Mom's Corner Tips

Pola Asuh Ala Barat dan Timur, Mana yang Terbaik?

Kita tentu sudah menyadari bahwa setiap budaya menghasilkan pola asuh yang berbeda. Melalui film-film luar negeri yang sering kita tonton, sedikit banyak kita pun sudah mampu mengidentifikasi apa perbedaan pola asuh di sebagian besar negara-negara Eropa dan Amerika dengan negara-negara di Asia.

Dari berbagai media, kita bisa menemukan fakta bahwa dalam budaya Barat orangt ua lebih membebaskan anaknya untuk bereksperimen dan eksplorasi. Sementara di Asia, orangtua lebih menekankan sifat patuh dan disiplin yang ketat kepada anak. Lalu, seperti apakah perbedaan lain antara pola asuh ala Barat dengan Timur?

Karakter seseorang banyak dipengaruhi oleh pola asuh dari orangtuanya. Cara mendidik yang berbeda akan menghasilkan karakter yang berbeda pula. Selama ini, terlihat jelas bagaimana perbedaan karakter antara orang-orang Barat dengan orang-orang Timur. Lalu, sebenarnya apa saja perbedaan pola asuh di Barat dengan di Timur?

Pola Asuh ala Timur: Proksimal

Menurut Heidi Keller Psikolog dari Universitas Osnabruck, Jerman —dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud– pola asuh di Asia dikenal dengan istilah pola asuh Proksimal. Pola asuh ini lebih mengedepankan kedekatan dan kontak fisik antara ibu dan anak. Kedekatan fisik ini dibangun dalam waktu yang cukup lama dan secara konsisten. Di Asia, khususnya di Indonesia, kita bisa melihat fenomena di mana orangtua masih tidur bersama anaknya hingga usia 6 tahun atau bahkan lebih, mandi bersama, dan menggendong bayi saat sedang bepergian. Bahkan, berdasarkan survei di Jepang, Ibu-Ibu di Asia hampir selalu bersama buah hati mereka hingga usia si kecil mencapai 2 tahun. Ibu-ibu di Jepang juga hanya menghabiskan waktu sekitar dua jam tanpa bayi mereka di sisinya.

Tak hanya menekankan kedekatan fisik, cara mengasuh anak ala orangtua di Asia juga cenderung lebih disiplin. Orangtua selalu mengawasi perkembangan anaknya bahkan hingga mereka dewasa. Jika ingin memutuskan sesuatu, orangtua seringkali ikut andil dengan memberikan arahan-arahan tertentu. Tujuannya adalah supaya anak  tidak salah arah dan tidak terjerumus dalam keputusan yang buruk sehingga bisa merusak masa depan mereka.

Keunggulan Pola Asuh Proksimal

Keller menjelaskan bahwa anak-anak yang dididik dengan pola asuh Proksimal akan membentuk self regulation. Anak-anak akan lebih mudah dalam mengontrol emosi, perilaku, dan juga perhatian. Anak-anak juga lebih bisa mengikuti instruksi dari orang dewasa. Ibu yang selalu hadir dan berada di sisi mereka membuat anak-anak memiliki karakter yang cenderung tenang. Terlebih lagi, orangtua Timur dikenal lebih proaktif dalam hal memahami kebutuhan anak. Orangtua akan melakukan apa pun demi mencegah si kecil menangis dan rewel.

Kelemahan Pola Asuh Proksimal

Kelemahan pola asuh ini adalah anak-anak jadi sangat tidak pandai menyampaikan emosi sehingga seringkali meluapkan emosi  dengan cara yang salah. Tak hanya itu, anak-anak dengan pola asuh ini  juga kurang percaya diri, pasif, kurang bisa mengambil keputusan, dan mempunyai sisi ketergantungan yang tinggi pada orangtua mereka. Lalu, karena selama ini terbiasa dilayani, anak-anak cenderung lebih memilih menunggu kebutuhan mereka terpenuhi daripada berusaha untuk mendapatkannya.

Pola Asuh Barat: Distal

Keller menyebut pola asuh orang-orang Barat (Eropa dan Amerika) dengan pola asuh Distal. Berbeda dengan pola asuh yang ada di Asia, pola asuh ini lebih mengutamakan kontak mata serta komunikasi efektif melalui kata-kata dan ekspresi wajah. Orangtua di negara-negara barat lebih memberikan kebebasan pada anak. Dengan memberikan kebebasan pada anak, orangtua berharap anak-anaknya lebih bisa bersikap mandiri dan tumbuh sebagaimana yang anak-anak inginkan.

Orangtua di Amerika membiarkan anak-anak mereka tidur di kamar mereka sendiri bahkan sebelum usia si kecil genap satu tahun. Mereka sangat menekankan kemandirian. Bentuk dukungan yang mereka berikan adalah dengan memberikan pujian pada anak dan menghindari sikap mengkritik demi melindungi harga diri anak-anak. Mereka memberlakukan anak bukan sebagai bayi, tetapi sebagai seorang manusia.

Kelebihan Pola Asuh Distal

Salah satu kelebihan dari pola asuh ini adalah mendorong anak untuk mengenali diri mereka sedini mungkin. Mengenali diri sendiri atau self recognition ini sangat penting untuk mereka. Dengan begitu, anak-anak akan mampu melihat dirinya sendiri sebagai “aktor” dalam lingkungannya. Anak-anak juga menyadari bahwa dirinya bisa memberikan pengaruh dan juga kontrol terhadap lingkungan. Itulah sebabnya anak-anak di negara-negara Barat punya sifat lebih percaya diri, berani mengatur dan berargumen, ekspresif, dan sangat mandiri.

Kekurangan Pola Asuh Distal

Kekurangan pola asuh ini adalah anak-anak cenderung mempuyai sifat ingin menjadi “penguasa” di lingkungan mereka. Proses pengenalan diri yang berlangsung terlalu dini membuat mereka bisa terus mengatur dan mempengaruhi orang lain. Mereka juga cenderung mau melakukan apa pun supaya keinginannya terpenuhi, termasuk menangis atau melanggar aturan. Hal ini terjadi karena kedudukan anak setara dengan orangtua.

Manakah Pola Asuh yang Paling Baik?

Tidak seperti matematika yang rumit tetapi pasti, menetukan pola asuh terbaik tidak memiliki rumusan pasti. Ada banyak sekali faktor dari luar yang mempengaruhi pola asuh dan perkembangan si kecil. Untuk membentuk karakter anak yang sempurna dan berprestasi, orangtua harus selalu belajar. Anda bisa melakukan kombinasi antara kedua jenis pola asuh di atas. Kombinasi pola asuh proksimal dan distal dapat saling melengkapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *