Banner Header Komunitas SOP

SAAT DEMAM SHARENTING MELANDA

Browse By

Matahari sudah terbit. Pagi yang cerah pun dimulai. Ternyata Sheera sudah bangun. Wajah polosnya cantik sekali. Langsung ambil handphone, cekrek.. cekrek.., beri caption dan posting ke Facebook, Instagram, Twitter. Tak lama komentar bermunculan.

“Wahh..Cantiknya, Imutnya, lucunya”. Begitu komentar-komentar yang muncul. 1 jam berselang sudah ada 25 like. Duh, bangganya, punya anak cantik pikir si ibu.

Pernahkah hal ini Parents alami sendiri? Atau Parents selalu mengabadikan tiap moment si kecil dan mem-posting nya? Hati-hati mungkin Parents terkena demam “Sharenting” .

Apa Sih “Sharenting” itu? Sama Tidak Dengan “Parenting”?
Ya,”sharenting” adalah paduan dari “sharing” (berbagi) dan “parenting” (pola asuh). Jadi bisa diartikan berbagi pola asuh atau cerita tentang menjadi orangtua lewat media sosial, bisa dengan foto video, status, dll.

Sepertinya tidak ada salahnya ya berbagi? Apalagi sebagai Parents zaman now tidak mau kalah dong sama Kids Zaman Now yang apa – apa inginnya diposting. Moment saat si kecil makan, ekspresi saat tidur, kata pertama yang diucapkan semua ingin diposting. Akan tetapi berbagi tidak perlu berlebihan bukan? Karena segala yang berlebihan pasti memiliki resiko.

Pendapat Prof. Claire Bessant dari Northumbria University yang dimuat dalam theguardian.com, ia menyatakan “Jika anda berpikir menjadikan anak anda sebagai foto profil media sosial, maka ada resiko nyata di dalamnya. ”

Lalu resiko apa saja yang mengikuti demam “sharenting” ini? Simak penjelasannya berikut:

Melanggar Privasi Anak

Yes, anak juga punya privasi seperti orang dewasa. Parents tentunya tidak tahu apakah foto atau video yang di posting bermanfaat bagi si kecil saat tumbuh dewasa nanti atau tidak. Salah – salah saat dewasa nanti dia merasa malu dan di bully teman-temannya karena foto tersebut.

Meninggalkan Tato Online

Memposting foto atau video di media sosial sama seperti membuat tato online, sulit dihapus. Akibatnya, Parents tidak tahu siapa saja yang sudah meng-unggah kembali foto pribadi anak. Bahkan kita tidak tahu foto tersebut disalahgunakan atau tidak.

Mendorong Tindak Kejahatan

Pelaku kejahatan makin marak saat ini. Mereka bisa saja mencari nama, alamat sekolah, tanggal lahir dan teman-teman anak kita. Akhirnya, banyak terjadi penculikan karena tersebarnya informasi pribadi. Tentunya Parents tidak ingin hal ini terjadi pada si kecil bukan?

Apakah “Sharenting” Hanya Punya Sisi Negatif?

Tiap hal buruk tentunya punya sisi baik. Begitu pula dengan “Sharenting”. Parents bisa berbagi cerita tentang si kecil yang mengalami gangguan kesehatan dan mendapatkan saran dari orang lain. Tentunya banyak yang bisa dibagi asal tidak berlebihan.

Jadilah Orang Tua Bijak melalui “Sharenting”

Yuk, kita lebih bijak tentang Sharenting . Caranya bisa ikuti langkah berikut:

1. Bicara dengan Anak

Tanyakan pada anak apakah mereka senang saat foto mereka di posting atau tidak. Tentunya tanyakan pada anak yang sudah paham soal media sosial.

2. Atur Medsos

Atur setting media sosial anda. Siapa saja yang boleh melihat posting an anda. pastikan mereka adalah keluarga dan orang-orang dekat.

3. Berpikir sebelum berbagi

Tidak ada salahnya berpikir ulang sebelum membagikan foto atau video pribadi anak. Apakah foto ini akan membuat si kecil malu saat dewasa nanti? Apakah anak saya akan di bully karena foto ini?Jangan mem posting jika ragu.

Jadi apa Parents siap melakukan sharenting yang aman? Punya kiat lain seputar sharenting? Berikan pendapat anda di bawah ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *