Banner Header Komunitas SOP

Apakah Anak termasuk ASD dan Bagaimana Penanganannya?

Browse By

Pertanyaan:

Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri, saya Yopi usia 28 tahun dan istri saya Dewi usia 28 tahun, anak kami Daffa usia nya (3 tahun 4 bulan). Dalam kesehariannya, perkembangan anak kami tergolong lambat bicara, ia mampu mengeluarkan kata-kata hingga usianya 2 tahun 6 bulan. Perilakunya sedikit sulit diatur dan sangat-sangat aktif.

Kami selaku orang tua sudah 2 kali konsultasi ke dokter dan psikolog untuk menanyakan tentang perilaku anak kami ini, dimana pada diagnosa dokter yang pertama anak saya dx PPD-NOS dan menyarankan anak saya untuk di terapi wicara dan SI.

Pada kesehariannya anak saya hingga berusia 3 tahun sudah bisa mengucapkan beberapa kalimat permintaan, sudah bisa diperintah dan paham omongan orang tuanya. Disini perlu kami catat hanya omongan orang tuanya (ibu dan ayah). Perkembangan kosa katanya sangat pesat dan banyak tau, mampu membedakan benda, angka, huruf, bahkan nama hewan, tumbuhan serta bendera negara.

Kemampuan daya ingatnya juga luar biasa, terbukti ia mampu menghafal surah alquran pendek, dan kosa kata dalam 3 bahasa (indo,english, arab), hanya bermodalkan rekaman tape recorder, namun sikap sulit diatur dan aktifnya sulit dibendung.

Lalu, ketika kami disarankan oleh therapist-nya untuk menjumpai psikolog. Sikap Daffa kerap berubah-ubah jika berhadapan dengan orang lain, sehingga psikolog tersebut mendiagnosa Daffa termasuk ASD (Autism Spectrum Disorder). Mohon solusi dan gambarannya dok apakah anak saya ini termasuk ke dalam kriteria anak autism? Seandainya pun demikian apa yang harus kami lakukan sebagai orang tua demi perkembangan anak kami ini?

Jawaban Ahli:

Halo Parents, terima kasih telah sabar menunggu jawaban dari kami.

Perkenalkan saya Endro, perlu digaris bawahi bahwa di satu sisi saya bukan dokter, melainkan terapis anak berkebutuhan khusus.

Menurut cerita dari Pak Yopi di atas, sebenarnya sangat susah mendiagnosis apakah seorang anak termasuk Autis atau tidak hanya dengan cerita di atas. Diagnosis tersebut membutuhkan observasi mendalam dari psikolog. Observasi yang dilakukan pun biasanya tidak hanya satu kali, melainkan beberapa kali.

Langkah Pak Yopi untuk menangani si kecil sudah sangat tepat, yaitu membawa si kecil ke psikolog dan terapis. Untuk pertanyaan apakah anak Bapak termasuk ASD (Autism Spectrum Disorder) atau tidak, saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Akan tetapi, Anda bisa melihat tanda-tanda ASD sebagai berikut.

√ Adanya Gangguan Interaksi Sosial

Anda bisa mengecek apakah anak mengalami gejala sosial seperti kontak mata yang tidak normal atau minim, referensi sosial yang terbatas, ketertarikan pada anak lain yang terbatas, jarang senyum, jarang melihat orang lain, ekspresi wajah yang terbatas, sedikit ketertarikan dengan permainan yang interaktif, keterbatasan bermain secara fungsional, tidak tampak bermain secara imajinatif, imitasi motorik yang terbatas.

Anak-anak yang mengalami gangguan interaksi sosial juga kurang bisa berbagi emosi, tidak bisa mengontrol emosi, tidak suka dipeluk atau hanya mengijinkan dipeluk ketika ingin saja.

√ Adanya Gangguan Komunikasi

ASD juga ditandai dengan adanya gangguan komunikasi. Anda bisa mengecek tanda-tandanya sendiri, yaitu anak tidak merespon atau memberikan respon yang buruk setiap kali dipanggil namanya, komunikasi verbal dan nonverbal yang sangat sedikit, kegagalan dalam berbagi kesenangan, kegagalan dalam merespon komunikasi dengan bahasa tubuh, lalu menggunakan tubuh sebagai alat untuk berkomunikasi, dan menolak kontak mata

√ Gangguan Perilaku

Anak dengan ASD juga sering membuat perilaku yang tidak wajar, seperti sering melakukan suatu gerakan yang berulang-ulang, misalnya mengetuk-ngetuk atau meremas tangan. Anak ASD juga sering menggunakan objek secara tidak normal, misalnya meletakkan benda berjejer-jejer, kemudian dilihat satu per satu dalam waktu yang lama. Lalu, anak ASD juga susah berganti mainan, mereka cenderung menggunakan satu mainan dalam waktu yang lama.

Lalu, hampir mirip dengan kasus di atas, anak dengan ASD juga cenderung memiliki masalah gangguan hiperaktif. Jadi, jika Anda merasa sekarang bahwa anak Anda tidak bisa diam atau sangat aktif, coba dicek lagi apakah anak memang hiperaktif atau tidak.

Jika Anda melihat beberapa tanda di atas dialami oleh anak, saran saya segera konsultasikan lagi dengan psikolog.

Lalu, apa yang bisa Anda lakukan sebagai orang tua si kecil?

Jika anak memang didiagnosis mengalami ASD, Anda bisa menambah jam terapi yang sedang dijalani si kecil. Misalnya, seperti yang sudah Anda paparkan, anak sangat susah diatur, berarti anak harus mendapatkan terapi perilaku. Jenis terapi ini juga harus sesuai dengan saran psikolog atau terapis.

Jika melihat dari pertanyaan Anda di atas, hal-hal yang perlu terus distimulasi adalah hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi. Selain itu, kontrol diri dan pemahaman lingkungan juga harus diajarkan terlebih dahulu karena kemampuan sosialisasi anak tidak akan bisa jalan jika pemahaman lingkungan, kontrol diri, dan komunikasinya belum jalan.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Untuk asesmen yang lebih jelas dan akurat, silahkan konsultasi lagi dengan psikolog dan terapis. Semoga apa yang saya sampaikan bisa sedikit membantu.

Tunggul Endro Handojo

Praktisi Anak Berkebutuhan Khusus

Baca Juga :

  1. Mengenal Lebih Dekat tentang Autism
  2. Anak Tidak Bisa Fokus = ADHD?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *