Family Health Parenting

Yang Sering Terlupakan: Kesehatan Mental Anak

Selamat Hari Kesehatan Jiwa sedunia!

Ya, bulan ini, tepatnya tanggal 10 Oktober 2018, diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Berbicara tentang kesehatan mental (Mental Health), masih banyak masalah-masalah kesehatan jiwa di Indonesia yang diabaikan. Padahal, kesehatan mental adalah masalah yang penting dan perlu ditangani dengan tepat.

Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 2016 terdapat sekitar 35 juta penduduk Indonesia yang mengalami depresi, 21 juta orang terkena Skizofrenia, 60 juta orang menderita Bipolar, dan 47,5 juta penduduk mengalami Demensia. Jumlah ini mengalami kenaikan tiap tahunnya.

Sebenarnya Apa Sih Kesehatan Mental itu?

Kesehatan mental / jiwa adalah kondisi sehat secara emosional, psikologis dan sosiologis yang terlihat dari hubungan interpersonal dengan orang lain. Seseorang yang memiliki jiwa sehat mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, berinteraksi dengan baik, tepat dan bahagia.

WHO (World Health Organization) menjelaskan tentang kriteria orang yang memiliki kesehatan mental, diantaranya:
  1. Memiliki kepuasan dari usaha yang dilakukan dalam hidup
  2. Merasa lebih puas saat memberi daripada menerima
  3. Memiliki hubungan tolong-menolong dengan orang lain serta saling memuaskan
  4. Memiliki welas asih yang besar
  5. Dapat menyelesaikan permusuhan secara kreatif dan konstruktif
  6. Dapat menerima kekecewaan sebagai pelajaran hidup
  7. Mampu menyesuaikan diri pada kenyataan, meskipun kenyataan tersebut buruk
  8. Bebas secara relatif dari ketegangan dan kecemasan.

Siapa Saja Yang Bisa Menderita Gangguan Kesehatan Mental?

Semua orang dengan berbagai rentang usia, termasuk anak-anak dan remaja.

Apa Saja Faktor Pemicu Gangguan Kesehatan Mental Anak?

Anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan mental akan berdampak pada cara berpikir, mood, dan cara bersikap sehari-hari. Beberapa faktor yang bisa memicu terganggunya kejiwaan pada anak, yaitu

  • Faktor biologis, seperti adanya faktor dari gen atau gangguan kimia pada otak anak.
  • Faktor Pengalaman Kehidupan, seperti adanya trauma karena tindak kekerasan, bencana alam dll
  • Sejarah Keluarga, seperti adanya riwayat gangguan kejiwaan pada keluarga
  • Faktor Lain, seperti kemiskinan, lingkungan,dll.

Apa Saja Tanda Awal Gangguan Mental / Kejiwaan Pada Anak?

➤ Depresi

Anak yang mengalami gangguan kejiwaan seringkali merasa sedih dan tidak memiliki harapan. Beberapa anak mungkin mulai tidak tertarik dengan hal-hal yang biasanya menarik perhatian mereka. Misalnya tidak tertarik pada mainan favorit, makanan bahkan program televisi favorit. Pada tingkat depresi yang lebih tinggi, anak mulai berpikir untuk mengakhiri hidupnya (bunuh diri).

➤ Cemas Berlebihan

Tanda lainnya bisa berupa kecemasan berlebihan pada lingkungan hidupnya. Kecemasan berlebih ini sering ditandai dengan perubahan fisik seperti detak jantung yang cepat dan keringat yang banyak.

➤ Gangguan Makan dan Tidur

Anak yang mengalami gangguan kejiwaan bisa ditandai dengan adanya gangguan makan seperti Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa. Anorexia adalah gangguan makan yang ditandai dengan ketakutan seseorang terhadap bentuk tubuh dan kenaikan berat badan. Sehingga anak menjadi tidak mau makan atau memuntahkan kembali makanannya.Penderita Anorexia Nervosa biasanya sangat kurus dan kurang gizi.

Sedikit berbeda dengan Anorexia, Bulimia adalah keadaan saat seseorang berusaha menjaga agar berat badannya tidak naik dengan memuntahkan kembali makanannya, meminum obat pencahar, berolahraga berlebihan, dll. Bulimia lebih umum dan lebih sulit dideteksi, karena seringkali tidak ada penurunan berat badan, tetapi jelas, pola makannya bermasalah.

Selain gangguan makan, anak juga mengalami gangguan tidur. Beberapa anak mungkin tidak bisa tidur. Sedangkan yang lainnya justru menghabiskan waktu dalam sehari hanya untuk tidur.

➤ Mendengar Berbagai Suara

Tanda gangguan jiwa yang lain yaitu munculnya berbagai suara yang hanya didengar oleh anak. Suara-suara yang muncul ini tentu saja hanyalah halusinasi anak. Namun, hal ini sangat mengganggu, karena bisa muncul kapan saja dan dimana saja, juga dapat menyebabkan anak merasa ketakutan atau tertekan.

➤ Emosi Berubah ubah

Anak yang mengalami gangguan jiwa cenderung memiliki emosi yang mudah berubah. Misalnya, tiba-tiba menangis, tertawa, dan kembali sedih dalam waktu yang relatif singkat.

Bagaimana Masyarakat Indonesia Memandang Gangguan Mental?

Gangguan kesehatan mental masih dipandang sebelah mata. Banyak masyarakat Indonesia yang menghubungkan gangguan kejiwaan ini dengan hal-hal yang berbau mistis seperti kerasukan roh halus dan diganggu setan.

Tak jarang, masyarakat juga sering menghubungkan gangguan kejiwaan ini sebagai tanda kurangnya iman kepada Tuhan. Hal inilah yang sering kali membuat masyarakat menangani masalah mental dengan cara yang kurang tepat. Misalnya meminta pertolongan kepada pemuka agama atau dukun untuk mengusir roh halus yang bersarang di tubuh penderita.

Tak hanya itu, beberapa orang juga merasa malu untuk berkonsultasi dengan ahli kejiwaan. Rasa malu tersebut karena label negatif yang diberikan oleh masyarakat saat seseorang berkonsultasi dengan psikolog atau ahli jiwa. Akibatnya, di banyak daerah masih terjadi pemasungan atau pengisolasian pada penderita gangguan kejiwaan ini.

Penanganan yang kurang tepat ini bisa terjadi karena kurangnya edukasi tentang kesehatan jiwa pada masyarakat. Sampai saat ini, masyarakat Indonesia yang kurang paham harus menghubungi siapa saat ditemukan tanda gangguan kejiwaan pada anak. Nah, jika sudah demikian angka penderita gangguan kejiwaan ini bisa terus meningkat.

Belajar Dari Negara Lain

Walaupun masih banyak masyarakat Indonesia maupun masyarakat di negara lain yang belum paham mengenai masalah kesehatan jiwa ini. Ternyata beberapa kota di negara maju sudah mengambil langkah nyata terkait pendidikan mengenai kesehatan mental ini.

Salah satunya adalah kota New York, Amerika Serikat. Ya, New York menjadi negara bagian pertama di Amerika Serikat yang memberikan pendidikan mengenai kesehatan jiwa pada semua anak pra-sekolah, yaitu anak yang berusia 3 tahun hingga jenjang SMA. Tidak hanya itu, pendidikan mengenai kesehatan mental ini menjadi salah satu standar kurikulum wajib sekolah-sekolah.

Beberapa poin penting yang akan diajarkan melalui pendidikan kesehatan jiwa di sekolah-sekolah New York adalah tanda-tanda gangguan mental dan langkah penanganan yang tepat.

Melalui pendidikan kesehatan mental ini, anak-anak akan dibekali pengetahuan tentang kejiwaan. Termasuk mengobservasi secara mandiri apakah mereka mengalami masalah terkait kesehatan mental atau tidak. Dengan begitu angka gangguan kejiwaan diharapkan semakin menurun tiap tahunnya.

Selain kota New York, negara bagian Virginia, Amerika Serikat juga mulai mengesahkan undang-undang terkait pendidikan kesehatan jiwa ini. Berdasarkan undang-undang tersebut Virginia mulai memberikan pendidikan kesehatan jiwa untuk anak kelas 9 dan 10. Hal ini dirasa tepat karena masalah gangguan mental sering dialami anak dengan usia sekitar 14 tahun.

kesehatan mental anak

Kesehatan jiwa seseorang khususnya seorang anak sangatlah penting. Menurut Direktur pencegahan dan pengendalian masalah kesehatan jiwa dan Napza, KEMENKES RI, dr. Fidiansyah, SpKJ, menegaskan bahwa kesehatan jiwa sangat penting karena merupakan aset bangsa yang sangat berharga.  Mari, kita bersama belajar untuk lebih peduli pada kesehatan mental anak-anak kita.

Baca Juga :

  1. Anak Depresi Sampai Bunuh Diri, Orangtua Bisa Jadi Pemicunya?
  2. Depresi Pada Orangtua Akan Berdampak Buruk pada Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *