membutuhkan bantuan.</span></p>\n<ol>\n<li><b> Minat seksual di usia muda</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketertarikan seksual yang berlebih pada remaja yang jauh lebih muda atau bahkan anak-anak usia dini adalah tanda bahaya, kata William Ballantyne, seorang psikolog berbasis di Vermont yang berspesialisasi dalam evaluasi dan perawatan remaja dengan masalah perilaku seksual.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang perlu diperhatikan di sini bukanlah ketertarikan lawan jenis seperti yang terjadi pada anak remaja biasa. Yang perlu menjadi perhatian adalah misalnya anak berusia 16 tahun yang menunjukkan ketertarikan pada anak berusia 8 tahun.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu adalah sinyal </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">red flag</span></i><span style=\"font-weight: 400;\">,\u201d kata Ballantyne. \u201cUntuk satu hal, jika ada tindak lanjut, itu jelas ilegal. Jika kita berbicara tentang anak berusia 16 tahun dan 12 tahun, itu rentang usia yang sangat memprihatinkan.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Remaja mungkin bereksperimen dengan teman sebayanya, sama seperti anak kecil mungkin \"bermain dokter\" dengan teman sebayanya. Namun, anak-anak yang kecil tidak dapat benar-benar memberikan persetujuan ketika diminta oleh anak lainnya lebih besar\u2014mereka bukan teman sebaya. \u201cAnak berusia 8 tahun bukanlah teman sebaya anak remaja yang berusia 15 atau 16 tahun,\u201d kata Shari Nacson, seorang pekerja sosial di Ohio. \u201cItu bukan konsensual, mereka bukan sebaya, dan ada perbedaan</span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> power</span></i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u201d</span></p>\n<ol start=\"2\">\n<li><b> Perbedaan kognitif</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika seorang anak dalam interaksi seksual mengalami gangguan mental atau cacat, atau sangat rentan karena alasan tertentu, orang tua harus turun tangan.</span></p>\n<ol start=\"3\">\n<li><b> Kerahasiaan yang berlebihan</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyimpan rahasia adalah bagian dari perkembangan remaja, jadi ini akan jadi tugas yang rumit. Ketika anak terlalu banyak \u201cberahasia\u201d dan ada insting dari orang tua bahwa anak remaja Anda bertingkah di luar karakternya atau tampak tidak sehat\u2014ini mungkin menandakan adanya masalah. \u201cItu tidak berarti bahwa orang tua harus mengorek-ngorek laci anak remaja mereka,\u201d kata Nacson. \u201cArtinya, orang tua perlu berbicara tentang yang ia rahasiakan itu.\u201d</span></p>\n<ol start=\"4\">\n<li><b> Kecanduan pornografi</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa rasa ingin tahu tentang seksualitas adalah hal yang normal pada anak-anak dan remaja. Namun gencaran budaya pornografi di berbagai media, terutama sosial media dapat menyebabkan anak atau remaja terlalu fokus pada pokok bahasan itu. Perlu juga diperhatikan ketika anak-anak bahkan di usia pra-remaja mengkonsumsi, terpapar atau bahkan kecanduan materi pornografi.\u00a0</span></p>\n<p><img class=\"alignnone size-full wp-image-15979\" src=\"https://schoolofparenting.id/wp-content/uploads/2023/02/infografis-08-1-e1676891229842.jpg\" alt=\"pelaku kekerasan seksual\" width=\"500\" height=\"889\" /></p>\n<h4><b>Langkah awal apa yang bisa dilakukan oleh orang tua?</b></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kasus dan anak berbeda, namun ada hal-hal tertentu yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah kejahatan seksual yang dilakukan anak atau remaja.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan melakukan langkah-langkah ini selama masa kanak-kanak dan remaja, orang tua dapat membantu anak mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia, sehat, dan bertanggung jawab.\u00a0</span></p>\n<ol>\n<li><b> Komunikasi adalah Kunci</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hubungan yang terbuka dan jujur dengan anak Anda akan menjadi kunci penting. Mungkin sulit untuk berbicara dengan anak Anda tentang topik-topik seperti penyalahgunaan narkoba, pornografi atau kejahatan seksual , tetapi ini adalah salah satu tahap paling penting. Karena ketika orang tua tidak membicarakan masalah ini dengan anak, ia akan mendapat input dari internet, sosial media ataupun lingkungan pertemannya.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua perlu memastikan bahwa anak memahami hal-hal yang berpotensi menjadi kejahatan ataupun tindakan yang melawan hukum\u00a0 serta konsekuensinya.\u00a0</span></p>\n<ol start=\"2\">\n<li><b> Terlibat dalam Kehidupan Mereka</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlibat dalam kehidupan anak Anda bisa jadi hal yang menantang bagi orang tua, terutama saat mereka remaja. Namun, penting bagi orang tua untuk tetap punya quality time bersama anak, sambil tetap menghormati privasi mereka. .</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal-hal seperti mendiskusikan tugas sekolah mereka, nonton bioskop, atau sekadar makan atau nonton tv bersama bisa membuat koneksi dengan remaja kita jadi lebih baik.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obrolan ringan di sela-sela nonton film bisa menjadi pembuka percakapan tentang isu yang lebih serius seperti kekerasan seksual. Dukung anak untuk membicarakan dengan orang tua jika ia menemui masalah.\u00a0</span></p>\n<ol start=\"3\">\n<li><b> Perhatikan</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awasi tanda-tanda</span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> red flag</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti yang telah disebutkan di atas dan ikutilah isu,tren,simbol atau istilah yang berkembang di kalangan remaja . Juga tetap perhatikan kesehatan mental dan emosional anak Anda, karena tekanan internal dapat secara signifikan berperan pada perubahan perilaku anak remaja. Pelajari cara menemukan potensi tanda bahaya ini pada anak, dan jangan ragu untuk mencari bantuan professional jika Anda mengenali salah satu </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cred flag\u201d</span></i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0</span></p>\n<ol start=\"4\">\n<li><b> Dorong Partisipasi dalam Hobi dan Aktivitas yang Aman</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak punya hobi atau minat di hal selain akademik seperti sepakbola, menggambar komik, atau merakit mainan sendiri? Alih-alih dihentikan, dukunglah minat dan bakat mereka dengan membantu anak terlibat dalam aktivitas yang sesuai. Keterlibatan dalam klub setelah sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler dapat membantu anak Anda merasa lebih didukung, terlibat, dan diterima sekaligus menjaga mereka dari aktivitas yang negatif. Anak-anak yang merasa menjadi bagian dari suatu komunitas dan secara aktif terlibat dalam hobi yang mereka sukai jauh lebih kecil kemungkinannya untuk terpapar aktivitas kriminal.</span></p>\n<ol start=\"5\">\n<li><b> Jadilah Orang Tua, Bukan Teman</b></li>\n</ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun penting bagi anak Anda untuk memiliki hubungan yang dekat dan terbuka dengan Anda, pastikan Anda bisa mengambil posisi menjadi orang tuanya bukan sebagai teman. Jika anak Anda mendapat masalah di rumah, sekolah, kegiatan atau acara ekstrakurikuler, atau rumah teman, jangan takut untuk bersikap tegas terhadap mereka.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapkan aturan dan konsekuensinya jika anak tidak memenuhinya. Disiplin yang tepat dapat membantu remaja memahami bahwa kesempatan untuk berbuat negatif dan melanggar aturan selalu ada, tetapi dia bisa belajar untuk mengendalikan dirinya sendiri.\u00a0</span></p>\n<h4><b>Kapan orang tua perlu mencari bantuan?</b></h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dipahami jika orang tua akan merasa khawatir bahkan takut, jika menemukan perilaku dari anak yang terlihat seperti \u201cred flag\u201d,\u00a0 atau ketika orang tua memiliki firasat bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, itu bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja. Bukan hanya untuk kepentingan anak mereka sendiri, tetapi juga melindungi anak-anak lain.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dikutip dari yourteenmag.com. Shari Nacson,seorang pekerja sosial di Ohio memberikan saran untuk memulai percakapan dengan psikolog tentang kekhawatiran orang tua yang terkait perilaku anak. Orang tua bisa mengatakan; </span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni yang saya perhatikan. Saya tidak tahu apakah saya harus khawatir atau tidak..\u201d, dan biarkan psikolog yang memutuskan apakah perilaku anak perlu dievaluasi lebih lanjut atau langkah apa yang bisa diambil oleh orang tua untuk menyikapinya.\u00a0</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penting untuk diingat bahwa ketika anak-anak atau remaja melakukan kekerasan seksual, bisa jadi mereka juga pernah menjadi korban atau saksi. Bisa berupa pelecehan atau sesuatu yang mereka lihat yang membuat mereka overwhelmed atau terganggu . Kebanyakan anak tidak tiba-tiba bertindak seksual. Ini juga sesuatu untuk didiskusikan dengan dokter anak atau psikolog.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabar baiknya adalah bahwa dengan intervensi dini, anak atau remaja tersebut memiliki kemungkinan besar untuk mengoreksi diri, menurut Ballantyne. Jika anak-anak tidak belajar mengatur impuls mereka, mereka tumbuh menjadi orang dewasa tanpa kontrol impuls.</span></p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetap diam atau mempermalukan anak remaja Anda tidak akan membuat masalahnya hilang, dan kemungkinan bisa memperburuknya. Carilah bantuan dar</span><span style=\"font-weight: 400;\">i profesional sedini mungkin</span><span style=\"font-weight: 400;\">. Kita bisa menyelamatkan jiwa dan masa depan bukan hanya anak kita , namun juga anak-anak lain.\u00a0</span></p>\n<p>&nbsp;</p>\n"}]}