Hampir setiap orang pernah menyembunyikan perasaan mereka.
Misalnya, saat ada makan malam dengan teman-teman pasangan Anda bercerita kepada orang lain tentang kejadian dalam rumah tangga, yang menurut Anda seharusnya tidak diceritakan. Anda kesal dan malu, tetapi Anda berpura-pura semuanya baik-baik saja sampai tiba di rumah. Anda tidak ingin berdebat di depan banyak orang dan menimbulkan konflik. Namun, kami sadar, emosi yang Anda rasakan dalam perjalanan pulang ke rumah, atau setidaknya saat menunggu waktu yang tepat untuk meluapkan emosi Anda, bisa menjadi beban tersendiri. Dan tidak mudah pula untuk menyembunyikan emosi itu.
Mengapa Orang Menyembunyikan Perasaan?
Orang pada umumnya belajar untuk menekan emosi karena beberapa alasan utama:
-
Menghindari Konflik & Rasa Sakit yang Lebih Besar
Menunjukkan emosi dapat menempatkan seseorang di tempat yang rentan. Anda mungkin khawatir mengungkapkan emosi tertentu akan membuat orang lain menilai bahwa Anda tidak dapat mengelola perasaan Anda. Akibatnya, Anda menyembunyikan kesedihan, ketakutan, frustasi, dan emosi negatif lainnya. -
Menghindari Konflik & Rasa Sakit yang Lebih Besar
Saat orang terdekat melakukan sesuatu yang menyakitkan, refleks pertama kita sering kali adalah menahannya. Kita meyakinkan diri sendiri bahwa ini dilakukan “demi menjaga hubungan.” Memang benar, menyampaikan rasa kecewa secara langsung terkadang memicu pertengkaran. Demi menghindari drama atau rasa sakit dari konflik tersebut, kita memilih diam.
Namun, keputusan untuk selalu menghindar ini sering kali berakar dari rasa kurang percaya—baik ketakutan untuk mempercayai orang lain, maupun keraguan pada kemampuan diri sendiri dalam menyelesaikan konflik secara sehat.
-
Kehilangan Emotional Safety Sejak Masa Kecil
Kemampuan untuk jujur pada perasaan sendiri sangat dipengaruhi oleh bagaimana emosi kita diperlakukan saat tumbuh dewasa. Ketika seseorang dibesarkan di lingkungan yang sering meremehkan, mengkritik, atau menghakimi perasaannya—baik itu emosi negatif (seperti marah dan sedih) maupun emosi positif (seperti terlalu bersemangat)—ia akan belajar satu hal: menunjukkan emosi atau perasaan itu tidak aman.
Lama-kelamaan, muncul keyakinan terselubung bahwa “perasaanku nggak penting” atau “kalau aku jujur, aku cuma bakal dikritik lagi.” Pada akhirnya, memendam perasaan sejak dini menjadi mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) agar terhindar dari rasa ditolak atau disalahkan
Namun, selain dibesarkan dengan pola asuh yang terus-terusan mengkritik saat ia menunjukkan perasaan, dibesarkan oleh orang tua atau pengasuh yang menutupi emosinya sendiri juga dapat memperkuat gagasan bahwa ia harus melakukan hal yang sama.
Bagaimana Memendam Emosi Merusak Kualitas Hidup Anda?
Menyamarkan atau menekan perasaan mungkin terasa seperti solusi jangka pendek yang menyelamatkan. Namun secara bertahap, kebiasaan ini membawa dampak serius bagi kesehatan mental, fisik, dan kualitas hubungan Anda.
Salah satu dampak terbesarnya dimulai dari hal yang paling krusial: patahnya komunikasi.
1. Komunikasi Terputus dan Batas yang Makin Jauh
Saat Anda memilih diam, Anda sebenarnya sedang menutup pintu komunikasi yang jujur dengan orang-orang terdekat. Masalah yang tidak pernah dibicarakan tidak akan hilang begitu saja dan hanya mengendap di bawah permukaan.
-
Lingkaran Masalah yang Berulang: Karena lawan bicara tidak pernah tahu apa yang sebenarnya Anda rasakan, perilaku yang menyakiti Anda akan terus berulang.
-
Bom Waktu Kemarahan (Resentment): Rasa kekecewaan yang menumpuk perlahan berubah menjadi rasa benci terselubung (resentment). Hingga akhirnya, emosi tersebut meledak pada momen yang tidak terduga—memicu konflik besar yang justru paling ingin Anda hindari sejak awal.
-
Menarik Diri dari Hubungan: Saat lelah berpura-pura, Anda mungkin mulai menarik diri dan menghindari orang-orang tersebut. Hubungan berharga yang ingin Anda lindungi justru makin renggang dan berjarak.
2. Penumpukan Emosi
Berpura-pura tidak merasakan emosi bisa saja dilakukan, tetapi itu tidak membuatnya hilang. Yang terjadi, malah bisa sebaliknya, emosi tersebut akan semakin kuat.
Contoh paling umum adalah kemarahan. Banyak yang percaya bahwa lebih baik meredam amarah daripada mengungkapkannya.
Tetapi terus-terusan menahan amarah berbeda dengan mengatasinya, yang terjadi adalah, kemarahan terus menumpuk. Akhirnya, ketika Anda tidak bisa menahannya lebih lama lagi, ia meledak – dan bisa saja ledakannya bukan selalu pada orang yang membuat Anda marah.
3. Menghancurkan Hubungan.
Anda bisa bilang , “Aku baik-baik saja” atau “ Nggak apa-apa , kok. “, namun seseorang yang mengenal Anda dengan baik, akan tahu bahwa Anda menyembunyikan emosi.
Hal ini dapat membingungkan dan membuat frustasi. Jika mereka tahu Anda menutupi yang sebenarnya, mereka mungkin merasa sakit hati karena berarti Anda tidak percaya kepadanya.
Jika ini terjadi dalam sebuah hubungan seperti pernikahan atau pacaran, maka pasangan bisa mengira bahwa Anda berubah, atau menganggap Anda kerap berpura-pura. Akhirnya, mereka bisa mulai mempertanyakan kekuatan hubungan itu. Dan akhirnya, secara tidak langsung ini akan menghancurkan hubungan Anda.
4. Gangguan Kesehatan Fisik
Memendam emosi bukan cuma bikin kelelahan mental, tapi juga berdampak langsung pada tubuh. Riset menunjukkan bahwa kebiasaan menahan emosi secara kronis memicu lonjakan hormon stres yang meningkatkan risiko hipertensi, gangguan pencernaan, hingga melemahkan sistem imun. Artinya, saat Anda memilih ‘diam’, tubuh Anda sebenarnya ikut memikul bebannya.
Salah satu penjelasannya adalah ; emosi yang ditekan terus-terusan bisa menambah stres yang Anda alami. Stres yang tidak teratasi berpengaruh kepada kesehatan fisik, yang dapat menyebabkan : masalah tidur, tekanan darah tinggi, diabetes, masalah jantung.
JIka tidak segera ditangani dengan serius, masalah-masalah kesehatan fisik ini akan memburuk dan berakibat pada kematian dini.
Mengubah kebiasaan memendam perasaan memang tidak mudah, apalagi jika pola ini sudah terbentuk sejak lama. Namun, belajar mengekspresikan emosi secara sehat adalah langkah awal untuk mendapatkan kembali kedamaian diri dan memperbaiki kualitas hubungan Anda.
Jika Anda mulai merasa lelah berpura-pura, mati rasa, atau kesulitan mengomunikasikan isi hati Anda pada orang terdekat, psikolog kami siap mendampingi. Lewat konseling profesional, Anda akan mendapatkan tempat aman untuk mengurai beban emosi tanpa takut dihakimi, serta mempelajari keterampilan komunikasi asertif yang lebih sehat.

Baca Juga:
Membantu setiap
anggota keluarga bertumbuh
Dapatkan akses ke layanan
Asesmen • Konseling • Terapi