Parenting

Anggap Anak Jadi Teman? Pahami Dulu Sisi Negatifnya

Membicarakan tentang pola asuh terhadap anak pasti tidak akan ada habisnya. Perkembangan zaman yang semakin pesat menuntut orang tua untuk selalu memperbaharui segala macam pengetahuan tentang pola asuh anak. Banyak orang tua yang bahkan bingung harus menerapkan pola asuh dengan style seperti apa.  

Psikolog dari Universitas California, Diana Baumrind, Ph.D telah mengembangkan teori pola asuh pada tahun 1967. Menurut penelitian yang telah dilakukan, setidaknya terdapat 3 style utama tentang pola asuh terhadap anak, yaitu

  • Authoritarian = Terlalu Keras
  • Permissive = Terlalu Lembut
  • Authoritative = Tepat

Nah, dari ketiga style pola asuh tersebut, salah satu yang cukup banyak digunakan oleh orang  tua sekarang ini adalah pola asuh permisif. Ya, pola asuh permisif ini memang menerapkan metode kelembutan terhadap anak. Bahkan bisa disebut orang tua justru terlalu lembut kepada anak. Orang tua cenderung takut menerapkan batasan pada anak-anak, dan percaya bahwa anak harus jujur terhadap sifatnya sendiri.

Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif ini menganggap anak-anak setara dengan mereka. Bisa dibilang anak-anak lebih dianggap sebagai teman daripada sebagai anak. Pemberian hadiah atau penyuapan menjadi alat utama dalam pola asuh ini. Orang tua bahkan kesulitan mengatakan “tidak” karena pola asuh ini justru menghindari otoritas dan konfrontasi terhadap anak. Itulah mengapa, orang tua yang menerapkan pola asuh ini menghindari hukuman kepada anak. Lalu apa saja sih yang diterapkan dalam pola asuh ini?

Pola Asuh Permisif Melibatkan :

  1. Menerapkan kelembutan dan enggan memaksakan batasan pada anak. Sehingga orang tua cenderung tidak mau mengendalikan anak
  2. Orang tua tidak menuntut sesuatu dari anak. Anak-anak bahkan tidak memiliki banyak tanggung jawab dan diizinkan mengatur perilaku dan pilihan mereka sendiri.
  3. Orang tua tidak memonitor anak dalam hal melihat TV dan segala jenis makanan yang dikonsumsi tiap harinya.
  4. Hampir-hampir tidak memiliki batasan terhadap anak karena orang tua cenderung tidak konsisten terhadap batasan yang dibuat.
  5. Orang tua lebih sering nampak sebagai teman daripada sebagai seorang Ibu dan Ayah.

Pola asuh permisif ini ternyata memiliki dampak NEGATIF bagi anak. Berikut adalah dampak negatif yang bisa ditimbulkan melalui pola asuh permisif ini

  1. Anak bisa memutuskan segala sesuatunya sendiri bahkan tanpa masukan dari orang tua. Hal ini dianggap buruk karena anak belum matang secara emosional.
  2. Anak-anak yang dibesarkan melalui pola asuh ini memiliki sifat impulsif, agresif, dan kurang bertanggung jawab karena tidak adanya batasan dari orang tua. Selain itu,  karena anak tidak belajar untuk menangani emosi secara efektif.
  3. Anak akan tumbuh menjadi egois dan penuntut.
  4. Kebanyakan anak tidak memiliki tata krama karena memang tidak ada aturan yang mengikat
  5. Anak-anak memiliki kebebasan yang tak terbatas bahkan cenderung negatif, seperti kebebasan untuk menonton TV, makan, atau tidur. Hal ini bisa menyebabkan penurunan prestasi akademik dan resiko obesitas.
  6. Anak-anak cenderung tidak dapat mengatur waktu karena kurangnya struktur dan aturan di dalam rumah.
  7. Anak-anak mungkin lebih rentan terhadap kenakalan, misalnya gangguan terhadap obat-obatan, rokok bahkan alkohol.

Namun, selain dampak negatif yang memang menjadi kontroversi dari pola asuh ini, tahukah Parents, jenis pola asuh permisif ini pun ternyata memiliki dampak POSITIF. Apa saja?

  1. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh permisif cenderung memiliki harga diri tinggi, keterampilan sosial yang baik, serta memiliki banyak ide daripada anak-anak yang dibesarkan dengan aturan yang ketat.
  2. Orang tua cenderung lebih responsif dan memberi dukungan penuh saat berinteraksi dengan anak. Orang tua juga sangat menekankan hubungan yang baik terhadap anak dan menjadikan kebahagiaan anak sebagai hal utama.
  3. Hubungan antara orang tua dan anak sangat dekat.
  4. Jarang terjadi konflik antara anak dan orang tua
  5. Anak-anak diberi kebebasan untuk berkreasi dan berinovasi tanpa harus takut terhadap batasan tertentu.

Pola asuh permisif yang diterapkan oleh beberapa orang tua memang masih menimbulkan banyak pro dan kontra. Tak jarang orang tua justru cukup khawatir terhadap pola asuh ini. Namun jika Anda terlanjur menerapkan pola asuh permisif ini, sebaiknya mulai perbaiki pola asuh Anda di beberapa bagian. Para pakar pola asuh merekomendasikan beberapa hal yang harus mulai dirubah dalam penerapan pola asuh permisif ini, misalnya :

√ Buatlah daftar aturan di dalam rumah dan patuhi daftar tersebut secara konsisten. Jangan lupa untuk memberi sanksi jika aturan tersebut dilanggar.

√ Beri anak kebebasan untuk memilih satu kegiatan yang paling disukai ketika mereka berhasil melakukan hal baik, misalnya menaati peraturan tertentu. Anda bisa memberi anak waktu 30 menit untuk menonton TV jika anak mau mencuci piring.

√ Bekerja samalah dengan anak untuk membuat berbagai macam aturan dan konsekuensi agar anak mampu memiliki sikap tanggung jawab.

Beberapa hal tentang pola asuh permisif ini memang memberi dampak yang cukup negatif bagi anak. Walaupun kebanyakan orang tua yang menerapkan pola ini mengaku hanya ingin merasa lebih dekat dengan anak, namun justru kedekatan yang diberikan membuat anak tidak disiplin dan tidak bertanggung jawab. Jangan sampai pola asuh yang salah bisa membuat anak menjadi egois dan perilaku negatif lainnya.

Oleh karena itu, sebaiknya mulai perhatikan beberapa hal yang harus diubah dalam pola asuh permisif ini. Beberapa rekomendasi di atas bisa Anda gunakan sebagai referensi.

Artikel Terkait :

  1. pola asuh yang salah bisa membuat anak menjadi egois.
  2. Pola Asuh Ala Barat dan Timur, Mana Yang Terbaik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *