“Nak, Gagal Itu Artinya Belajar..”

Browse By

Iyus (5 tahun) menangis dan tantrum saat pulang dari penerimaan rapor di TK nya.

Ibu dan ayahnya berusaha menenangkan, tapi sang anak seperti sangat marah dan sedih.

Ketika ditanya alasannya, “Karena aku nggak jadi juara dan nggak dapat piala!”

Orangtuanya cemas, padahal mereka tidak pernah menuntut Iyus untuk ranking atau juara, tapi sang anak seolah punya keinginan kuat dan seperti tidak bisa menerima kekalahan.

Anaknya mendapat dan menjadi yang terbaik dalam segala hal mungkin adalah impian sebagian besar orangtua. Saat anak mengikuti lomba tertentu, orangtua akan berusaha dengan segala cara untuk mendukung anaknya agar berhasil. Lalu, bagaimana jika ternyata anak gagal?

Karena punya harapan tinggi agar anak berhasil, sebagian besar orangtua menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang mengecewakan. Meski kekecewaan tersebut tidak ingin ditunjukkan kepada anak, anak pasti bisa merasakannya. Kekecewaan tersebut pasti berdampak pada sisi psikologisnya.

Perlu orangtua ketahui bahwa kegagalan adalah suatu hal yang sangat perlu dirasakan oleh anak. Setiap orang setidaknya pernah satu kali gagal dalam hidupnya. Jadi tidak perlu untuk memaksa agar anak selalu jadi sempurna.

Kegagalan tak seharusnya diartikan sebagai hal yang negatif. Justru, melalui kegagalan tersebut, anak-anak akan tertantang untuk berkompetisi dan menjadi yang terbaik. Karena itu, orangtua juga seharusnya mendukung anak-anak saat mereka sedang berada dalam kegagalan.

Mengapa Anak-Anak Perlu Merasakan Kegagalan?

Biarkan anak belajar menjadi tangguh dengan menghadapi kegagalan yang mereka alami. Terkadang, orangtua memang harus bersikap tega supaya anak pun belajar. Inilah alasan mengapa anak perlu merasakan kegagalan.

1. Agar Anak Tidak Terjebak Perfeksionisme

Saat anak-anak tidak merasakan kegagalan dalam hidupnya, akan ada semacam energi neurotik yang disebut dengan perfeksionisme dalam diri anak. Mereka akan terjebak pada sebuah lingkaran kesempurnaan yang nantinya malah membuat mereka frustasi. Anak-anak pun tidak bisa belajar bagaimana caranya menghadapi stress, menyelesaikan masalah di luar rencana, dan lain sebagainya.

2. Mendidik Anak Menjadi Tahan Mental

Tuntutan hidup semakin hari akan makin tinggi. Kegagalan adalah kesempatan bagi anak untuk belajar menjadi kuat. Setiap anak tidak hanya dituntut terampil secara akademis, tetapi juga harus memiliki mental yang tangguh.

Setiap anak berhasil bangkit dari kegagalan mereka, mereka akan menjadi pribadi yang baru yang semakin tangguh. Semakin banyak mereka belajar, semakin sedikit peluang mereka untuk gagal di masa depan.

Apa yang Bisa Orangtua Lakukan?

Tidak ada yang senang ketika berada dalam posisi gagal. Anak-anak pun pasti akan merasa frustasi saat merasa gagal. Sebagai orangtua, kita tidak boleh membuat mereka makin tertekan dengan terus menyudutkan mereka. Apa yang bisa orangtua lakukan saat anak-anak sedang dalam posisi buruk ini?

1. Beri Tahu Anak Bahwa Anda Tidak Kecewa

Apa yang membuat anak begitu terpukul saat gagal melakukan sesuatu? Salah satu jawabannya adalah karena anak tidak ingin melihat orangtuanya kecewa. Apalagi, jika sebelumnya anak telah menerima banyak dukungan dari orangtua mereka. Kekecewaan mereka akan semakin bertambah.

Supaya anak tidak berlarut-larut dalam kesedihan mereka, beritahu mereka bahwa Anda tidak mengharapkan anak untuk selalu sempurna. Katakan bahwa Anda sudah cukup senang karena anak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk sukses. Bantu mereka untuk kembali bersemangat dalam meraih kesuksesannya.

2. Tunjukkan Rasa Empati

Saat anak gagal, jangan menyalahkan anak dengan kata-kata, “Kamu kebanyakan main sih,” atau “Harusnya kamu banyak latihan,”. Kata-kata tersebut hanya akan membuat anak merasa sedih dan kecewa.

Lebih baik Anda menyampaikan perasaan empati Anda. Misalnya, “Gak papa, Kak, semua orang juga pernah gagal, kok. Justru dengan gagal seperti ini, Kakak bisa belajar bagaimana caranya menjadi lebih baik.”

Pada intinya, bantu anak melihat sisi baik dari kegagalan yang mereka alami. Motivasilah mereka untuk tidak menyerah dan banyak belajar dari apa yang telah ia alami.

3. Analisis Penyebab Kegagalan

Supaya Anda dan si kecil tidak berlarut-larut dalam kegagalan, ajak anak untuk menganalisis penyebab kegagalan. Cari tahu faktor-faktor yang menyebabkannya gagal. Hal ini sangat penting sebagai bahan pelajaran bersama agar suatu hari nanti anak tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Menganalisis penyebab kegagalan juga bisa melatih anak untuk berusaha mengatasi masalahnya. Suatu hari, ketika anak mengalami kejadian yang serupa, ia bisa lebih baik dalam mengatasi masalah. Mereka pun bisa belajar untuk mempertimbangkan banyak hal sebelum melakukan kegiatan tertentu demi meminimalisir kegagalan.

4. Kenalkan Anak Hal Baru

Jika anak-anak tertarik dengan sesuatu, kemungkinan besar mereka akan melakukan yang terbaik untuk hal tersebut. Supaya anak cepat pulih dari keterpurukan mereka, tidak ada salahnya untuk mengenalkan hobi-hobi baru pada anak. Jangan membatasi apa pun yang ingin dilakukan anak.

Itulah beberapa sisi baik dari kegagalan, ya Parents. Meski terkadang susah menerima kegagalan, anak tetap harus belajar bagaimana cara mengatasi hal buruk yang mereka alami. Jangan selalu menempatkan anak pada posisi “baik-baik saja”. Ingat, yang terpenting adalah bahwa anak harus belajar cara kerja kehidupan.

Baca Juga:
  1. Pola Asuh yang Salah Bisa Membuat Anak Menjadi Egois
  2. Apakah Saya Orangtua yang Buruk?
  3. Bercerai saat Anak Balita, Benarkah Lebih Mudah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *