Banner Header Komunitas SOP

“Anakku Minta Perempuan Sexy”: Berbagi Pengetahuan Soal Seks, Perbedaan, Toleransi, dan Motivasi Belajar

Browse By

Jika ditanya ingin menjadi orang tua seperti apa? Tentu ingin menjawab “jadi orang tua hebat untuk anak-anak”. Tapi kata-kata “hebat” sepertinya bukan kata yang sederhana untuk diwujudkan dalam mengasuh buah hati.

Menjadi orang tua hebat membutuhkan pengetahuan, waktu dan pengalaman. Sepertinya ini yang ingin disampaikan oleh penulis buku “Anakku Minta Perempuan Sexy”, Kristin Samah yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Dari judul buku ini saja kita sudah bisa menebak bahwa isinya seputar pengalaman pribadi sebagai orang tua.

Tokoh utama Buku “Anakku Minta Perempuan Sexy” ini adalah Kristin Samah dan putra tunggal nya Resa Christian Samah. Buku ini terdiri dari 129 halaman dengan 24 bab dan 24 sub judul. Tiap sub judul diawali dengan prolog yang mencerminkan hal yang ingin diceritakan penulis melalui buku ini.

Seperti prolog pada sub judul “ Minta Perempuan Sexy” yaitu,

Di usia empat tahun anak anak mulai belajar perbedaan jenis kelamin dengan orang di sekitarnya. Pada saat itu mungkin kamu mulai melihat perbedaan bentuk tubuh perempuan dengan bentuk tubuhmu melalui cara berpakaian dan bertingkah laku sehingga kamu ingin memilikinya”. (halaman 1)

Prolog ini mengawali cerita penulis sebagai seorang ibu yang mendengar anaknya meminta perempuan sexy. Pada bagian ini diceritakan bagaimana Kristin Samah menanggapi permintaan “aneh” dari anaknya yang masih kecil. Sebagai seorang ibu tentunya ia sangat kaget, tapi hal yang selalu dilakukannya adalah berusaha tenang dan menjelaskan dengan cara sederhana tapi mudah dipahami.

Buku ini memang bercerita tentang pengalaman pribadi Samah dalam mengasuh anak laki-laki semata wayangnya. Melalui buku ini, ia ingin berbagi pengalaman serta kekhawatirannya tentang pola asuh orang tua kepada anaknya.

Buku ini mengajarkan orang tua untuk selalu mengikuti perkembangan anak mereka. Ini berarti orang tua harus mendidik anak sesuai usianya. Samah menceritakan setiap pengalaman berharga yang dialami bersama dengan putranya dari kecil hingga dewasa.

Kegundahan sebagai orang tua secara jujur disampaikan melalui buku ini. Rasa bersalah meninggalkan anak bersama pengasuh di rumah, rasa bersalah membagi waktu lebih banyak pada pekerjaan dan teman-teman kantor daripada dengan anak, sampai bingung bagaimana menjelaskan sesuatu kepada anak menjadi hal yang diutarakan oleh penulis.

Kita bisa bercermin melalui buku ini tentang berbagai hal yang dialami oleh anak dan bagaimana cara menghadapi nya sebagai orang tua berdasarkan pengalaman Samah.

Buku ini dikemas begitu ringan dibaca bagi semua kalangan masyarakat. Karena merupakan pengalaman pribadi dari penulis yang hampir dirasakan oleh semua orang tua. Ini adalah buku wajib yang harus dimiliki orang tua agar lebih memahami bagaimana harus bersikap menghadapi anak-anak.

Satu hal yang selalu ingin disampaikan oleh penulis melalui buku ini adalah pentingnya komunikasi antara anak dan orang tua. Samah menjelaskan sebagai orang tua seharusnya bisa membangun jembatan penghubung dengan anak.

Hal ini bertujuan agar kita tidak akan pernah merasa tertinggal tentang hal-hal yang sedang atau telah dihadapi dan dilalui oleh anak di luar sana. Sebagai seorang ibu dari anak laki-laki, samah juga ingin menyampaikan bahwa komunikasi yang dibangun antar anak dan ibu menjadi pondasi yang penting dalam pola asuh (parenting).

Dengan begitu diharapkan anak tidak tersesat dalam menjalani kehidupannya. Karena orang tua akan selalu mendampingi dan menjadi teman terdekat anak. Anak pun merasa nyaman dan leluasa bercerita segala sesuatu kepada orang tua. Bahkan tentang masalah seks sekalipun.

Halaman akhir buku ini ditutup dengan menarik oleh penulis. Kristin Samah sekali lagi menyampaikan apa yang menjadi hal penting dalam parenting. Ia menegaskan bahwa mengasuh dan mendidik anak bukan pekerjaan yang mudah. Tak pernah ada resep yang sama untuk semua orang.

Menurutnya, mengasuh dan mendidik anak bukanlah sekedar memilih makanan bergizi, mencarikan mainan yang baik atau memasukkan ke sekolah yang berkualitas. Ia menambahkan bahwa yang paling penting dalam parenting adalah penanaman budi pekerti. Dan ini berarti peran keluarga menjadi paling utama dari pada peran pendidikan formal seperti sekolah.

Buku ini memang menceritakan tentang kehidupan seorang anak, namun penulis tidak selalu melengkapi nya dengan detail usia sang anak sendiri. Seperti saat penulis dan anaknya memutuskan untuk menggunakan panggilan “lu dan gue”. Atau berapa usia anak saat belajar tentang perbedaan antar umat beragama. Bahkan sejak kapan anak mulai meniru ungkapan-ungkapan negatif dari teman-temannya.

Ingin melengkapi koleksi buku Parenting? Buku ini adalah pilihan yang cocok. Parents bisa membeli buku ini pada toko-toko buku terdekat.

“Di usia empat tahun anak-anak mulai belajar perbedaan jenis kelamin dengan orang di sekitarnya. Pada saat itu, mungkin kamu mulai melihat perbedaan bentuk tubuh perempuan dengan bentuk tubuhmu melalui cara berpakaian dan bertingkah laku sehingga kamu ingin memilikinya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *