Sindrom Popularitas Instan dan Aksi Unjuk Kebodohan

05 Juli 2018

Di era teknologi, media sosial memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Meski hidup di dunia nyata, separuh kehidupan masyarakat era ini bergantung pada kehidupan mereka di media sosial. Mereka tidak bisa sehari pun berpisah dari gawai mereka. Banyak waktu yang digunakan untuk berinteraksi di media sosial , yang seringkali jauh lebih banyak daripada di dunia nyata.

Data dari Statista.com menunjukkan rata-rata penggunaan harian media sosial di seluruh dunia. Pada 2017, penggunaan media sosial harian dari pengguna internet di seluruh dunia berjumlah rata-rata 135 menit per hari, naik dari 126 menit /hari di tahun sebelumnya. Dengan jumlah aktivitas penggunaan sosial media terbanyak berada di Facebook, diikuti Twitter, Instagram dan Tumblr.

Salah satu dampak banyaknya aktivitas di media sosial adalah banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi populer. Mereka berlomba-lomba mencari banyak followers, likers, dan subscribe. Kebahagian mereka seolah bergantung pada banyaknya follower dan like yang datang ke postingan mereka.

Tak sedikit orang yang terjangkit sindrom popularitas instan. Banyak hal dilakukan demi mendapatkan kepopuleran di media sosial. Sayangnya, tak semua orang mempertontonkan sesuatu yang layak mendapatkan apresiasi. Sebagian besar mereka mempertontonkan aksi yang dianggap konyol atau bodoh untuk mendapatkan perhatian publik. Alih-alih terkenal karena konten atau karya yang dibuat, banyak dari yang mereka populer karena banjir hujatan atau komen negatif.

Apakah hal seperti ini bermanfaat?

Hal ini jelas bukanlah hal yang benar. Mempertontonkan kebodohan sebagai jalan pintas untuk memperoleh popularitas terkadang memang efektif. Akan tetapi, popularitas tanpa kreativitas akan sangat mudah dilupakan publik.

Sayangnya, tidak banyak yang berpikir demikian. Si pemilik konten yang mempertontonkan aksi yang dianggap konyol atau bodoh merasa senang karena postingannya viral.Seakan tidak peduli kepopulerannya penuh sanjungan atau hujatan. Yang terpenting,ia terkenal. Tentu, ada banyak keuntungan finansial apabila bisa jadi populer di media sosial.

Fenomena Tik Tok, Bangga atau Waspada?

Di sisi lain, orang-orang yang memberikan like atau sekadar berkomentar negatif tidak peduli bahwa aksinya telah membuat seseorang populer. Mereka cukup puas karena telah berhasil mengomentari konten seseorang. Padahal, kembali lagi, yang mendapat keuntungan adalah yang memiliki konten viral tersebut.

Fenomena tersebut terus berlanjut hingga memunculkan sebuah ungkapan “Stop Making Stupid People Famous.”

Jika kita tidak suka dengan sesuatu, cukup biarkan. Tidak perlu memberikan komentar atau menyebarkannya. Jangan membuat konten yang isinya sebenarnya hal negatif atau bodoh semakin populer. Jika ada banyak orang semacam ini terkenal, ia akan jadi “inspirasi” orang-orang lain untuk membuat kebodohan yang sama. Lalu,apa yang terjadi  jika generasi muda Indonesia berlomba-lomba unggul dalam membuat “kebodohan”?

Sindrom popularitas ini seringkali juga mengabaikan harga diri dan rasa hormat. Ada banyak kasus video yang viral di sosial media yang isinya jelas-jelas sebuah hinaan yang merendahkan orang lain ataupun perilaku merusak milik orang lain atau bahkan milik negara. Anak-anak yang terpapar konten negatif seperti ini pun bisa saja melakukan hal yang serupa.

Sindrom popularitas instan

Mengapa “Idola” Negatif Banyak Ditiru?

Generasi setelah Millenial adalah generasi yang sangat berbeda.  

Untuk Gen Z, siapa yang mereka ikuti di media sosial dan apa yang mereka pilih. Saluran media sosial, bagi mereka adalah representasi dari siapa dirinya,  apa yang mereka percayai, siapa yang mereka anggap penting dan apa yang mereka cita-citakan.

Gen Z mengikuti digital influencer yang memposting konten yang menarik perhatian mereka, sehingga mereka merasakannya sebagai satu hubungan pribadi — pertemanan digital.

Ingin Membuatkan Media Sosial untuk Anak? Pertimbangkan Hal Ini

Ini bisa jadi satu hal yang menguntungkan dari sisi pemasaran produk, hingga strategi marketing ini mulai banyak diadopsi oleh brand-brand besar di seluruh dunia.

Namun dari sisi sosial, ini jelas bisa jadi masalah. Karena apa yang dilakukan oleh “influencer” yang mereka follow, akan mereka ikuti, tidak peduli itu sifatnya negatif. Mengapa?Sebab influencer dianggap mewakili perasaan dan jadi diri mereka.

Tentu Anda tidak ingin hal-hal negatif tersebut terjadi pada anak Anda bukan? Sayangnya, kita sedikit kesusahan untuk mengontrol apa yang diakses anak di media sosial. Langkah efektif yang bisa kita lakukan untuk pertama kali adalah dengan berhenti memberikan perhatian pada konten-konten yang tidak bermanfaat.

Viralisasi Video Kekerasan Anak, Membantu atau Mengganggu?

Jadilah contoh sejak dini bagi anak untuk tidak memberikan ruang bagi konten negatif yang anda terima. Tidak menyebarkannya, tidak pula berlebihan menghujatnya. Bila anak bertanya, jelaskan bahwa itu bukan sesuatu yang layak untuk diberi perhatian lebih apalagi sampai ditiru. Mari berhenti memberi ruang bagi virus kebodohan.

Bagaimana Menurut Anda?
+1
0
+1
0
+1
0

Tag:

Share with love
Member Premium SOP Member Premium SOP

Gabung Member Premium

Mulai perjalanan memahami emosi diri dan keluarga

Nikmati akses Kelas Video Belajar kapanpun & dimanapun

Gabung Sekarang

Sudah Member Premium? Masuk Di Sini

Contact Us School of Parenting
×

Info Masa Keanggotaan

Perpanjang Paket