Banner Header Tanya Ahli SOP

Tips Anti Student Burnout selama PJJ

Browse By

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) membuat anak menjadi tertambat pada penggunaan layar. Padahal aktivitas yang bertumpu pada penggunaan layar mengakibatkan beberapa efek buruk, salah satunya Burnout selama pembelajaran jarak jauh.

Burnout selama proses PJJ mungkin sekali dirasakan oleh anak hampir setiap hari. Jadwal pelajaran yang padat, tugas dari setiap mata pelajaran, atau waktu PJJ yang saling berdekatan membuat anak semakin lama berada di depan layar. Akibatnya, kelelahan fisik seperti sakit punggung dan rasa pegal di mata tak terhindarkan. Belum lagi kelelahan secara mental karena terlalu banyak tugas dan kurangnya interaksi sosial anak dengan teman sebaya, menambah burnout pada anak. 

Secara luas, burnout dapat didefinisikan sebagai kehilangan motivasi atau energi akibat stres maupun kelelahan. Hal ini bisa ditandai dengan adanya rasa marah, mudah tersinggung, cemas, kehilangan fokus, dan permasalahan dalam menyelesaikan persoalan, jelas Dr.Pam Hurst-Della Pietra, founder dan presiden dari Children and Screen: Institusi Media Digital dan Perkembangan Anak, yang meneliti mengenai dampak teknologi terhadap anak.

Dr. David Anderson, yang terbiasa menangani kasus ADHD dan gangguan perilaku lainnya di The Child Mind Institute menyatakan bahwa, bukan hal yang mengagetkan jika banyak anak mengalami burnout selama masa pembelajaran jarak jauh. 

“Kegiatan sekolah online tidak bisa memberikan rangsangan kepada otak anak sebaik ketika mereka menjalani sekolah tatap muka, berada di sekitar teman, berada di ruang kelas,” kata Anderson. “Kami prediksi seiring waktu beberapa anak akan tetap aktif dan beberapa anak akan sangat bosan dengan presentasi yang sama setiap harinya.”

Dr. Anderson menambahkan bahwa anak-anak dengan kondisi kesehatan mental atau ketidakmampuan belajar mungkin menghadapi tantangan lain. Misalnya, memiliki kecemasan dan kecenderungan obsesif kompulsif. 

PJJ juga terasa menyusahkan bagi orang tua. Banyak orang tua yang bercerita kepada Dr. Anderson bahwa mereka sekarang harus memberikan dukungan dan bimbingan ekstra kepada anak mereka.

Hingga akhirnya Dr. Anderson menyampaikan bahwa tidak apa-apa jika para orang tua mengalami kesulitan di waktu-waktu sekarang. Ia menyarankan agar para orang tua mempraktekkan self care untuk tetap bertahan selama membimbing anak belajar.

Orang tua diharapkan untuk tidak menyalahkan diri sendiri, anak, atau pihak sekolah jika mereka tengah berjuang menghadapi kelas online. Coba afirmasikan hal-hal positif dan biasakan diri sebisa mungkin dengan keadaan sekarang, pahami bahwa ini bukanlah sistem yang sempurna namun setidaknya sistem ini dibuat demi keamanan kita bersama.”

Beruntungnya, ada beberapa cara untuk mengatasi burnout selama PJJ. Beberapa hal berikut ini bisa Anda coba untuk mengurangi Burnout selama PJJ pada anak. 

1. Memahami kebutuhan anak dan mencoba berbagai solusi

Banyak orang tua merasa kecewa karena tetap dikenai biaya selama pembelajaran online. Tetapi cobalah untuk menunjukkan sikap positif, meskipun itu sulit. Anak-anak mengambil pelajaran dari sikap Anda, kata Hurst-Della Pietra. Jika Anda bertingkah seakan-akan sekolah online itu buruk, mereka akan merasakan hal yang sama.

Jadi alih-alih merasa kecewa dan memprotes biaya sekolah online anak, sebaiknya  ingatlah betapa pentingnya pendidikan bagi anak. Dorong anak untuk bersemangat dalam PJJ dengan cara tanyakan pada anak apa cita-cita mereka saat dewasa kelak. Anda juga bisa memulai untuk menceritakan pengalaman Anda tentang rasa syukur atas hasil dari pendidikan yang pernah Anda jalani.

Untuk membantu anak fokus dan positif selama PJJ, tanyakan pada mereka apa yang dipelajari dan adakah hal menarik yang didapatkan selama belajar. Jangan lupa, ingatkan juga pada anak bahwa situasi ini hanyalah sementara.

Tak hanya itu, atasi burnout anak selama PJJ dengan memberikan ruang khusus untuk menambah fokus dan antusias belajar mereka. Beberapa penataan ruang belajar yang perlu diperhatikan, misalnya

  • Buat dekorasi yang menarik pada ruang belajar mereka. Tidak perlu menghabiskan biaya yang mahal untuk hal ini. Cukup dengan meletakkan foto-foto favoritnya, karya seni, atau tempelan catatan yang mungkin memotivasi di ruang belajar anak. 
  • Jangan lupa untuk menjauhkan mainan dari ruang belajar anak. 
  • Letakkan keperluan sekolah yang anak Anda sukai di ruang belajarnya agar mereka merasa termotivasi untuk belajar.
  • Menyatukan ruang belajar anak jika Anda memiliki lebih dari satu anak supaya keduanya saling termotivasi untuk belajar. Namun, jika dengan menggabungkan keduanya dalam satu ruangan membuat mereka sulit fokus, maka Anda bisa menempuh cara lain dengan memisahkan ruang belajar mereka. 

Jika Anda sudah mencoba membuat ruang belajar menjadi lebih baik, namun anak tetap mengeluh tentang pembelajaran online maka jangan paksa mereka untuk menyukainya, Jelas Anderson. Mereka mungkin berpikir bahwa Anda mengabaikan perasaan mereka. Dan Anda justru perlu menyadari perasaan mereka dan membantu mereka untuk mengatasi stres. Anda bisa mengatakan hal-hal yang persuasif seperti, “Ibu/Ayah tahu betapa beratnya ini bagi kamu. Ayo kita pikirkan solusi terbaiknya bersama-sama.”

Anda juga bisa bertanya tentang pertanyaan terbuka seperti, “Apa hal yang bisa membuat kamu merasa lebih baik?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa Anda berkenan untuk mengatasi permasalahan itu bersama-sama. Ketahuilah bahwa Anda mungkin akan dihadapkan pada tatapan kosong atau sikap bermuka masam, tergantung pada usia atau sifat anak Anda, kata Anderson. Meskipun Anda tidak dapat mencegah hal ini, ada baiknya meminta masukan mereka untuk menunjukkan bahwa Anda peduli dengan apa yang mereka pikirkan.

Jika anak benar-benar menolak untuk masuk sekolah, coba cari tahu alasannya. Apakah itu terjadi sebelum mata pelajaran tertentu atau karena mereka tidak menyukai guru tertentu?

“Apakah anak Anda memiliki masalah tentang log in setiap hari untuk setiap kelas? Atau situasinya spesifik?” kata Hurst-Della Pietra. “Mengetahui akar masalahnya itu penting.” Dengan demikian, Anda akan dapat mengambil solusi yang lebih efektif untuk membuat PJJ terasa lebih menyenangkan.

Pada akhirnya, ingatlah bahwa hubungan Anda dengan anak juga penting, jelas Hurst-Della Pietra. Jika Anda terus-menerus bertengkar karena persoalan log in, cobalah cari bantuan dari luar seperti berbicara dengan guru anak Anda tentang cara-cara untuk membuat log in lebih mudah.

Cara mengatasi student burnout

2. Berlatih dan mempelajari teknologi terlebih dulu

Kelelahan yang mungkin anak Anda alami dapat disebabkan karena platform yang digunakan dalam pelaksanaan PJJ. Beberapa anak mungkin merasa frustrasi jika mereka tidak bisa mengoperasikan platform dengan mudah. Atau mungkin mereka menggunakan bermacam-macam teknologi dalam sehari.

Untuk mengatasi situasi ini sebaiknya mintalah anak untuk berlatih menggunakan platform tertentu sebelum PJJ dimulai, tentunya dengan bantuan dari Anda. Tujuannya agar anak merasa lebih nyaman dalam proses PJJ dan tak terganggu masalah teknis pada platform tertentu. Jika anak Anda masih memiliki masalah, ingatkan mereka untuk bertanya atau meminta bantuan kepada guru. Atau, jika sekolah memiliki staf IT, Anda bisa bertanya pada mereka. 

3. Mengembangkan rutinitas

Jika anak-anak sudah terbiasa menjalankan sesuatu sebagai rutinitas, mereka akan merasa lebih menikmati prosesnya. Hal ini dapat membantu anak untuk tidak bangun tidur terlalu pagi atau begadang untuk menyelesaikan tugas mereka. 

Pada akhirnya, konsisten dalam jam tidur dan makan adalah hal yang penting. Tanpa tidur yang berkualitas, akan menjadi semakin sulit bagi siswa untuk belajar, khususnya jika mereka merasa terbebani. Istirahat adalah hal yang penting juga. Contohnya, ajak anak Anda untuk beristirahat setelah PJJ usai setiap harinya dan bukan membiarkan anak beralih ke main game online yang justru akan membuatnya semakin burnout. Saran dari Hurst-Della Pietra adalah untuk tidak lupa menyisihkan waktu 30 menit sampai 1 jam untuk menjaga kesehatan seperti yoga atau jalan. 

Menurut Anderson kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi bisa menyebabkan burnout pada anak. Untuk mengantisipasi hal ini, jadwalkan pertemuan melalui Zoom bersama teman mereka sebelum atau setelah sekolah.

Jika Anda tidak memiliki waktu atau energi untuk memonitor jadwal anak Anda selama Anda bekerja dari rumah, Anda bisa meminta anggota keluarga yang lain untuk mengecek apakah anak sudah melaksanakan kegiatan sesuai jadwal atau belum.

4. Pertimbangkan bergabung dengan learning – pod (kelompok belajar)

Jika sekolah online begitu menyulitkan anak Anda, cobalah untuk mengeksplor apakah Anda dapat memulai atau bergabung dengan learning-pod, saran Hurst-Della Pietra. Sekelompok kecil anak bertemu secara langsung untuk belajar bersama, melengkapi atau menggantikan PJJ sangat membantu anak untuk belajar. Anda juga bisa menyewa tutor, guru, atau membimbing anak-anak sendiri dalam learning-pod.

Jika Anda mempertimbangkan rute pod, ketahuilah bahwa itu bukan solusi yang tepat. Pod dapat memperburuk ketidaksetaraan ras di kalangan siswa, yang sudah menjadi masalah sebelum pandemi. Sayangnya, pod bukanlah opsi yang bisa diambil oleh setiap orang karena biaya dan komitmen yang tinggi. Jika keluar dari pembelajaran online adalah jalan terbaik bagi anak Anda, maka konsultasikan dengan gurunya untuk mencari pilihan alternatif yang lebih memungkinkan.

5. Bicarakan pada guru anak Anda

Jika Anda menyadari bahwa anak mengalami depresi, cemas, atau kesulitan meluapkan emosi, saatnya Anda berbicara kepada guru anak.

“Kami pikir sekolah lebih berempati dari sebelumnya terhadap betapa sulitnya PJJ ini,” kata Anderson. 

Bagaimanapun Anderson memperingatkan untuk tidak mendikte guru tentang apa yang harus mereka lakukan karena hal ini bisa memicu adanya sikap defensif dari mereka.

Anda bisa bertanya beberapa hal pada guru anak seperti, ”Bagaimana kita bisa mengurangi kesulitan belajar anak selama PJJ? Anda juga bisa menceritakan kepada Guru apa yang telah Anda observasi selama pembelajaran online sehingga guru tahu apa yang harus mereka lakukan.

Berikut adalah beberapa solusi untuk bekerja sama dengan guru menurut Hurst-Della Pietra:

  • Tanyakan kepada guru terkait dengan aktivitas yang mungkin bisa membuat pembelajaran kelas online lebih menarik (seperti games di mana anak Anda berinteraksi dengan anak yang lain juga).
  • Eksplor kemungkinan perpindahan kelas, seperti diskusi dan aktivitas lain dibandingkan hanya pengajaran satu arah saja.
  • Tanyakan jika guru bisa memberikan waktu untuk 1 on 1 dengan anak Anda (jika mereka belum pernah melakukan aktivitas ini). 
  • Mintalah supaya pembelajaran direkam sehingga anak Anda bisa mengakses materi kapan saja. Namun ketahuilah bahwa perekaman bisa jadi tidak diperbolehkan karena alasan privasi. Hurst-Della Pietra berpikir bahwa beberapa anak mengalami kesusahan dalam menerima banyak informasi sekaligus, yang mungkin bisa membuat mereka mengalami burnout. Rekaman pembelajaran bisa menjadi satu solusi untuk mengatasinya.

Juga disarankan bagi orang tua untuk memiliki koneksi dengan orang tua lainnya sehingga Anda bisa memiliki dukungan untuk melalui semua ini.

“Orang tua sudah mencoba untuk melakukan banyak hal sekarang,” Jelas Hurst-Della Pietra.” Banyak hal tidak bisa dijalankan dengan sempurna untuk saat ini. Orang tua harus memberikan waktu istirahat untuk dirinya sendiri.”

Baca Juga:

  1. Parental Burnout : Jangan Sampai Mengalaminya !
  2. Kuis  : Seberapa Burnout Anda Sebagai Guru saat PJJ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *