Banner Header Promo Oktober

“Anak Garuda” : Perjalanan Menembus Batas Mimpi

Browse By

Mimpi, harapan, impian, dan cita-cita, tentu semua orang memilikinya. Dari anak-anak hingga orang dewasa, dari si kaya raya hingga keluarga tak berada. 

Setiap orang tentu berusaha mewujudkan mimpi dan harapan yang ada di angan-angan dengan berbagai macam cara. Cara yang hampir selalu diajarkan oleh kedua orang tua kita sejak dahulu adalah, belajar yang rajin di sekolah, dapat nilai bagus, lalu mendapatkan pekerjaan yang baik sehingga bisa mewujudkan mimpi-mimpi yang sedari dulu diidamkan.

Tapi, bagaimana dengan nasib anak-anak yang bahkan tak seberuntung itu? Bagaimana dengan nasib anak-anak dari keluarga kurang beruntung secara perekonomian, anak-anak yang mendapatkan perlakuan buruk oleh keluarganya, atau anak-anak putus sekolah karena kerasnya kehidupan yang mendorongnya untuk lebih memikirkan mencukupi isi perut daripada harus bersekolah?

Apakah anak-anak ini memiliki mimpi? Apakah anak-anak ini memiliki harapan? Dan, apakah anak-anak ini memiliki masa depan yang cerah di tengah kerasnya kehidupan yang dijalaninya?

Adalah “Anak Garuda”, sebuah film yang mengangkat kehidupan anak-anak kurang beruntung dan putus sekolah yang kemudian mampu meraih mimpi berkat usaha keras yang dilakukannya. Film “Anak Garuda”, merupakan lanjutan dari film “Say, I Love You” yang disutradarai oleh Faozan Rizal. Film ini menceritakan tentang perjalanan anak-anak remaja (Olfa, Wayan, Sheren, Dila, Sayidah, Yohana dan Robet) yang berbeda suku, agama dan ras dalam meraih mimpi.

Perjalanan ketujuh remaja ini tidak bisa dibilang mudah. Mereka seringkali direndahkan dan tidak dipercaya oleh banyak pihak karena latar belakang kehidupan dan keluarga yang mereka miliki. Kemampuan ketujuh remaja ini juga sering diragukan oleh semua orang. Orang-orang menganggap, bagaimana mungkin anak-anak lulusan SMA mampu mengelola sebuah bisnis besar yang diberi nama “Kampung Kidz”.

Mereka dihadapkan pada tantangan perpecahan tim karena ego masing-masing. Hingga pada satu waktu, Koh Jul yang merupakan pendiri sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI), sekaligus pendamping anak-anak remaja ini melakukan perjalanan beberapa hari ke luar kota sehingga tidak bisa mendampingi anak-anak.

Konflik antar tim pun semakin menjadi-jadi karena berbagai macam hal. Mulai dari target pekerjaan yang sulit dipenuhi, masalah percintaan khas remaja, hingga ada pihak-pihak yang membuat anak-anak remaja ini berkonflik satu sama lain.   

Tak berhenti di sana, perpecahan tim pun semakin memuncak saat ketujuh remaja ini harus pergi ke Eropa. Tentunya, perpecahan yang terjadi ini lagi-lagi karena ego masing-masing yang tak bisa ditekan. 

Bagaimana mereka menggapai mimpi-mimpi? Apakah perpecahan tim akan menghalangi mereka meraih dan mencapai mimpi? Haruskah sosok Koh Jul hadir agar anak-anak remaja ini kembali bersatu dan meraih semua mimpi-mimpi mereka?

“Anak Garuda” merupakan film yang syarat akan perjuangan meraih mimpi dan kesuksesan di tengah keterbatasan. Film ini menyampaikan satu pesan pada kita semua bahwa tak ada yang mustahil diraih dengan satu slogan khas “bisa tidak bisa harus bisa”! Semangat perjuangan yang ditunjukkan oleh Olfa, Wayan, Sheren, Dila, Sayidah, Yohana dan Robet menunjukkan pada kita semua bahwa setiap orang bisa meraih mimpi dan mencapai kesuksesan melalui perjuangan keras dan kemauan untuk berubah. 

Satu kekurangan film ini adalah tidak adanya teks terjemahan ke bahasa Indonesia saat beberapa tokoh berdialog dengan bahasa Jawa dan bahasa Inggris. Meskipun mungkin banyak orang yang sudah memahami bahasa Jawa dan bahasa Inggris, namun akan lebih baik jika teks terjemahan bahasa Indonesia tetap diberikan karena film ini ditayangkan secara Nasional di Indonesia.  

Terlepas dari kekurangan tersebut, film “Anak Garuda” merupakan film inspiratif yang wajib ditonton oleh berbagai kalangan, khususnya anak-anak muda. Mengingat, banyak sekali pesan positif yang disampaikan melalui film ini. 

Baca juga:

  1. Review Film “Keluarga Cemara” : Keluargaku adalah Harta Terindahku
  2. “Dancing in The Rain”, Perjalanan Persahabatan Anak Autis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *