Banner Header Komunitas SOP

Oversharing: Ilusi Kemesraan di Media Sosial

Browse By

Sering membuka laman medsos dan melihat pasangan yang banyak mengunggah foto kemesraan? Apakah Anda merasa iri melihat postingan tersebut? Dalam hati mungkin berpikir kapan bisa foto mesra bahkan berlibur bersama pasangan?

Eits, jangan iri dulu. Ternyata pasangan yang oversharing kemesraan (berbagi kemesraan dengan berlebihan) di media sosial belum tentu memiliki kehidupan yang sama di balik layar. Loh, kok bisa?  

Kenapa Pamer Kemesraan?

Seseorang yang merasa selalu khawatir dan cemas terhadap hubungan mereka hampir selalu mencari kepastian atau pengakuan dari orang lain. Pencarian kepastian inilah yang mereka luapkan melalui oversharing di media sosial.

Sebagai contoh, saat makan malam salah satu pasangan merasa cemas karena melihat pasangannya sangat angkuh sepanjang malam. Kecemasan inilah yang mereka salurkan secara terbalik di media sosial. Semakin tinggi kecemasan seseorang terhadap suatu hubungan, maka semakin banyak orang tersebut membagi momen kemesraan di media sosial.

Jennifer Chappell Mash, seorang konselor perkawinan mengatakan bahwa, kecemasan ini memicu seseorang melakukan oversharing kemesraan, karena mencari perhatian positif dari publik yang tidak didapat dari pasangannya. Dengan memposting foto bersama pasangannya, seseorang yang insecure berusaha mendapatkan kepercayaan diri dari jumlah “like” atau komentar orang lain.

Media sosial juga bisa menjadi media pelarian bagi seseorang atau sepasang kekasih menuju stimulus atau kebahagiaan lainnya yang mungkin kurang didapat dari pasangan.   

Sedang Zach Brittle, konselor pernikahan dan pendiri For Better -terapi online untuk pasangan– menyatakan, “Jika mereka berusaha terlalu keras untuk menampilkan gambar tertentu, mereka mungkin melindungi sesuatu – citra atau sesuatu yang ideal.” kata Brittle. “Mengapa? Sebagai seorang terapis, saya pikir penting untuk menanyakan pertanyaan itu tetapi tidak harus menjawabnya. Pada akhirnya, kisah masing-masing pasangan itu unik. Media sosial memungkinkan mereka membuat versi cerita itu, bahkan jika itu tidak realistis. ”

√ Kecanduan Media Sosial

Oversharing kemesraan juga bisa terjadi pada seseorang yang memang kecanduan terhadap media sosial. Sama halnya dengan merokok, atau minum alkohol, seseorang yang mendapatkan banyak like di media sosial merasa sangat gembira dan menjadi kecanduan.

Penulis buku Irresistible: The Rise of Addictive Technology and Business of Keeping Us Hooked ,Prof. Adam Alter dari New York University menjelaskan bahwa kecanduan media sosial sama hal nya seperti kecanduan rokok dan alkohol. Saat ini terjadi otak akan memproduksi dopamin. Dopamin adalah hormon dalam otak yang diproduksi akibat dari perasaan gembira, cinta dan rasa percaya diri.

√ Ingin Diakui

Berbagi kemesraan di media sosial secara berlebihan (oversharing) bisa terjadi pada pasangan yang ingin mendapatkan pengakuan dari publik terkait hubungan mereka. Pasangan yang melakukan hal ini biasanya ingin mendapatkan stimulus positif dari bagian kehidupan lain kehidupan percintaan mereka. Misalnya oversharing karena ingin diakui oleh teman, ingin diakui keluarga besar dll.

√ Ingin Menutupi Sesuatu

Oversharing kemesraan juga bisa terjadi saat seseorang ingin menyembunyikan sesuatu. Misalnya ingin menyembunyikan hubungan pernikahan yang sebenarnya sudah hampir retak. Alih-alih posting di sosial media untuk menyembunyikan hubungan yang sudah retak, lebih baik melakukan konseling pernikahan untuk mengatasinya.

√ Salah Satu Tanda Posesif

Oversharing kemesraan di media sosial dengan menyertakan “caption” seperti “my man” atau “my girl” bisa menjadi salah satu pertanda seseorang memiliki sifat terlalu posesif terhadap pasangan.

√ Benar-Benar Merasa Bahagia

Memang adakalanya seseorang yang melakukan oversharing  di media sosial benar-benar merasa bahagia pada kehidupan nyata. Orang-orang yang merasa bahagia ini memang membagi momen kehidupan mereka kepada publik tanpa ada tujuan apapun.

Bahaya Oversharing

Seperti halnya setiap postingan di sosial media yang memiliki resiko , oversharing juga bisa mengundang bahaya, yang bahkan lebih besar.

√ Jadi Target Stalker

Oversharing yang disertai keterangan lokasi bisa menjadi berbahaya. Mungkin Anda memberi informasi tentang tempat liburan atau café-café unik hanya agar ingin dianggap keren. Namun, kebiasaan ini justru akan membuka kesempatan bagi orang lain untuk melakukan stalker dan mencari segala informasi tentang diri Anda.

√ Reputasi Dipertaruhkan

Media Sosial memberikan kebebasan bagi seseorang untuk mengekspresikan dirinya. Namun, oversharing bisa membahayakan reputasi Anda, khususnya jika Anda memiliki bisnis tertentu.

Misalnya saat Anda terlalu banyak memposting kemesraan bersama pasangan diikuti minuman keras dan dan hal-hal yang terkait pornoaksi. Hal-hal seperti ini tentu akan berdampak pada reputasi Anda di dunia bisnis.

Etika sharing di sosial media

 

Etika Sharing di Media Sosial

  • Berbagilah sesuatu yang menyenangkan bagi orang lain dan tidak terkesan  berlebihan.
  • Lebih baik berbagi karena alasan benar-benar merasa bahagia saat suatu momen terjadi. Serta ingin melihat momen tersebut kembali suatu saat.
  • Hindari oversharing karena ingin menutupi masalah atau mencari perhatian.

 

Tak ada salahnya memang berbagi dengan sesama di media sosial. Namun, sebaiknya jangan berlebihan. Oversharing kemesraan di media sosial bukan jalan keluar bagi Anda yang ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain. Bahkan bagi Anda yang ingin lari dari masalah ataupun menutupi keretakan hubungan pernikahan. Pahami alasannya, baru sharing momen kemesraan tanpa berlebihan.

Baca Juga :

  1. Saat Demam Sharenting Melanda
  2. Sindrom Popularitas Instan dan Aksi Unjuk Kebodohan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *