Tanda Cinta dalam Film “Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi”

09 Februari 2018

Tanda Cinta dalam Film “Bunda: Kisah Cinta Dua Kodi”

Hubungan keluarga bagaimanapun cacatnya tetap punya tanda cintanya masing-masing. Seperti halnya sebuah benda, tak ada keluarga yang sempurna. Proses menyatukan dua kepala tidak pernah sesederhana yang terlihat. Ada proses yang panjang, perdebatan yang tak ada habisnya, bahkan hampir berujung pada perpisahan. Inilah yang terjadi dalam film “Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi”. Kisah ini dimulai dari sebuah perdebatan tentang adanya pihak ketiga.

Film ini diperankan oleh tokoh-tokoh senior seperti Acha Septriasa (Ika Kartika), Ario Bayu (Fahrul), Inggrid Widjanarko (Encus), dan Wulan Guritno (Bos Ira). Diakui atau tidak, konflik dalam film ini hampir dirasakan oleh sebagian besar wanita. Problematika Ibu bekerja jelas menimbulkan dilema tersendiri. Itulah yang dirasakan Bunda Ika. Di satu sisi, Bunda ingin masa depan anak-anaknya cerah dengan menyiapkan dana pendidikan untuk mereka. Akan tetapi, di sisi lain, ia harus merelakan waktunya bersama keluarga.

Konflik dalam film ini dimulai ketika Fahrul (Ario Bayu) harus kehilangan kontrak penelitian geologinya. Pembatalan kontrak tersebut menimbulkan kerugian yang besar. Untuk menutup kerugian tersebut, Fahrul harus menggunakan uang tabungan mereka yang sebenarnya disiapkan untuk pendidikan kedua anak mereka. Hal ini membuat Bunda Ika mengambil alih peran sang suami dengan mendirikan KeKe Collection. Berawal dari modal baju dua kodi, usaha Bunda Ika berangsur naik hingga diundang ke Kids Fashion Show.

Pasti ada satu titik di mana urusan karier dan keluarga tidak bisa berimbang. Di saat usaha Bunda sedang naik, justru urusan rumah tangganya yang kacau. Kesibukannya mengembangkan bisnis membuat Bunda Ika lalai dalam menjaga dan mendidik anak-anak. Sang suami yang mengambil peran menjaga anak malah kerap disalah-salahkan karena tidak bisa mendidik anak dengan baik. Bunda dengan segala keegoisannya merasa bahwa dialah yang paling banyak berjuang untuk keluarganya. Sementara sang suami yang hanya bertugas mengurus anak malah tidak menjalankan perannya dengan baik. Hasilnya, nilai rapor Amanda, putri sulung Bunda, dipenuhi dengan nilai merah.

Permasalahan ini kian memuncak. Perdebatan antara Bunda dan Fahrul berujung pada keputusan Fahrul untuk mengambil proyek di luar kota. Ia pergi dari rumah. Anak-anak yang selama ini lebih dekat dengan ayahnya pun merasa sangat kehilangan. Akhirnya, anak-anak pun menyusul ayahnya. Situasi semakin rumit karena kehadiran orang ketiga. Di proyek tersebut, Fahrul bertemu lagi dengan Lina, seseorang yang pernah hampir dinikahinya.

 

Bagaimanapun, film keluarga ini cukup menguras emosi para penonton. Konflik yang disuguhkan sangat dekat dengan realitas yang ada belakangan ini. Sebagian dari kita mungkin sudah akrab dengan ibu bekerja. Ada dilema besar yang mana seorang wanita harus dipaksa memilih antara karier atau keluarga.

Terlepas dari segala kerumitan dan konflik yang ada, film ini dibungkus menggunakan simbol cinta yang sangat filosofis; sebuah Keong. Ibu diibaratkan sebagai rumah keong. Kemanapun keong melangkah, ia selalu membutuhkan rumah. Bagi seorang anak, ibu adalah rumah mereka. Ke mana pun mereka pergi, pada titik tertentu ia pasti akan pulang ke rumah.

Bagaimana Menurut Anda?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Share with love