Hubungan yang sehat—entah itu dengan pasangan, sahabat, maupun keluarga—seharusnya menjadi tempat yang aman di mana kedua belah pihak bisa sama-sama bertumbuh. Bukan ajang kompetisi di mana satu orang selalu “menang” dan yang lain harus terus mengalah.
Namun, sayangnya banyak orang tanpa sadar terjebak dalam toxic relationship. Alih-alih saling mendukung, sikap manipulasi psikologis dari salah satu pihak justru membuat pihak lain selalu merasa salah. Kamu mungkin mulai mempertanyakan ingatanmu, merasa terlalu baper, hingga akhirnya meragukan kewarasan diri sendiri. Dalam dunia psikologi, bentuk manipulasi yang membuat korbannya kehilangan kepercayaan diri ini dikenal dengan istilah gaslighting.
Apa itu Gastlighting?
Gaslighting adalah bentuk manipulasi yang terjadi dalam suatu hubungan abusive (kasar). Ini merupakan jenis kekerasan psikologis dan emosional yang terselubung, dimana pihak yang melakukan gaslight membuat pihak lainnya mulai meragukan diri sendiri. Pada akhirnya, korban dari gaslighting, mulai mempertanyakan kesehatan mentalnya secara keseluruhan.
Pada Hubungan Seperti Apa Gaslighting Bisa Terjadi?
Gaslighting biasanya terjadi dalam hubungan pernikahan dan pacaran, namun tidak menutup kemungkinan juga mampu muncul dalam hubungan persahabatan atau antara anggota keluarga.
Bentuk Gaslighting
1. Berbohong
Pelaku gaslighting sering kali berbohong pada Anda secara terang-terangan dan tak pernah mundur atau mengubah cerita mereka — bahkan saat Anda memberikan bukti kebohongan mereka. Mereka mungkin mengatakan sesuatu seperti
“Ah, kamu mengada-ada. Itu tidak pernah terjadi kok.”
“Kapan aku ngomong gitu? Kamu ingatannya mulai payah ya?”
Kebohongan terus-menerus ini adalah senjata utama (red flag) dalam pola perilaku toxic mereka. Masalahnya, mereka berbohong dengan sangat meyakinkan. Anda yang awalnya sangat yakin dengan fakta perlahan-lahan mulai bimbang. Ujung-ujungnya, manipulasi ini sukses membuat Anda mempertanyakan ingatan, meragukan diri sendiri, dan akhirnya malah merasa bersalah.
2. Menyebar gosip
Pelaku gaslighting seringkali menyebarkan desas-desus atau gosip tentang diri Anda kepada orang lain. Berpura-pura mengkhawatirkan Anda sambil secara halus memberi tahu orang lain bahwa Anda tampak tidak stabil secara mental dan emosional. Sayangnya, taktik ini bisa sangat efektif dan banyak orang berpihak pada pelaku tanpa mengetahui cerita lengkapnya.
Pelaku gaslighting juga memberitahu pada Anda bahwa orang lain menganggap Anda tidak stabil secara emosional, padahal orang lain tidak pernah menganggap demikian sebelumnya. Namun, pelaku gaslighting melakukan berbagai cara agar semua orang mempercayai mereka.
Baca Juga:
1. Apakah Saya Seorang People Please?
2. Toxic Friendship : Karena tak Semua Persahabatan Indah bagai Kepompong
3. Mengalihkan topik
Saat Anda menanyakan sesuatu mungkin untuk mengkonfirmasi suatu hal pada pelaku gaslighting, mereka dapat mengganggu Anda dengan mengubah topik pembicaraan. Misalnya, mulai mengajukan pertanyaan alih-alih menanggapi masalah yang ada. Kondisi ini tidak hanya mengganggu jalan pikiran Anda, tapi juga menyebabkan Anda mempertanyakan perlunya menekan suatu masalah ketika mereka tidak merasa perlu merespon.
4. Meremehkan
Meremehkan emosi Anda memungkinkan pemantik gas untuk menguasai Anda. Mereka mungkin membuat pernyataan seperti: “Tenang,” “Kamu bereaksi berlebihan,” atau “Mengapa kamu begitu sensitif?”
Semua pernyataan ini meminimalkan perasaan Anda atau apa yang Anda pikirkan dan mendorong Anda untuk meragukan diri sendiri.
Saat Anda berurusan dengan seseorang yang tidak pernah mengakui pikiran, perasaan, atau keyakinan Anda, Anda mungkin mulai mempertanyakannya sendiri. Terlebih lagi, Anda mungkin tidak pernah merasa divalidasi atau dipahami.
5. Menyalahkan Anda
Inilah taktik umum lainnya dari pelaku gaslighting. Setiap diskusi yang Anda lakukan entah bagaimana dipelintir seolah-olah Anda yang harus disalahkan atas sesuatu yang terjadi.
Bahkan ketika Anda mencoba mendiskusikan bagaimana perilaku mereka membuat Anda merasa, mereka dapat memutarbalikkan percakapan sehingga Anda akhirnya percaya bahwa Anda adalah penyebab perilaku buruk mereka–Mereka mengklaim bahwa jika saja Anda berperilaku berbeda, mereka tidak akan memperlakukan Anda seperti yang mereka lakukan.
6. Menggunakan Kata-Kata Manis Sebagai Senjata
Terkadang saat Anda ingin berdiskusi dengan seorang gaslighter, mereka akan menggunakan kata-kata yang baik dan penuh kasih untuk mencoba memuluskan situasi. Mereka mungkin mengatakan sesuatu seperti, “Kamu tahu betapa aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah menyakitimu dengan sengaja.“
Kata-kata ini adalah apa yang ingin Anda dengar, tetapi tidak autentik, terutama jika perilaku yang sama ddiulang. Sebab, tujuan utamanya hanyalah ingin membuat Anda melepaskan mereka
Ketika Anda berurusan dengan seseorang yang menggunakan gaslighting sebagai alat manipulasi, perhatikan baik-baik apa yang mereka lakukan, bukan kata-kata yang mereka pilih. Apakah orang ini benar-benar bertindak dengan cara yang penuh kasih atau mereka hanya mengatakan hal-hal yang penuh kasih?
7. Menulis Ulang Cerita
Pelaku gaslighting sangat ahli dalam mengubah narasi atau jalan cerita dari sebuah kejadian. Tujuannya cuma satu: membuat posisi mereka selalu menguntungkan dan mencuci tangan dari kesalahan.
Sebagai contoh, sebuah pertengkaran hebat di mana ia jelas-jelas mendorong Anda hingga membentur tembok. Namun, saat kamu mengonfrontasi tindakan kasarnya setelah situasi tenang, ia malah memutarbalikkan fakta.
Apakah Anda sedang Berhubungan dengan Pelaku Gaslighting? Berikut tandanya:
• Meragukan perasaan Anda
• Mulai mempertanyakan penilaian dan persepsi Anda
• Merasa rentan dan tidak aman
• Merasa sendirian dan tidak berdaya
• Bertanya-tanya apakah yang mereka katakan tentang Anda itu benar?
• Kecewa dengan diri sendiri dan menjadi diri sendiri
• Menghabiskan banyak waktu untuk meminta maaf
Jika Anda merasa mengalami gaslighting, ketahuilah bahwa emosi dan apa yang Anda alami adalah nyata. Dan bahwa bentuk perilaku manipulatif dari orang lain seperti gaslighting bukanlah jenis komunikasi yang sehat. Keluar dari siklus toxic ini dan menyembuhkan luka batin sendirian mungkin terasa berat. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional agar kamu bisa kembali mengenali dirimu dan membangun batasan yang sehat. Jadwalkan sesi Konseling Individu bersama Psikolog School of Parenting untuk mendapatkan ruang aman bercerita tanpa dihakimi. Kamu berhak didengar, dipercaya, dan kembali bahagia. Klik banner di bawah untuk menjadwalkan sesimu hari ini.

Membantu setiap
anggota keluarga bertumbuh
Dapatkan akses ke layanan
Asesmen • Konseling • Terapi