Banner Header Tanya Ahli SOP

Anak Manipulatif, Kok Bisa?

Browse By

Pernah dengar cerita tentang anak yang pura-pura menangis agar kenginannya dituruti? Bagaimana kalau yang melakukannya adalah anak berumur 2 tahun? Apakah memang wajar?

Kisah lain, Noni , umur 5 tahun, sedang dilarang ibunya makan coklat karena batuk. Tapi ia bisa membujuk seorang sepupunya yang sedang datang main ke rumah, untuk mengambil coklat yang disimpan sang ibu di lemari es. Ketika ketahuan, Noni bedalih sepupunyalah yang ingin makan coklat dan memaksa berbagi dengan dia. Sang Ibu tahu Noni berbohong, tapi heran juga karena si sepupu tidak merasa dipaksa Noni, dan sebenarnya umur sang sepupu lebih tua setahun, yang harusnya tidak mudah menuruti anak yang lebih muda. Inikah bibit-bibit anak yang manipulatif?

Pertama-tama, jelas bahwa anak-anak manipulatif bukanlah anak-anak yang jahat. Namun mereka adalah anak-anak yang telah belajar perilaku yang tidak pantas untuk mendapatkan hal-hal yang mereka ingin dan butuhkan. Semua perilaku manusia adalah untuk memenuhi suatu tujuan. Semua perilaku adalah sarana untuk mencapai tujuan. Demikian juga dengan anak-anak.

Anak melakukan sesuatu karena  menginginkan sesuatu dan karena ia membutuhkan sesuatu. Mereka butuh pengertian. Mereka membutuhkan cinta.

Anak-anak belajar bagaimana dunia bekerja. Mereka tidak terlahir dengan pemahaman yang jelas akan segala sesuatu dan karenanya mereka harus mempelajari peraturan kita, para orang dewasa. Kita mengajari anak-anak untuk mengatakan “tolong” untuk mendapatkan kue dan mereka dengan patuh mengatakan “tolong.” Tetapi, terkadang, tanpa sengaja, kita juga mengajari mereka untuk menangis agar mendapatkan kue dan begitulah mereka belajar.

Usia 2 tahun dalam psikologi perkembangan anak , berarti anak mengerti bahwa menangis mendapat perhatian, yang merupakan tonggak perkembangan yang hebat dan penting dan tahap selanjutnya dia perlu mempelajari seni komunikasi yang lebih tepat. Dia tidak tahu bahwa menangis – dalam pikiran orang dewasa -adalah upaya terakhir, tindakan putus asa. Dia tidak tahu bahwa kami mengharapkan dia untuk mulai menggunakan kata-katanya. Dia baru mulai belajar itu.

Karenanya, orang tua perlu mengajarkan pada anak 2 hal berikut ini:

Batas:  Kita harus mulai berpegang pada “tidak” bahkan di hadapan air mata anak yang bisa sangat menyayat hati.

Empati : Anak harus memulai perjalanan panjang untuk memahami bahwa kebutuhan dan keinginannya tidak selalu diutamakan.

Jika dia tidak mengerti hal itu, ia tidak akan berhenti. Baginya, menangis – salah atau tidak – bisa memenuhi kebutuhannya. Mengapa dia tidak ingin memenuhi kebutuhannya? Sama seperti dia dengan senang hati berkata “tolong”, jadi dengan senang hati dia marah dan terisak-isak.  Kalau ia sudah biasa menangis dan marah, lalu hal itu bisa berhasil, mengapa harus coba cara lain seperti berbicara misalnya? Jadi batas sangat penting.

Di sisi lain, empati juga sangat penting.

Tidak ada anak yang bisa mendahulukan perasaan orang lain di atas dirinya sendiri sampai dia percaya bahwa kebutuhannya akan terpenuhi dan sampai dia yakin bahwa kebutuhan orang lain sama pentingnya – dan terkadang lebih penting – daripada kebutuhannya sendiri. Ini akan jadi pelajaran yang cukup sulit untuk anak.

Di kasus Noni, bisa jadi ia belajar dari lingkungannya atau –seperti yang diduga banyak orang tua—dari televisi. Bila ini yang terjadi, orang tua harus cepat mencari penyebabnya. Anak yang bisa sampai di titik memanipulasi anak lain sebenarnya adalah anak yang cerdas, ia mengamati dengan baik bagaimana orang lain bisa mendapatkan keinginan mereka. Orang tua bisa jadi harus lebih reflektif, apakah anak belajar dari sosok lain, ataukah jangan-jangan belajar dari keseharian orang tua.  Perilaku kita yang sering tanpa sadar menyalahkan orang lain bisa jadi memicu anak berbuat serupa.

Jadi bagaimana mencegah atau menghentikan anak dari perilaku yang manipulatif ini?

  • Kenali Perilaku Manipulatif

Kenali perilaku manipulatif sehingga Anda tidak terbawa olehnya. Secara naluriah, sebagai bagian dari hidup anak-anak, mereka datang dengan satu cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan menghindari apa yang tidak mereka inginkan. Cara ini bekerja saat mereka memicu reaksi di dalam diri kita.

Misalnya, anak Anda mungkin mencoba “memeras” Anda secara emosional dengan berlaku sedih sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Ini akan menjadi pemicu bagi Anda jika Anda yakin pekerjaan Anda adalah menjaga agar anak Anda tetap bahagia. Mulailah dengan bertanya pada diri sendiri apakah pekerjaan Anda adalah membuat anak Anda bahagia atau membantunya mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan. Jika jawabannya adalah yang kedua, maka Anda bisa menjawab tangisa anak anda dengan seperti ini; “Ibu tahu kamu sedih, tapi coba bilang dulu apa yang sebenarnya kamu ingin tidak dengan tangisan.”

Mengatasi anak manipulatif

  • Ketahui Pemicu Anda

Pemicu adalah perilaku yang mengganggu Anda dan membuat Anda marah dan cepat bereaksi.

Bisa jadi nada suara, tatapan tertentu, sikap atau tindakan tertentu. Jika orang tua sadar perilaku atau hal apa yang bisa jadi pemicunya, maka anda akan bisa menahan ketika anak melakukan hal itu. Misal, anda selalu cepat bereaksi ketika anak berteriak sambil menangis atau ketika mereka mulai menarik tangan anda, cobalah untuk abai ketika mereka melakukan hal itu. Tips: Duduklah dan buat daftar tiga pemicu utama Anda. Pikirkan apa yang bisa anda lakukan bila anak mencoba memancing reaksi anda.

  • Tentukan Prinsip Diri dan Prinsip Parenting Anda

Perilaku manipulatif anak dirancang untuk membuat Anda kehilangan keseimbangan dan menciptakan keraguan diri. Mengetahui kekuatan Anda sendiri sebagai orang tua akan membantu Anda ketika anak-anak mendatangi Anda dengan cara cerdik untuk membuat Anda tidak yakin dengan diri sendiri dan kehilangan kendali. Tahan diri Anda dengan berpegang pada prinsip parenting keluarga. Berhati-hatilah untuk tidak membiarkan emosi anak-anak mendorong Anda. Dengarkan perasaan mereka sehingga mereka tahu bahwa Anda peduli, namun tetap berpegang pada peraturan yang telah Anda tetapkan. Membimbing anak-anak dengan prinsip-prinsip yang dipikirkan dengan baik pada umumnya akan lebih berhasil daripada memastikan setiap orang merasa nyaman.

  • Cara Pendekatan

Jangan marah pada anak karena ia mencoba mendapatkan apa yang dia inginkan dalam hidup, karena sebenanrya yang ia lakukan adalah insting dasar. Mari berempati pada keinginan dan kebutuhannya sambil membantunya belajar bagaimana mendapatkan apa yang dia inginkan secara langsung, lebih  jujur, ​​dan efektif.

Bila anak Anda meminta apa yang dia butuhkan, dengarkanlah. Berikan permintaannya dengan pertimbangan bahwa itu layak ia dapat. Itu tidak berarti selalu mengatakan ” ya”, tapi itu berarti menunjukkan pada mereka beberapa contoh jujur. Jika anak Anda tahu bahwa dia bisa mendatangi Anda dan meminta langsung dengan baik, kemungkinan besar dia akan berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cara yang anda sepakati.

  • Percaya pada Anak Anda

Percayalah pada niat baik anak Anda. Percayalah padanya. Pahami bahwa anak-anak sedang dalam proses. Mereka mungkin perlu mempelajari cara yang lebih baik untuk mengelola diri mereka sendiri dalam kehidupan, tapi tidak jahat atau berbahaya. Niat mereka bukan untuk “mengerjai” atau membuat hidup kita sengsara.

Namun, jika kita percaya itu niat mereka, maka kita akan melihat mereka seperti itu. Percaya pada anak-anak kita akan membantu mereka melihat diri mereka dengan segala kebaikan yang ada di dalamnya dan dengan semua niat terbaik mereka.

  • Tenangkan Diri Anda

Pelajari cara menenangkan diri saat Anda cemas atau tertekan. Bertanggung jawab atas kesehatan emosional Anda sendiri. Jangan menyerah pada manipulasi anak-anak Anda hanya untuk merasa lebih tenang.  Tapi setiap kali Anda membenarkan perilaku mereka dan membiarkan mereka lolos, Anda bisa saja merasa lebih baik tapi mereka tahu bahwa perilaku ini efektif dan mereka tumbuh dengan pemahaman yang keliru. Mengelola ketenangan dan kebahagiaan Anda sendiri akan membuat anak-anak Anda untuk belajar mengelola kehidupan mereka sendiri dan memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang lebih tepat.

Anak-anak melakukan pekerjaan mereka: meminta pada kita melalui perilaku mereka untuk menjadi pemimpin mereka – untuk menetapkan “pagar batas” mereka. Meskipun mereka jarang mengatakannya dengan jelas, anak-anak membutuhkan kita untuk jadi “ tulang punggung”. Ingat ketika anak-anak kita bayi dan mereka akan menguji kita untuk melihat seberapa jauh kita bisa berusaha dan di mana batas-batasnya?

Anak-anak kita ingin kita menjadi kuat untuk mereka. Ya, mereka menginginkan apa yang mereka inginkan, tapi pada tingkat yang lebih dalam mereka tak ingin kita membiarkan mereka tumbuh dengan mengembangkan karakter buruk. Mereka ingin kita membantu mereka belajar bagaimana mentolerir batas-batas dalam hidup dan belajar untuk menerima ketika tak semua yang dinginkan mereka dapat.  Lalu, darimana mereka bisa merasa dibatasi sekaligus cintai bila tidak dari orang tua?

Baca juga:

  1. Mental Anak Kuat dengan Kompetisi Sehat
  2. Menghadapi Anak yang Sering Berbohong

 

3 thoughts on “Anak Manipulatif, Kok Bisa?”

  1. Aulia Risma says:

    yang paling susah dalam menghadapi anak yang manipulatif adalah mengahadi diri kita sendiri. Saya merasakan itu. artikel ini membuat saya lebih berpikir ke diri saya sendiri. menjadi orangtua yang kuat sangat sulit.

    1. School of Parenting says:

      Betul sekali Parent, semoga artikel ini bisa membantu 🙂

  2. Nur says:

    Susah prakteknya …hebat orangtua yg sudah melawati fase ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *