Pernahkah Anda merasa uang cepat sekali habis tanpa tahu ke mana perginya? Atau mungkin Anda sering harus membayar denda keterlambatan hanya karena lupa membayar tagihan bulanan? Banyak orang menganggap ini sekadar sifat boros atau ketidakmampuan mengatur keuangan. Namun, bagi sebagian orang dewasa, kondisi ini bisa jadi berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai ADHD Tax.
Apa Itu ADHD Tax?
ADHD Tax bukanlah pajak resmi yang dibayarkan kepada pemerintah. Istilah ini merujuk pada “biaya tambahan” implisit—baik secara finansial, energi, maupun emosional—yang muncul akibat gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada orang dewasa.
Kondisi ini membuat aktivitas harian yang berkaitan dengan perencanaan dan pengorganisasian menjadi jauh lebih berat, sehingga berujung pada pengeluaran ekstra yang sebenarnya tidak perlu.
Contoh ADHD Tax dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam praktik nyata, “biaya tambahan” ini bisa muncul dalam berbagai bentuk sederhana yang terus berulang:
- Tagihan Menumpuk akibat Denda: Sering lupa membayar listrik, internet, atau kartu kredit tepat waktu hingga terkena denda keterlambatan.
- Makanan Terbuang Sia-sia: Membeli bahan makanan segar dengan niat memasak, tetapi berakhir membusuk di kulkas karena lupa atau kehilangan motivasi.
- Membeli Barang Berulang: Membeli barang yang sama karena lupa menyimpan barang sebelumnya, atau dorongan belanja (impulsive buying) akibat rasa bosan.
- Sulit Mengendalikan Pembelian: Menghadapi kendala besar untuk menahan diri tidak menekan tombol checkout saat belanja daring.
- Kebocoran Tabungan: Tabungan yang terus berkurang tanpa disadari untuk pengeluaran-pengeluaran kecil yang menumpuk.
Mengapa Orang dengan ADHD Rentan Mengalaminya?
Penting untuk dipahami bahwa masalah ini bukan berarti individu dengan ADHD tidak peduli dengan uang.
Namun, kesulitan ini berkaitan erat dengan cara kerja otak ADHD. Gejala seperti impulsivitas, time blindness (kesulitan merasakan dan mengelola waktu), serta executive dysfunction (gangguan fungsi eksekutif) membuat rutinitas harian terasa sangat melelahkan.
Ironisnya, mengelola keuangan dengan baik membutuhkan perencanaan matang, konsistensi, dan working memory—tiga hal yang justru menjadi tantangan terbesar bagi individu dengan ADHD.
Dampak ADHD Tax
Akhir dari fenomena ini sering kali bukan hanya sekadar kerugian finansial, melainkan beban mental yang berat. Rasa bersalah dan frustrasi kerap muncul beriringan dengan pertanyaan-pertanyaan internal:
“Kenapa sih aku begini terus?”
“Harusnya aku bisa lebih bertanggung jawab.”
Lama-kelamaan, pola ini bisa mengikis rasa percaya pada diri sendiri. Banyak individu dewasa akhirnya terjebak dalam self-judgment atau menghakimi diri sendiri, menganggap diri mereka ceroboh, malas, atau tidak bertanggung jawab. Ketika kritik terhadap diri sendiri terus berulang, beban yang dirasakan bukan hanya soal keuangan, tetapi juga kesehatan mental. Namun lewat konseling bersama psikolog, seseorang dapat mengeksplorasi akar kesulitan yang dialami, mengelola dampak emosionalnya, serta menemukan cara yang lebih adaptif untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Kapan Harus Mencari Penjelasan Lebih Lanjut?
Tentu saja, tidak semua orang yang kesulitan mengelola keuangan pasti memiliki ADHD. Mengatur uang memang merupakan tantangan umum bagi banyak orang.
Namun, jika pola-pola di atas sudah terjadi sejak lama, meluas ke berbagai aspek kehidupan lain (seperti pekerjaan atau hubungan sosial), dan terus berulang meskipun Anda sudah berupaya keras untuk mengubahnya, mungkin ini saatnya untuk melangkah lebih jauh.
Melakukan Screening ADHD Dewasa bersama profesional kesehatan mental dapat membantu Anda mengeksplorasi apakah kesulitan tersebut berkaitan dengan ADHD atau kondisi psikologis lain yang memiliki gejala serupa. Mendapatkan pemahaman yang tepat adalah langkah awal untuk menemukan strategi pengelolaan yang sesuai tanpa harus terus menyalahkan diri sendiri.

Tag: ADHD, mental health, Screening ADHD
Membantu setiap
anggota keluarga bertumbuh
Dapatkan akses ke layanan
Asesmen • Konseling • Terapi