Mengenal Tipe Temperamen Anak

Browse By

“Wah enak ya anakmu gampang sekali tidurnya, kalau anakku susah sekali tidur, bahkan harus dibawa jalan-jalan naik motor dulu baru bisa tidur.”

Pernahkah mendengar keluhan tersebut dari teman dekat atau tetangga? Ya, banyak Parents yang merasa iri pada Parents lainnya karena memiliki anak yang “easy” atau anak yang mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Tapi, jangan sedih Parents, karena memiliki anak yang tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar (difficult) bukan hal yang buruk kok. Untuk itu, sebaiknya Anda mulai memahami ketiga tipe temperamen anak ini.

Nah, sebelum memahami lebih jauh tentang tipe temperamen anak, sebaiknya perlu dipahami terlebih dahulu apa sih temperamen itu?

Apa itu Temperamen Anak?

Temperamen anak adalah gaya perilaku pada anak. Gaya perilaku ini akan menentukan reaksi mereka terhadap situasi tertentu serta bagaimana anak mengekspresikan dan mengatur emosi mereka. Nah, temperamen ini bahkan sudah mulai ditunjukkan anak sejak kecil.

Apa Saja Karakter Temperamen Pada Anak?

Penelitian pada tahun 1960 oleh beberapa psikolog di New York pada 131 bayi, mengkategorikan 9 karakteristik temperamen pada anak, yaitu:

  1. Tingkat Aktivitas: seberapa aktifnya anak Anda?
  2. Rhythmicity: bagaimana rutinitas tidur atau bangun, dan rutinitas menyusui pada anak Anda?
  3. Distractibility: seberapa mudah anak terganggu dari sesuatu yang sedang dilakukan?
  4. Pendekatan/Penarikan: bagaimana anak menanggapi pengalaman baru?
  5. Adaptasi: bagaimana bayi beradaptasi dengan situasi baru?
  6. Ketekunan/Rentang Perhatian: seberapa gigih anak ketika menghadapi tantangan?
  7. Intensitas Reaksi: seberapa kuat respon dan emosi anak?
  8. Sensitivitas: seberapa peka abak terhadap rasa, tekstur, dan suara?
  9. Kualitas Suasana Hati: apakah anak senang, banyak memiliki suasana hati yang positif atau negatif?

Karakteristik temperamen pada anak ini akan muncul pada awal-awal masa kelahirannya dan akan berubah seiring anak bertambah usia.

Apa Saja Tipe Utama dari Temperamen Anak?

Sebagai hasil dari penelitian yang dilakukan oleh para psikolog pada tahun 1960, maka temperamen pada anak dikategorikan menjadi 3 tipe utama, yaitu

? Easy

Anak yang memiliki temperamen easy atau mudah lebih mampu beradaptasi dengan situasi baru. Mereka bahkan bereaksi ringan untuk hal-hal tertentu. Tak hanya itu, bayi dengan temperamen easy juga memiliki rutinitas tidur yang teratur, dan memiliki suasana hati yang positif secara keseluruhan.

Hal ini tentunya akan membuat Parents merasa seolah-olah melakukan pekerjaan yang hebat karena hampir tidak mendapat kesulitan berarti dalam merawat anak. Nah, setidaknya sekitar 40% anak-anak yang memiliki temperamen easy seperti ini. Apakah anak Anda salah satunya?

? Difficult

Anak dengan tipe difficult memiliki kesulitan dalam hal beradaptasi dengan situasi baru. Tipe ini membuat anak memiliki rutinitas yang tidak teratur dan suasana hati yang cenderung negatif. Anak dengan tipe difficult memang cukup sering menangis. Hal ini membuat kebanyakan orang tua yang memiliki anak dengan temperamen difficult akan bertanya-tanya tentang apa yang salah dengan pola asuh yang sedang diterapkan.

Tapi jangan sedih dulu Parents, bagi Anda yang memiliki anak dengan tipe difficult harus berbangga hati karena ternyata anak Anda juga memiliki perilaku tekun dan bersemangat. Berdasarkan penelitian, anak yang memiliki tipe temperamen difficult hanya berjumlah 10%.

? Slow-to-warm-up

Anak-anak dengan tipe temperamen Slow-to-warm-up lebih lambat dalam hal beradaptasi dengan hal-hal baru. Tak hanya itu, anak-anak ini juga memiliki tingkat aktivitas yang rendah serta sering menunjukan mood yang negatif. Dengan kata lain anak dengan tipe temperamen sering disebut sebagai anak pemalu atau sensitif. Sekitar 5%-15% anak-anak memiliki tipe temperamen slow-to-warm-up ini.

? Kombinasi Ketiganya

Nah, selain ketiga tipe temperamen tersebut, ada juga anak-anak yang memiliki tipe kombinasi. Sekitar 40% anak-anak tidak termasuk ke dalam salah satu tipe temperamen di atas. Sebaliknya mereka cenderung memiliki kombinasi dari ketiganya.

Karena cukup banyak anak-anak yang tidak masuk dalam kategori tertentu, maka Parents perlu mempertimbangkan bagaimana karakter dan tipe temperamen saling berkaitan satu sama lain. Beberapa anak mungkin cukup sulit (difficult), namun sisi lain dalam dirinya juga menunjukkan tipe yang cukup mudah (easy). Misalnya jika anak Anda memiliki reaksi yang intens dan sangat teratur dalam tidur dan rutin menyusui.

Apakah Anak “Easy” Lebih Baik daripada Anak “Difficult?

Setelah mengetahui berbagai tipe temperamen anak, tentu saja Anda berpikir apakah anak dengan temperamen “easy” lebih baik daripada anak dengan temperamen “difficult”.

Jawabannya adalah tidak selalu. Merawat anak dengan temperamen “difficult” mungkin cukup melelahkan karena sering dihubungkan dengan banyaknya masalah perilaku yang bisa ditimbulkan oleh anak.

Namun, ada kabar baik bagi Parents yang memiliki anak dengan temperamen “difficult”. Berdasarkan penelitian, tipe temperamen anak tidak menentukan bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungannya. Anak-anak dengan tipe temperamen “difficult” lebih dipengaruhi karena pola asuhnya. Anak-anak dengan temperamen “difficult” bahkan lebih banyak bereaksi pada pola asuh yang diterapkan.

Hal ini menunjukkan bahwa, anak-anak dengan temperamen “difficult” cenderung lebih baik dalam hal kognitif, akademik dan sosialnya jika dirawat dengan pola asuh yang baik. Di sisi lain, jika anak temperamen “difficult” mendapatkan pengasuhan yang buruk, maka perilaku mereka bisa semakin buruk saat dewasa nanti.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa, apapun karakter dan tipe temperamen anak Anda, asalkan mendapat pola asuh yang tepat dan baik maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya, jika pola asuh yang Anda terapkan pada anak cenderung tidak tepat bahkan buruk, maka bisa jadi anak akan tumbuh menjadi pribadi dengan perilaku yang bermasalah kelak.

Untuk itu, Anda perlu paham benar, pola-pola pengasuhan pada anak. Beberapa Parents milenial memiliki pengasuhan dengan menganggap anak jadi teman. Pola asuh seperti ini boleh dan sah-sah saja diterapkan, namun Anda juga perlu memahami sisi negatifnya.

Baca juga:

  1. Anggap Anak Jadi Teman? Pahami Dulu Sisi Negatifnya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *