Banner Header Komunitas SOP

Apa Sih Sulitnya Buat Remaja Terbuka ke Orangtua?

Browse By

Lila, 11 tahun baru saja bertengkar dengan ibunya. Pasalnya, Lila pulang ke rumah sangat terlambat. Pukul 7 malam. Padahal tidak ada kegiatan di sekolah.

Ketika ibunya bertanya, kemana ia pergi. Lila bilang ke mall bersama teman-teman.

Ibunya tak melarang ia ke mall, tetapi ingin agar Lila bilang dahulu jika ia punya rencana untuk pergi, jadi orangtuanya tidak cemas. Apalagi ponsel Lila sengaja dimatikan, jadi ia tidak bisa dihubungi.

Orangtuanya khawatir, jika masa remaja ini akan banyak konflik dengan Lila karena ia sudah tidak lagi seterbuka dulu dengan orangtuanya. Apa sih sulitnya buat anak remaja terbuka ke orangtua?

Komunikasi terbuka adalah hal penting bagi orangtua dan anak. Namun, tidak semua anak bisa terbuka dan menceritakan segala hal kepada orangtua.

Semakin bertambah usia, anak yang beranjak remaja memilih lebih terbuka kepada teman daripada kepada orangtuanya. Bahkan sebagian anak memilih untuk menutup diri dan enggan menceritakan apa yang dialaminya sehari hari.

Padahal sebagai orang tua yang merasa bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak, sangat perlu mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi anak. Bagaimanakah mengatasi persoalan ini?

Jangan Memaksa

Jangan pernah memaksa anak remaja untuk terbuka kepada Anda, Parents. Mereka sudah merasa bahwa mereka harusnya punya privasi, hal-hal yang mereka tidak ingin bagi dengan orangtua.

Alih-alih memaksa, biarkan anak menceritakan sendiri tentang segala sesuatu kepada Anda.

Biarkan anak merasa nyaman berbicara dengan Parents. Bersikaplah tenang, terbuka, sabar, dan tidak mendesak.

Bersabar

Butuh waktu agar anak merasa nyaman untuk terbuka dengan Parents. Apalagi jika keterbukaan ini tidak dibangun sejak kecil. Yang harus diingat adalah selalu sabar dan menunggu waktu yang tepat. Jangan pernah menyerah untuk membuat anak merasa nyaman dan dan berani terbuka.

Hindari Konflik dan Kritik

Salah satu hal yang tidak disukai anak saat berbicara dengan orangtua adalah terjadinya konflik. Kemungkinan besar orangtua tidak sengaja melontarkan kata-kata yang bersifat mengkritik, menyalahkan, bahkan menghakimi. Ini bisa membuat anak tidak nyaman dan di kesempatan lain mereka enggan menceritakan masalahnya kepada orangtua.  

Alih-alih menghakimi anak, cobalah untuk memahami dan memberinya motivasi.

Mendengarkan adalah Kunci

Seberapa baik kita mampu mendengarkan anak, akan berdampak pada hubungan Parents dengan anak, bisa menjadi positif atau negatif. Dengarkan cerita anak dan jadilah pendengar yang baik. Itu akan membuat anak merasa dihargai.

Jangan pernah merasa bahwa berbicara dengan anak tidak akan berguna karena mereka seringkali terlihat tidak mendengarkan.

Anak, terutama remaja, mungkin tak selalu terlihat peduli atau mendengarkan nasihat Anda, tetapi sesungguhnya mereka bisa membedakan mana nasihat yang benar-benar tulus diberikan untuk mereka dan mana yang hanya sekedar kritikan atau menghakimi.

Pilih Waktu Tepat untuk Bicara

Parents tidak perlu selalu menunggu anak untuk berbicara. Ajaklah anak berbicara di saat yang tepat. Yaitu, saat anak sedang melakukan aktivitas tertentu. Misalnya, saat mengantarnya ke sekolah, saat memasak, atau saat menyiapkan meja makan. Berbicaralah dengan santai dan jangan menimbulkan suasana tegang.

Anak mungkin tidak selalu memilih cara bercerita di tempat tenang dan sepi. Karena tempat tenang dan sepi akan membuat mereka merasa tegang. Banyak anak yang mulai terbuka dengan Parents justru saat melakukan aktivitas bersama.

Misalnya saat jalan-jalan bersama, di sela-sela main bola, atau saat mencuci piring. Gunakan kesempatan ini untuk mendengarkan mereka dengan baik. Karena di saat seperti ini anak lebih mudah mengungkapkan pendapatnya.

Pahami Anak

Setiap anak memiliki kebiasaan berbeda. Sama halnya dengan kebiasaan berbicara mereka. Beberapa anak memilih berbicara setelah pulang sekolah, sedangkan yang lain saat berangkat sekolah. Beberapa lagi senang mengobrol sebelum tidur.

Dilansir dari situs time.com, Dr. Ron Taffel, penulis buku parenting Childhood Unbound, menjelaskan bahwa jangan mengubah kebiasaan berbicara anak. Misalnya, ketika anak suka mengobrol saat berangkat sekolah. Hindari mengajaknya bercerita setelah pulang sekolah. Kemungkinan besar mereka merasa lelah dan sedang tidak ingin diajak bicara.

Biarkan Anak Bercerita

Kebiasaan orang dewasa terkadang adalah tergesa-gesa. Bahkan tergesa-gesa untuk bertanya, sehingga tidak mendengarkan cerita anak dari awal hingga akhir. Usahakan untuk membiarkan anak bercerita hingga akhir.

Jangan memutus cerita anak di tengah-tengah. Dengan memotong cerita anak, Parents mungkin akan kehilangan hal paling penting terkait masalah yang sedang dihadapi anak.

Beri Nasihat dan Saran

Setelah anak merasa nyaman untuk bercerita kepada Parents. Berilah nasihat tanpa terdengar menceramahi. Parents juga bisa melibatkan anak saat memberikan saran kepadanya. Misalnya, saat anak bercerita bahwa sahabatnya sedang marah kepadanya. Parents bisa mengatakan “Sepertinya Ibu punya ide agar kamu dan sahabatmu tidak marahan lagi. Apa kamu mau dengar?”

Setelah Parents memberikan ide penyelesaian masalah kepada anak, ikuti dengan pertanyaan lain. Misalnya, “Bagaimana menurutmu? Apa ide Ibu bagus?” Dengan begitu, Parents melibatkan anak untuk ikut menyelesaikan masalahnya sendiri. Secara tidak langsung, kedekatan pun terjalin karena akan terjadi kompromi dan diskusi tentang masalah yang dihadapi.

Tidak mudah memang menyelami dunia remaja. Butuh waktu dan kesabaran agar mereka merasa nyaman dan terbuka kepada orang tua. Pendekatan yang baik sangat diperlukan. Parents bisa mencoba beberapa langkah di atas agar anak merasa nyaman dan terbuka saat bercerita.

Baca Juga:
  1. Remaja Makin Konsumtif, Bagaimana Cara Mengatasinya?
  2. Belajar Sains, Melahirkan Generasi Bebas Hoaks 

Rekomendasi Kelas Online Bersama Ahli : Dhisty Azlia. F, M.Psi, Psikolog

  1. Interaksi Efektif dengan Kakak yang Sudah Remaja

2 thoughts on “Apa Sih Sulitnya Buat Remaja Terbuka ke Orangtua?”

  1. Yayuk says:

    Sangat bermanfaat terimakasij

  2. Sri murni endrawati says:

    Makasih sangat membuka pikiran untuk bisa mencoba mengaplikasikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *