Review

“Dancing In The Rain”, Perjalanan Persahabatan Anak Autis

Ketika seorang anak lahir ke dunia, ia membawa harapan dari orang tuanya agar anaknya tumbuh sehat, cerdas dan tidak kurang suatu apapun.

Anak-anak dirawat, dijaga dan diperhatikan perkembangannya setiap saat. Namun, bagaimana dengan orangtua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus? Apakah Anda lantas meninggalkan anak tersebut? Menganggapnya kurang cerdas? Bahkan menganggap anak sebagai beban dalam hidup? Inilah yang dialami oleh Banyu dalam film “Dancing In The Rain”.

Film yang sarat akan kisah cinta, kasih dan persahabatan ini bercerita tentang perjalanan hidup Banyu (Dimas Anggara). Banyu memang hanya tinggal berdua dengan Eyang Uti (Christine Hakim). Sejak bayi Banyu sudah ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Namun, Banyu tidak pernah kehilangan rasa cinta dari Eyang Uti. Semua berjalan wajar bagi Eyang Uti sampai Eyang menghadapi kenyataan pahit ketika cucu tercintanya memasuki usia sekolah. Ya, Banyu didiagnosis memiliki spectrum autis dan sulit berinteraksi dengan orang sekitar.

Mendengar kenyataan tersebut Eyang Uti sangat sedih dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hingga psikolog memberikan saran untuk mendukung Bayu berinteraksi dengan teman-teman sebaya. Psikolog pun menguatkan hati Eyang Uti, bahwa Banyu adalah anak yang sangat cerdas. Bahkan kecerdasannya di atas rata-rata. Mendengar hal ini, Eyang Uti merasa cukup lega.

Keadaan bertambah baik saat Radin (Deva Mahendra) dan Kinara (Bunga Zainal) menjadi teman-teman Banyu. Ketiganya pun bersahabat hingga dewasa. Ketulusan persahabatan mereka sungguh membawa kebahagiaan bagi Eyang Uti dan terlebih bagi Banyu. Radin dan Kinara selalu melindungi Banyu saat Ia mengalami bullying. Namun kebaikan hati Radin terhadap Banyu justru ditentang oleh Ibu Radin.

Ibu Radin selalu mencari cara untuk memisahkan persahabatan ketiganya. Ibu Radin menganggap bahwa Banyu adalah beban bagi anaknya. Hingga Pada akhirnya Banyu dituduh mencelakakan Ibu Radin. Radin pun percaya dan meninggalkan Banyu. sementara Kinara tak dapat berbuat apa-apa karena saat itu terbaring lemah di rumah sakit.

Konflik kian memuncak saat Radin terkena serangan jantung. Nyawa Radin bahkan hampir tidak tertolong, namun Banyu berusaha keras untuk menyelamatkan orang-orang yang dia sayangi. Bagaimana caranya?

‘Dancing in The Rain’ sangat menguras emosi dan air mata. Konflik yang disuguhkan cukup sederhana namun, jika konflik ini dihadapkan pada seorang penderita autis, maka menjadi hal yang sangat luar biasa. Kekuatan cinta dan kasih yang diperlihatkan oleh Radin dan Kinara, mengingatkan kita untuk tidak menjauhi anak-anak berkebutuhan khusus.

Seperti kata Howard Gardner, Ph.D, bahwa “setiap anak itu cerdas dan unik”, bahkan bagi anak dengan autisme. Sebagai manusia, sudah seharusnya kita tidak meninggalkan, menjauhi apalagi sampai menelantarkan anak-anak berkebutuhan khusus. Sudah seharusnya kita merangkul anak-anak ini dan memberikan dukungan terbaik bagi pertumbuhannya. Anak dengan Austisme bukan anak yang kurang cerdas apalagi anak yang terbelakang. Anak dengan autis ini justru anak dengan kecerdasan di atas rata-rata. Itulah mengapa kita harus mengenal lebih dekat tentang autisme sebelum memperlakukan mereka dengan negatif atau kasar.

Terlepas dari konflik yang ada, film ini mengedepankan rasa kasih dan cinta yang luar biasa dari orang tua kepada anak, juga dari persahabatan yang terjalin. Film ini pun cocok bagi semua umur. Anda tentu bisa menontonnya bersama dengan anak. Sembari memberi pelajaran tentang hidup.

Satu kekurangan film ini adalah tidak adanya teks dalam bahasa Indonesia saat Eyang Uti menyampaikan beberapa dialog dengan menggunakan bahasa Jawa. Walaupun dialog tersebut hanya sedikit, tapi bagi orang yang sama sekali tidak memahami bahasa Jawa maka bisa jadi tidak mengerti.

Judul yang dipilih yaitu “Dancing In The Rain” atau menari di bawah hujan bisa menjadi suatu simbol bahwa dalam hidup, akan ada saat-saat sedih yang datang seperti hujan atau seperti badai. Kita tak selalu harus menanti saat-saat buruk itu pergi, tetapi kita bisa belajar untuk menari dalam hujan dan tetap berbahagia karenanya.

Baca juga review film lainnya :

  1. Tanda Cinta Dalam Film “Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi”
  2. “Damai Dengan Ibu”, Film Pendek Tentang Konflik Ibu Muda Dengan Orang Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *