Banner Header Tanya Ahli SOP

Mengenal Lebih Dekat tentang Autisme

Browse By

“Jangan kayak orang autis gitu deh. Sukanya sibuk sendiri sama HP.”

“Gak bisa diem banget sih, kayak autis aja.”

Anda tentu pernah mendengar kalimat-kalimat di atas.

Sebenarnya pernahkah berpikir, penggunaan autis sebagai olok-olok atau sindirian sebenarnya tidak pantas?

Pernahkah sedikit saja kita berpikir dari sudut pandang anak-anak autis?

Tidak ada anak yang ingin dilahirkan dengan autisme. Sama seperti orangtua yang tidak ingin anak mereka menjadi autis. Lalu, bagaimana jika anak terlahir dan tumbuh dengan autisme? Mendidik mereka saja rasanya sudah sangat berat. Apakah masyarakat harus menambah beban mereka denganmenjadikan autisme sebagai bahan guyonan atau ejekan?

Satu hal yang perlu kita tahu adalah bahwa autisme tidak disebabkan oleh kesalahan pola asuh, rasa malu yang berlebihan, atau trauma masa kecil.

Autisme adalah gangguan perkembangan yang hampir semua peneliti medis sepakat bahwa faktor genetis mempunyai peran. Jadi, bukan salah orangtua jika mereka memiliki anak dengan gangguan autisme. Jangan terus-menerus menyalahkan orangtua memiliki seorang anak yang autis. Dukunglah mereka karena mendidik anak dengan autisme tidak semudah mendidik anak biasa. Berhenti memberikan stigma dan label-label negatif pada mereka.

Mengenal Autisme Secara Medis

Autisme adalah gangguan perkembangan yang mulai terjadi pada masa perkembangan awal anak. Gangguan ini termasuk dalam kategori Autism Spectrum Disorder. Gangguan autisme bisa diidentifikasi dengan adanya kesulitan dalam berkomunikasi, berinteraksi, serta beraktivitas. Anak dengan autisme memiliki beragam kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari karena mereka tidak dapat melakukan hal-hal yang menurut orang biasa sangat mudah. Saat ini, ASD (Autism Spectrum Disorder)  dibagi dalam tiga kategori, yaitu:

1.     Gangguan Autisme (classic Autism)

Ini adalah apa yang kebanyakan orang pikirkan ketika mendengar kata “autisme.”   Orang-orang dengan gangguan autistik biasanya memiliki keterlambatan bahasa yang signifikan, tantangan sosial dan komunikasi, dan perilaku dan minat yang tidak biasa.

2.   Sindrom Asperger

Orang dengan sindrom Asperger biasanya memiliki beberapa gejala gangguan autis yang lebih ringan. Mereka mungkin memiliki tantangan sosial dan perilaku dan minat yang tidak biasa. Namun, mereka biasanya tidak memiliki masalah dengan bahasa atau intelektual.

3.   Gangguan Perkembangan Pervasif / PDD-NOS (Autism Atopic)

Orang yang memenuhi beberapa kriteria untuk gangguan autistik atau sindrom Asperger, tetapi tidak semua, dapat didiagnosis dengan PDD-NOS. Orang dengan PDD-NOS biasanya memiliki gejala yang lebih sedikit dan lebih ringan daripada mereka dengan gangguan autistik. Gejala-gejalanya mungkin hanya menyebabkan tantangan sosial dan komunikasi.

Berdasarkan tingkat keparahannya, gejala autisme pada anak dikategorikan menjadi “high function” dan “low function”. Anak dengan kategori “low function” bisa tantrum dan berperilaku kurang bagus di kehidupan sosialnya, sedangkan anak dalam kategori “high function” cenderung lebih bisa mengontrol emosi dan perilakunya, tetapi masih kesulitan dalam berteman dan berkomunikasi. Anak-anak autisme sangat rentan dengan perundungan atau bullying. Kelak, ketika mereka telah dewasa, anak dengan autisme yang tidak ditangani dengan baik mungkin akan kesulitan mencari pekerjaan karena kemampuan sosial mereka yang lemah.

Deteksi Dini Anak-Anak dengan Autisme

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, autisme adalah gangguan perkembangan yang bisa dideteksi lebih awal sebelum usia tiga tahun, beberapa penelitian menyebut autisme bisa dideteksi pada usia 18 bulan. Apabila seorang anak menunjukkan gejala autisme, kemungkinan besar dia memiliki gangguan autisme. Anak dengan gangguan autisme membutuhkan penanganan khusus. Penanganan sejak dini bisa membantu anak untuk menjadi lebih baik. Banyak anak yang bisa pulih dari autisme. Meskipun tidak bisa 100 persen sembuh, namun mereka punya kesempatan untuk memiliki kehidupan yang baik dan masa depan yang cerah.

Untuk memberikan pertolongan dini pada anak dengan autisme, kita harus bisa mendeteksi gejalanya.

Anak balita yang menderita autisme biasanya tidak:

  1.       Mengikuti objek  secara visual
  2.       Mengikuti gerakan orang yang menunjuk benda
  3.       Melakukan kontak mata
  4.       Merespons suara yang familiar atau menoleh jika dipanggil namanya
  5.       Meniru berbagai ekspresi wajah, seperti tertawa, tersenyum, dan menangis
  6.       Menggunakan gerakan untuk menarik perhatian
  7.       Bersuara untuk menarik perhatian
  8.       Merespons ajakan bermain atau pelukan
  9.       Minta dipeluk atau digendong
  10.      Minta bantuan.

Jika anak-anak menunjukkan gejala seperti yang dijelaskan di atas, segera konsultasikan kepada dokter anak atau terapis anak. Penanganan yang tepat sedini mungkin sangat baik untuk membantu anak-anak agar tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *