Our Class

Anak-Anak Lebih Dekat dengan Pengasuh, Perlukah Khawatir?

Kondisi keluarga jaman Now jelas berbeda dengan keluarga jaman dahulu. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sedikit banyak membawa perubahan pada kehidupan sosial manusia. Dalam sebuah keluarga, tak jarang kedua orangtua sama-sama bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Akibatnya, anak sering dititipkan kepada kakek-nenek, pengasuh, atau day care. Menitipkan anak pada pihak ketiga memang menjadi solusi yang tepat. Akan tetapi, ini juga menimbulkan permasalahannya sendiri.

Ini adalah topik penting yang dibahas dalam kelas School of Parenting pada 10 Februari 2018 lalu di Warung Penang. Kelas ini menghadirkan teacher dari Lembaga Psikologi Terapan, yaitu Elizabeth Wahyu Margareth Indira M.Pd Psi. yang juga seorang psikolog anak dan remaja. Acara tersebut membahas problematika yang dialami oleh para ibu bekerja, terutama perbedaan pola asuh dari orang tua dan pengasuh. Tak hanya orang tua, sebagian peserta juga adalah wanita lajang yang punya ketertarikan dengan pendidikan dunia anak.

Apakah seorang wanita bisa menjaga keseimbangan antara keluarga dan karier? Menurut Ira, tentu saja bisa. Seorang Ibu bekerja harus bisa menempatkan diri secara bijaksana antara kepentingan keluarga dan kepentingan kerja. Posisinya harus seimbang agar keduanya bisa berjalan bersamaan dan sukses. Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan dengan mudah dan tanpa ada hambatan. Selalu ada simpangan-simpangan yang menyebabkan posisi antara keluarga dan pekerjaan menjadi tidak seimbang.

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh kedua orangtua yang memutuskan untuk bekerja. Kesalahan pertama, menurut Ira, adalah dengan menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk masa depan anak. Para Ibu bekerja sering mengatakan bahwa apa yang ia lakukan semata-mata untuk anak. Padahal, Anda harus tahu bahwa uang tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu serta kenangan bersama anak. Ketika orangtua melewatkan masa pertumbuhan anak mereka, tidak ada waktu lagi untuk mengulanginya. Oleh karena itu, seharusnya orangtua tetap menomorsatukan kebutuhan anak.

Kesalahan kedua, orangtua yang merasa bersalah karena meninggalkan anak-anak mereka sering menebus rasa bersalah tersebut dengan terlalu memanjakan anak. Apa pun yang diminta anak selalu dituruti tanpa mempertimbangkan efek psikologis anak. Hal ini seharusnya tidak dilakukan. Sekali lagi, uang mungkin bisa membuat Anda membeli segala sesuatu di dunia. Akan tetapi, uang tidak bisa membeli cinta anak Anda. Saat masa-masa pertumbuhan, anak-anak membutuhkan banyak dukungan dan kasih sayang dari orangtua mereka.

Masalah pengasuhan anak, orangtua tetap harus mempunyai peran dan kontrol atas tumbuh kembangnya. Peran orangtua tetap dibutuhkan. Jangan sampai anak merasa lebih dekat dengan pengasuh daripada dengan Anda. Kedekatan harusnya wajar. Jika berlebihan, tentu Anda sendiri nantinya yang akan menyesal nantinya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *