Banner Header Komunitas SOP

Jejak Digitalmu, Harimaumu

Browse By

Mengikuti drama The World of Marriage? Drama Korea yang membawa nama-nama pemainnya meroket, termasuk pemain-pemain muda yang cukup bertalenta. 

Namun, ternyata kesuksesan dan kontroversi adalah 2 sisi yang berjalan beriringan. Saat nama-nama bintang muda seperti Jung Jun Woon dan Jeon Jin Seo mulai mendapatkan perhatian, masa lalu mereka yang terekam di sosial media pun menimbulkan kontroversi. 

Jung Jun Woon didapati pernah mengunggah foto saat sedang merokok dan minum alkohol saat itu ia masih dibawah umur. Sementara Jeon Jin Seo, pernah mengunggah foto-foto kurang pantas dan berkata kasar di sosial medianya. 

Bagaimana skandal ini bisa menjadi pelajaran bagi anak remaja kita? 

Anak-anak kita adalah digital savvy. Mereka melekat secara emosional dan fisik ke gadget, serta menjalin relasi lewat teknologi. Kita telah sering membaca atau mencoba menerapkan tentang screen time atau aturan waktu menggunakan gadget. Ataupun tentang cyber bullying hingga bahaya pornografi di internet. 

Tetapi ada hal lain yang jarang diajarkan, baik oleh orang tua maupun guru kepada anak-anak generasi digital ini. Yaitu, bahwa sesuatu yang mereka anggap sebagai bagian dari gaya hidup dan cara berkomunikasi ini, mempunyai sisi lain dan bukan tanpa resiko. 

Hal yang jarang menjadi perhatian adalah mendidik anak tentang “digital footprint” (jejak digital) yang mereka buat di internet. Digital footprint ini dapat menghancurkan bahkan membahayakan masa depan dan reputasi mereka. 

Apa sih ‘Digital Footprints’ (jejak digital)? 

Jejak digital adalah jejak data yang Anda buat saat menggunakan Internet. Ini mencakup situs web yang Anda kunjungi, email yang Anda kirim, dan informasi yang Anda kirimkan ke layanan online.

Anak-anak dan remaja kerap mengira apa yang mereka tampilkan atau tulis di internet dapat dihapus dengan mudah. Foto-foto,video hingga sebuah “like” di laman Facebook memang dapat dihapus secepatnya, namun tanpa sadar sebenarnya semua hal itu memiliki “jejak digital”.

mengajarkan jejak digital pada anak

Tak ada yang benar-benar hilang atau dihapus di internet. 

Karena itui, kita perlu menjelaskan kepada anak dan murid-murid kita, bahwa saat mereka menggunakan internet, hal-hal berikut ini akan mereka temui:

  • Jelaskan bahwa Internet dapat menjadi teman atau musuh

Hal ini mungkin sederhana tetapi adalah dasar untuk seluruh penjelasan. 

Pada tahap ini kita bisa memperkenalkan siswa dengan contoh-contoh nyata bagaimana seseorang dapat berurusan dengan hukum ataupun karirnya hancur karena posting yang tidak pantas di Facebook, Tiktok, Instagram, dll. 

 

  • Biarkan Anak-anak men-Google sendiri. 

 

Ajarkan bagaimana mereka mengetik satu nama atau kata kunci dan hal-hal apa yang akan dimunculkan oleh Google setelahnya. Hal-hal baik dan buruk bisa saja muncul, dan inilah yang hendak kita tunjukkan kepada mereka. 

 

  • Bantu mereka memahami dan mengurangi konsekuensi jejak digital yang negatif

 

Mintalah anak atau siswa Anda untuk menetapkan batasan privasi yang ketat pada semua akun sosial media mereka. Dalam beberapa kasus, menghapus akun tertentu mungkin merupakan opsi terbaik. Ajarkan mereka untuk menghindari menggunakan nama yang berkonotasi negatif sebagai alamat email atau nama akun.

 

  • Ajarkan mereka untuk menciptakan jejak digital yang positif

 

Satu postingan foto iseng di Facebook mereka sekarang, dapat saja menghancurkan nama baik atau reputasi mereka 5 tahun kemudian. Tekankan tentang hal ini kepada anak dan siswa Anda. Mereka bisa saja menghapusnya, tetapi orang lain mungkin telah mengunduh dan menyimpannya, atau malah yang terburuk, segera menyebarkannya. 

Dan kita tahu, bagaimana internet bekerja. Cepat dan tanpa batas. Sesuatu yang awalnya hanya iseng, bisa jadi akan viral dan membawa konsekuensi negatif yang besar.  

Langkah-langkah mengajarkan digital footprints ini tidak mudah. Tidak peduli seberapa keras kita mencoba untuk “berceramah” tentang penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab, beberapa anak dan remaja tidak akan pernah mau memahami dampaknya kepada masa depan mereka. 

Peer pressure hingga pengaruh orang di media sosial berperan cukup besar. Namun, cobalah menjelaskan 4 langkah di atas, untuk memastikan bahwa mereka punya informasi yang cukup tentang dunia internet. 

Sebab ini adalah salah satu langkah untuk menyelamatkan masa depan mereka. 

Baca Juga:

  1. Smartphone “Kontrak” untuk ABG
  2. Terlalu Narsis Ternyata Masuk Kategori Gangguan Jiwa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *