Banner Header Komunitas SOP

Kamu itu Cantik. Tak Perlu Peduli Apa yang Mereka Katakan

Browse By

Salah satu hal penting yang harus dimiliki setiap anak adalah rasa percaya diri. Anak-anak yang tidak percaya diri sering kali mengalami berbagai masalah, mulai dari yang konyol hingga yang destruktif. Misalnya, anak tidak berani ditinggal sendirian, anak terlalu pemalu, dan lain sebagainya. Kelak, ketika rasa percaya diri tidak juga tumbuh hingga dewasa, anak akan akan kesulitan dalam bergaul.

Di Indonesia, konsep kecantikan yang banyak dipakai oleh orang-orang adalah yang putih, tinggi, langsing, kurus, dan mancung. Akan tetapi, itu tidak benar. Bagi saya, anak saya tetap cantik. Tak peduli apa pun yang mereka katakan.

Target saya, anak harus bisa tumbuh dengan percaya diri, bukan dengan rendah diri. Ia harus bangga dengan kondisi fisik yang dimilikinya, termasuk kekurangannya. Dengan begitu, ia bisa melakukan apa pun dengan pikiran yang positif dan tidak mudah diremehkan oleh orang lain.

Sayangnya, lingkungan sekitar kadang tidak mendukung hal ini. Banyak sekali orang-orang yang dengan mudahnya melemparkan komentar negatif tentang diri anak. Meski tidak berdampak secara langsung, hal ini bisa mempengaruhi rasa percaya dirinya, terutama komentar yang berhubungan dengan fisik. Dalam budaya kita, secara tak sadar kita juga sering membully anak dengan memanggilnya Si Ndut untuk anak yang tubuhnya besar atau Si Keling untuk anak yang kulitnya hitam. Benarkah nama panggilan yang bersifat menyoroti fisik seperti ini?

 

Mumpung anak masih kecil, jangan tanamkan prinsip kecantikan seperti yang orangtua anut. Cantik itu tidak hanya yang berkulit putih dan berambut lurus saja, tetapi semua wanita pada dasarnya cantik. Hal ini bisa berdampak baik untuk kehidupan mendatang si anak.

Untuk memupuk rasa percaya diri si kecil, jauhkan si kecil dari komentar-komentar negatif berikut.

“Biar Hitam, Kamu Tetap Manis, Kok.”

Komentar ini mungkin bermaksud menguatkan atau memberikan pujian. Namun, jika dilihat lebih jeli lagi,  kalimat ini seolah-olah memiliki arti bahwa kulit hitam itu tidak baik. Apalagi ada penekanan “Kamu tetap manis, kok.” Nah, hindari komentar-komentar seperti ini. Pemahaman cantik itu harus putih, kan sudah usang. Sekarang ini, cantik tidak hanya dinilai berdasarkan warna kulitnya saja.

“Kok rambutnya keriting banget gitu, ya!”

Ada anak kecil di samping rumah saya yang merengek pada Ibunya, “Ma, rambut aku mau dilurusin dong kayak si Dita.” Anak kecil ini baru berumur 5 tahun. Rambutnya memang ikal dan panjang. Tetapi, bagaimana mungkin anak sekecil ini minta rambutnya dilurusin? Dapat konsep darimana dia bahwa lurus itu lebih bagus dari keriting? Tentunya, kita gak ingin anak kita jadi seperti ini.

“Kok kurus banget sih?” atau sebaliknya “Kok gendut banget, sih”

Urusan berat badan ini bisa dibawa sampai dewasa loh. Jangan sampai anak merasa minder dengan ukuran tubuhnya. Anak-anak yang pikirannya masih “bersih” sebaiknya tidak diajarkan konsep berat badan yang cenderung tidak konsisten seperti ini.

Ketika kecil, mereka sering ditanamkan kebenaran bahwa kurus itu tidak sehat. Kemudian, ketika dewasa, mereka malah dituntut untuk memiliki tubuh yang kurus. Konsep “cantik” yang tidak konsisten ini sebaiknya tidak diajarkan pada anak. Ingat, tidak semua anak kurus itu berarti penyakitan dan tidak semua orang dewasa yang gendut itu tidak cantik. Sekali lagi, konsep cantik itu abstrak. Jangan menjejali pikiran anak dengan konsep cantik yang seolah-olah paten.

Lebih baik, ajarkan anak untuk tumbuh dengan percaya diri, apa pun ciri fisik yang menempel pada diri mereka. Jangan sering membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lainnya. Setiap anak itu khusus, setiap anak itu cantik. Orangtua yang sering membanding-bandingkan fisik anak berarti sudah siap dengan risiko anak jadi tidak percaya diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *