Banner Header Komunitas SOP

Pola Asuh yang Salah Bisa Membuat Anak Menjadi Egois

Browse By

Ketika masih balita, anak-anak memang belum mampu menyadari keberadaan orang lain. Baginya, dunia terpusat hanya pada dirinya. Mereka belum bisa memahami isi hati orang lain. Tiga tahun pertama kehidupannya, satu-satunya yang anak pikirkan adalah tentang dirinya sendiri.

Seiring dengan berjalannya waktu, anak-anak mulai berproses untuk memahami sekelilingnya. Mereka juga belajar memahami orang lain. Mulai mau meminjamkan mainannya, dan lain sebagainya.

Agar anak tidak tumbuh menjadi anak yang egois, mereka butuh dukungan dari lingkungannya. Orangtua, sebagai pusat pendidikan anak, wajib memberikan teladan-teladan yang baik. Orangtua harus bisa menempatkan anak sebagai bagian dari masyarakat. Dengan begitu, mereka akan belajar untuk tidak selalu mementingkan diri sendiri.

Sebagai orangtua, kita tentu ingin yang terbaik bagi anak-anak. Namun, alih-alih ingin memberikan yang terbaik, beberapa orangtua justru kesulitan untuk membedakan mana yang benar-benar baik untuk anak dan mana yang tidak. Saat mengasuh anak, ada kalanya kita tidak menaati aturan sosial dengan dalih “demi anak”.

Perilaku seperti inilah yang akan membuat anak tumbuh menjadi anak egois. Melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginan anak meski mengganggu ketertiban umum sering kali dilakukan oleh banyak orangtua. Apa saja bentuknya?

Berikut ini contoh pola asuh yang bisa membuat anak menjadi egois.

 

1. Melanggar Aturan atau Ketertiban Umum

Dalam bermasyarakat, ada aturan yang dibuat supaya masyarakat bisa berhubungan dengan baik dan harmonis. Anak harus belajar tentang ketertiban umum sejak dini. Darimana mereka belajar? Tentu dari orangtua mereka.

Orangtua tidak boleh membenarkan anak mereka yang membuat gaduh di dalam bioskop atau ketika mereka bertamu ke rumah orang lain dengan alasan mereka adalah anak-anak. Kalimat pembelaan seperti, “Maklumlah, masih anak-anak” hanya akan membuat anak tidak menyadari kesalahannya.

Pada situasi seperti ini, publik mungkin sudah paham. Akan tetapi, membela anak dengan dalih ini sungguh tidak bermanfaat apa pun. Justru, anak-anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.

pola asuh yang membuat anak jadi egois

2. Membela Anak Habis-Habisan

Di mata kita, anak-anak kita bisa menjelma sebagai seseorang yang sempurna. Dialah harta paling berharga bagi kita. Senakal apa pun mereka, jika ada orang lain yang memarahinya, seringkali orangtua tidak akan terima.

Padahal, bila dalam posisi anak yang memang bersalah, dan ada orang lain yang marah padanya, daripada membela anak, orangtua seharusnya bisa memberi contoh dengan meminta maaf. Dengan begitu anak akan paham bahwa tindakannya merugikan orang lain. Ia juga akan paham bahwa ada situasi dimana ia bisa melakukan hal yang menganggu.

Selalu membela anak akan membuat mereka tidak punya kesempatan untuk mempelajari aturan atau norma sosial. Ingat, anak-anak belajar pertama kali dari orangtua mereka.

3. Berdalih “Demi Kebaikan Anak”

Siang itu, suasana sedang panas-panasnya di sebuah tempat wisata. Pedagang kaki lima sibuk dikerubuti pembeli yang kepanasan dan kelaparan. Saya menjadi salah satu yang ikut dalam antrean panjang tersebut.

Tiba-tiba, datang seorang ibu langsung ke depan gerobak, meminta didahulukan karena anaknya menangis. Sang penjual pun merasa jengkel, tetapi tidak bisa menolak karena sang ibu terus mendesak. Sekilas saya melirik anaknya. Dia baik-baik saja dan sedang bermain dengan mainannya.

Saya berpikir sejenak. Sepertinya, orangtua kerap salah paham dengan “Demi kebaikan anak”. Alih-alih ingin melakukan yang terbaik untuk anak hari ini, mereka lupa efek jangka panjangnya. Apa yang baik hari ini tidak selalu baik untuk masa depannya.

Supaya anak tidak terlambat sekolah, orangtua memakaian sepatu anak. Supaya anak tidak dimarahi gurunya, orangtua yang turun tangan mengerjakan PR-nya. Supaya anak tidak rewel,orangtua memberi mereka gadget.

Menjadi orangtua yang sungguh-sungguh memikirkan kebaikan anak bukan berarti menuruti segala kemauannya agar anak terus aman dan nyaman. Anak harus diajari bertanggung jawab dan disiplin. Terkadang, kita juga harus sedikit “tega” kepada anak.

Ada semacam fenomena di masyarakat tentang makin sedikit anak-anak yang peduli dengan ketertiban umum. Mereka tumbuh menjadi remaja yang egois dan berlaku tanpa aturan. Jika bukan kita, orangtua, yang sekarang mengajarkan anak untuk peduli dengan sopan santun dan tata tertib di masyarakat , maka jangan mengeluh bila kekacauan dan sikap seenaknya sendiri kita alami di masa depan.

Baca Juga:
  1. Usia Ideal Anak Masuk TK
  2. Perlukan Orangtua Membatasi Pertemanan Anak?
  3. Tips Menghadapi Remaja yang Konsumtif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *