Banner Header Komunitas SOP

Aturan Screen-time di saat E-learning

Browse By

Ketika para guru dan orang tua mencoba untuk membuat siswa tetap terlibat dalam belajar-mengajar selama penutupan sekolah yang lama karena pandemi coronavirus, gadget dan layar komputer tampak lebih penting daripada sebelumnya.

Para ahli mengatakan, meskipun saat ini peraturan tentang berapa lama anak berada di depan layar atau biasa disebut “screen time” sedikit lebih bisa dikesampingkan, namun membatasi anak di depan layar masih sangatlah penting.  Misalnya, seberapa banyak anak-anak berada di depan tablet, laptop dan media sosial.

American Academy of Pediatrics sendiri membuat pengecualian tentang lamanya anak-anak berada di depan layar khusus untuk pekerjaan sekolah. Beberapa ahli mencatat bahwa hari-hari e-learning di banyak distrik sekolah daerah Chicago, Amerika Serikat,  telah secara signifikan meningkatkan waktu yang dihabiskan siswa untuk belajar melalui aplikasi, obrolan video atau aplikasi online lainnya.

Apa yang akan dilakukan?

Sulit untuk mengatakan apa yang perlu dilakukan, kata Alexis Lauricella, associate professor dan direktur Technology in Early Childhood Center di Erikson Institute. “Kita belum pernah menghadapi situasi ini.”

Sementara waktu ini, tambahan waktu screen time bagi anak-anak bisa menjadi masalah dan orang tua harus tetap mencoba untuk menetapkan aturan dasar di rumah masing-masing. Kemungkinan ini bukanlah masalah terbesar yang akan muncul dalam ketidakpastian ini, kata Lauricella. Masalah yang mungkin muncul, misalnya dampak kesehatan mental karena terisolasi, dan bahwa orang tua yang bekerja mungkin tidak memiliki waktu untuk mengajar anak-anak atau  tidak tahu caranya.

Waktu berada di depan layar (screen time) adalah “Sesuatu yang harus diperhatikan, dan saya pikir di atas segala macam masalah yang terjadi sekarang, screen time bukan masalah besar.” kata Lauricella.

aturan screen time saat e-learning

Sebaiknya, orang tua mengikuti beberapa pedoman, katanya. Misalnya, memperhatikan apa yang dilihat anak-anak, memastikan konten berkualitas, dan menjaga beberapa aturan tetap berjalan dengan baik saat terjadi pandemi – seperti mematikan elektronik di malam hari dan menambah daya peralatan elektronik (charging) di luar kamar tidur anak-anak.

Bagi banyak anak, aturan mengenai media sosial juga sering diselewengkan selama pandemi ini, kata Dr. Corinn Cross, seorang dokter anak yang berbasis di Los Angeles dan anggota dewan Akademi Dokter Anak Amerika tentang komunikasi dan media. Anak-anak pra-remaja yang belum pernah menggunakan media sosial saat ini memiliki aplikasi untuk berkomunikasi dengan guru atau teman sekelas.

“Secara teori, kondisi ini cukup baik karena media sosial adalah satu-satunya interaksi sosial yang mereka miliki,” kata Cross. Akan tetapi, hal ini juga dapat menimbulkan masalah, seperti anak-anak yang memperhatikan status media sosial anak lain dan merasa “tidak menyukai” sesuatu yang mereka posting.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua dalam menghadapi kondisi ini, kata Cross, seperti membatasi cara mereka menggunakan platform media sosial dan terus menetapkan aturan dasar kapan dan berapa lama mereka bisa mengobrol dengan teman melalui platform tertentu.

Dan, setelah momen unik ini selesai, Cross berkata bahwa orang tua perlu memikirkan cara mengembalikan semua “hak istimewa” tambahan ini ke kondisi semula.

Penting juga untuk mengingat cara tradisional mengerjakan tugas sekolah selama masa belajar di rumah ini. Cross, menyarankan pada orang tua untuk mendorong anak membaca buku dan mengerjakan soal matematika di atas kertas. Bahkan, mengingatkan anak untuk memegang pensil sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilan motorik halus.

David Hill, seorang dokter anak yang berbasis di North Carolina dan ketua langsung dewan AAP tentang komunikasi dan media, mengatakan bahwa tidur juga penting. Untuk mewujudkannya, orang tua bisa menghentikan semua layar elektronik. Setidaknya satu jam sebelum tidur. Hill juga menambahkan untuk mengajak anak keluar rumah, bermain bersama keluarga dan berpaling dari layar elektronik sama sekali.

Pada akhirnya, “Penting untuk mengingat bahwa kondisi ini tidak selamanya. Harapan  membantu kita mengatasi hidup dari hari ke hari, ”katanya. “Himbauan untuk tetap berada di rumah, tidak mungkin permanen.” Semoga kondisi ini segera berlalu, kita semua berharap demikian, bukan? 

Baca juga:

  1. Kelas Online VS Kleas Tradisional Bagus Mana?
  2. Tips Sukses Work From Home

Rekomendasi Kelas Online Bersama Ahli : Neysa Nadia, M.Psi., Psikolog

Tipe Digital Paents Seperti Apakah, Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *