Banner Header Komunitas SOP

Bolehkah Ajarkan “Rahasia” Pada Anak?

Browse By

Saat kita mendengar kata “rahasia”, tentu hal pertama yang terlintas di benak adalah sesuatu yang tidak boleh dikatakan. Bagi orang dewasa, “rahasia” bisa menyangkut banyak hal. Mulai dari rahasia tentang masalah orang lain, hingga rahasia terkait permasalahan pribadi. Rahasia tentang sesuatu akan dijaga oleh orang dewasa agar tidak diketahui oleh orang lain, dengan berbagai macam alasan.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan anak-anak? Bolehkah anak-anak memiliki rahasia? Atau, bolehkah kita sebagai orangtuanya meminta anak untuk menjaga rahasia? Serta bolehkah mengajarkan rahasia pada anak?

Jawabannya adalah boleh!

Ya, anak boleh saja memiliki rahasia, dan orangtua boleh saja mengajarkan tentang rahasia pada anak dengan maksud dan tujuan tertentu. Dan, tentu saja tujuan yang dimaksud adalah tujuan yang baik untuk anak.

Artinya orangtua boleh saja mengajarkan anak tentang rahasia atau meminta anak untuk menjaga rahasia. Asalkan rahasia tersebut tidak mengandung hal yang menyakiti hati orang lain apabila anak melanggar janjinya untuk menjaga rahasia.

Itulah mengapa, banyak ahli yang membedakan rahasia menjadi dua, yaitu rahasia baik dan rahasia buruk. Rahasia baik biasanya berkaitan dengan informasi menyenangkan bagi anak. Sedangkan rahasia buruk selalu mengandung informasi yang negatif dan kurang baik.

Contoh kasus rahasia baik :
  • Saat Anda ingin memberikan kejutan pada istri karena sedang berulang tahun, lalu Anda meminta Anak untuk merahasiakan hadiah berupa bunga yang sudah dipersiapkan. Kemudian Anda berkata, “Dek, jangan bilang Mama ya, kalau Papa membeli bunga. Nah, nanti setelah Mama pulang kita sama-sama bernyanyi selamat ulang tahun.
  • Nenek ingin berkunjung. Ia mengatakan pada cucunya yang masih kecil untuk merahasiakan kedatangannya agar menjadi kejutan bagi Ayah.
Contoh kasus rahasia buruk :
  • Saat seorang anak laki-laki mendorong teman perempuannya sampai terjatuh. Lalu, anak laki-laki tersebut mengancam anak perempuan tersebut untuk merahasiakan perilaku buruk itu dari orangtuanya.
  • Seorang predator anak meraba bagian tubuh seorang anak. Ia meminta anak untuk merahasiakan perbuatannya tersebut dengan mengatakan “Ini rahasia kita berdua”.

Jika dilihat dari contoh kasus di atas, maka Anda akan mudah memahami mana rahasia yang boleh dirahasiakan oleh anak, dan mana rahasia yang harus dikatakan oleh anak.

Bagian inilah yang menjadi hal cukup sulit bagi orangtua, karena orangtua harus mengajarkan anak mana yang baik dan mana yang buruk sebelum mengajarkan anak tentang rahasia.

Mengajarkan anak tentang rahasia memang tidak mudah dan tidak bisa dilakukan dalam waktu satu malam. Perlu latihan dan diskusi berulang kali untuk mengajarkan mana rahasia yang boleh dirahasiakan (rahasia baik) dan mana saja rahasia yang harus dikatakan oleh anak (rahasia buruk). Dalam hal ini, orangtua harus memegang dua kunci utama yaitu,

  • Rahasia baik boleh saja dilanggar oleh anak

Rahasia baik memang berisi informasi menyenangkan dan informasi positif sehingga jika anak mengatakan rahasia tersebut pada orang lain, maka tidak ada yang dirugikan atau tidak ada seseorang yang sakit hati. Hal yang sama juga dikatakan oleh Dr. Ann Lagges, seorang psikolog pediatrik pada fatherly.com. Menurut Dr. Ann, orangtua boleh-boleh saja mengatakan rahasia pada anak usia sekitar 7 tahun, asalkan rahasia tersebut berkaitan tentang pesta dan hadiah.

Akan tetapi, jangan marah jika anak tersebut tidak menjaga rahasianya dengan baik. Hal ini karena, rahasia baik memang dimaksudkan untuk segera terungkap.

  • Semua Rahasia anak harus diketahui orangtua dan tidak mengurangi rasa cintanya pada anak

Entah rahasia baik atau rahasia buruk, setiap orangtua seharusnya mengetahui rahasia anak. Hal ini dimaksudkan agar orangtua tetap mengetahui sampai dimana perkembangan anak, khususnya terkait masalah pergaulan. Banyak contoh kasus tentang rahasia anak yang justru menjadi bumerang bagi anak.

Misalnya masalah bullying di sekolah, dimana anak tidak berani mengatakan pada orangtua atau pihak sekolah karena takut disakiti oleh kelompok anak tertentu, masalah kekerasan pada anak yang dilakukan oleh pengasuh, masalah kekerasan seksual yang bisa saja mengancam anak di luar sana, termasuk saat anak mencoba untuk membolos sekolah Semua hal negatif ini seharusnya diketahui oleh orangtua dan sudah seharusnya tidak dirahasiakan oleh anak.  

Beberapa anak mungkin saja merahasiakan semua hal negatif tersebut karena takut jika dimarahi oleh orangtua. Untuk itu, orangtua perlu terus menerus mengingatkan anak bahwa apapun yang terjadi orangtua akan selalu mencintai anak-anaknya. Hal ini dimaksudkan agar anak selalu ingat bahwa, mereka berada di tempat yang aman bersama dengan orangtua. Sehingga semua rahasia yang dirahasiakan juga akan aman jika orangtua mengetahuinya.

Kapan Anak Perlu Merahasiakan Sesuatu?

  1. Saat informasi berisi hal yang menyenangkan.
  2. Saat anak diminta merahasiakan sesuatu, untuk kemudian segera diungkapkan.
  3. Saat hal yang dirahasiakan tidak berbahaya bagi dirinya atau bagi orang lain.

Kapan Anak Harus Mengungkapkan Rahasia?

  1. Saat informasi berisi hal yang buruk/negatif.
  2. Saat rahasia tersebut mengancam keselamatan dirinya atau orang lain.
  3. Saat rahasia tersebut terus menekan dirinya.

 

Mengajarkan rahasia pada anak sebenarnya boleh-boleh saja, asalkan rahasia tersebut berisi informasi yang menyenangkan seperti pesta, kejutan atau hadiah untuk orang lain. Yang perlu diperhatikan orang tua adalah bahwa setiap rahasia, entah rahasia baik atau rahasia buruk harus tetap diketahui oleh orang tua dan tidak boleh disembunyikan anak.

Pahami juga rasa takut, cemas atau khawatir yang dirasakan oleh anak saat ingin mengungkapkan rahasia tertentu yang selama ini telah disimpan anak. Ingatkan pada anak bahwa, apapun rahasia yang dimiliki anak, kita sebagai orang tua tidak akan membenci anak dan akan selalu mencintai anak sampai kapanpun. Hal ini akan membuat anak merasa nyaman dan aman saat mengungkapkan rahasianya.

Baca juga:

  1. Bela Diri, Tidak Selalu Secara Fisik
  2. Mendidik Anak Berarti Mendidik Diri Sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *