Banner Header Komunitas SOP

Apakah Tugas Anak adalah Membahagiakan Orangtua?

Browse By

Beberapa waktu yang lalu, School of Parenting pernah memuat artikel tentang Toxic Parents. Berawal dari artikel tersebut, ada beberapa pembaca yang mengirim email kepada kami. Isi email tersebut sangat mengejutkan.

“Bagaimana jika orangtua selalu menuntut ingin dibahagiakan? Apakah kewajiban anak adalah membahagiakan orangtua? Mengapa seolah-olah kebahagiaan orangtua adalah tanggung jawab anak?” tanyanya berturut-turut dalam email tersebut.

Ia adalah seorang perempuan, Mia, sebut saja begitu. Mia adalah anak terakhir dari 4 bersaudara. Semua saudaranya laki-laki. Tiga saudara terdahulunya lulusan universitas bergengsi di Indonesia. Dahulu, saat ia hendak memilih jurusan kuliah, ayahnya berpesan, “Nak, ayah punya mimpi yang hanya kamu yang bisa mewujudkannya. Ayah ingin mengoleksi empat almamater kuning.”

Mia tahu betul apa yang dimaksud ayahnya. Tiga saudaranya menempuh pendidikan di universitas bergengsi. Ayahnya menginginkan ia masuk di universitas yang sama dengan saudaranya.

Mia bercita-cita menjadi dokter gigi. Akan tetapi, dilihat dari nilainya, ia tidak akan bisa masuk kedokteran gigi di kampus tersebut karena nilainya tidak cukup. Singkat cerita, karena ingin membahagiakan orangtuanya. Mia menyerah dengan cita-citanya. Ia memutuskan masuk di universitas yang diinginkan orangtua meski dengan jurusan yang bertolak belakang dengan keinginannya.

Setelah mendapat gelar sarjana, lagi-lagi orangtuanya mengambil peran dalam pekerjaan yang dipilihnya. Orangtuanya menyarankan untuk menjadi PNS. Lagi-lagi, pilihan orangtuanya berbeda sekali dengan pilihannya. Mia mencoba menjelaskan, tetapi tak ada jalan keluar. “Apakah saya harus selalu mengorbankan kebahagiaan saya demi membahagiakan orangtua?” tanyanya lagi.

Menurut Mia, Toxic Parents yang paling berbahaya adalah saat orangtua selalu memaksakan kehendaknya kepada anak-anak mereka. Orangtua yang selalu minta dibihagiakan juga menjadi toxic parents yang berbahaya. Mengapa berbahaya? Karena pada dasarnya, tidak ada anak yang tidak ingin melihat orangtuanya bahagia.

Pembaca lain juga mengirimkan emailnya kepada kami. Dia memberikan tanggapannya tentang Toxic Parents. Bella (bukan nama sebenarnya), ia lahir dan besar di lingkungan keluarga yang serba kekurangan. Sebagai anak pertama, ia berpikir bahwa dialah yang bertanggung jawab untuk mengubah kondisi keluarganya.

Keluarganya terlilit hutang. Tetangga sekitar selalu memandang rendah Bella dan keluarganya. Keinginannya semakin kuat untuk bisa membahagiakan orangtuanya. Ia susah payah sekolah dengan biaya sendiri hingga sarjana. Pikirnya, gelarnya bisa sedikit mengangkat derajat keluarganya.

Nyatanya, hal itu tidak berpengaruh banyak. Meski menjadi sarjana, orangtuanya tak begitu bangga. Bagi orangtuanya, bisa hidup dengan nyaman, terbebas dari hutang, dan kaya raya adalah yang terbaik.

Sebagai sarjana, bukan berarti Bella bisa langsung kaya. “Ini bukan sinetron,” katanya. Lalu, ia pun bekerja lebih keras dari orang-orang pada umumnya. Akan tetapi, lagi-lagi, ini bukan sinetron. Dalam dunia nyata, tidak ada perjuangan yang mudah.

Yang paling mengejutkan dari email yang ia kirim adalah ia bercita-cita ingin mati. “Saya lelah. Saya harus segera menemukan cara untuk membebaskan orangtua saya dari segala hutang-hutangnya. Saya harus membuatnya kaya. Setelah itu, saya harus mati karena saya lelah.”

“Mengapa harus mati?” itu adalah pertanyaan kami kepadanya. “Bukankah orangtua Anda akan semakin sedih jika melihat anaknya meninggal?”

Lalu, email yang datang selanjutnya lebih mengejutkan lagi. “Karena saya tidak ingin menjadi orangtua yang sama seperti orangtua saya. Saya tidak yakin bisa membangun sebuah keluarga yang bahagia. Lebih baik, saya mati dan tugas saya selesai,” balas Bella.

Jika anak terus mengorbankan kebahagiaan mereka demi orangtuanya, perasaan stress dan depresi bisa saja muncul. Itulah yang dirasakan Bella.

Perihal membahagiakan orangtua, ini akan menjadi pembahasan yang menarik. Apa yang bisa kita pelajari dari dua cerita di atas?

Pepatah mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang masa, kasih anak hanya sepanjang galah. Benarkah demikian?

Tak bisa dipungkiri, kasih orangtua memang tanpa batas. Tidak bisa diukur dengan apapun. Sebagai anak, kita pun mengerti dan sepakat. Akan tetapi, tidak sedikit anak-anak yang juga menyayangi orangtua mereka lebih dari dirinya sendiri. Anak-anak melakukan apa pun demi membahagiakan orangtuanya.

Namun, suatu hari anak juga akan menjadi orangtua. Setelah menjadi orangtua, bukan berarti anak tidak lagi sayang atau peduli pada orangtuanya. Mau tidak mau, waktu dan perhatiannya harus terbagi. Karena sebagai orangtua, ia juga harus memberikan kasih sayang kepada anaknya.

Anak Depresi Sampai Bunuh Diri, Orangtua Bisa Jadi Penyebabnya

Tentang membahagiakan orangtua, rasanya tidak pas jika anak harus memikul beban sebesar itu. Setiap anak tentu ingin membahagiakan orangtuanya. Akan tetapi, jika itu dianggap sebagai kewajiban, maka itu akan membebani anak. Efeknya jelas akan merusak anak seumur hidup mereka.

Setiap manusia bertanggung jawab atas kebahagiannya sendiri. Orangtua yang tidak bahagia tidak boleh menuntut anak untuk membahagiakannya. Logikanya sederhana, ketika anak lahir, siapa yang bahagia? Anak atau orangtua?

Anak yang tidak bahagia akan menjadi orangtua yang tidak bahagia pula. Kelak, ia pun akan melakukan hal yang sama, yaitu menuntut dibahagiakan oleh anaknya. Ini seperti lingkaran setan.

Untuk kita yang berada dalam posisi yang sama, jangan menyalahkan orangtua kita. Bisa jadi, orangtua kita mendapat perlakuan yang sama dari orangtuanya dulu. Untuk itu, cukup putus siklus seperti di atas.

Jadilah orangtua yang baik. Berhenti selalu menuntut anak. Berhentilah menjadi seolah-olah yang paling benar. Berhentilah menjadi egois karena selalu menuntut kebahagiaan. Biarkan anak menentukan kebahagiannya sendiri. Bukankah tugas orangtua adalah mengantarkan anak pada kehidupan yang bahagia?

Stress dan Gangguan Kecemasan Mengintai Anak

 

 

3 thoughts on “Apakah Tugas Anak adalah Membahagiakan Orangtua?”

  1. RK says:

    This is the writing i’ve been looking for. Mungkin bs dibahas lbh mendalam tg ‘how ‘ would we make that happen as a parent. Krn kdg sbg orgtua ada batas tipis antara ‘ini demi kebaikan anak’ dan ‘ini demi memenuhi ego-ku sbg orgtua yg sudah melahirkan, membesarkan, dsb dsb’

    1. Ranti says:

      Terima kasih sarannya Ms Resy, kami sedang mengumpulkan bahan untuk membahas lebih dalam tentang toxic parents. Ditunggu tulisan kami berikutnya ya. 🙂

  2. Patricia Howzell says:

    I’d forever want to be update on new content on this web site, saved to my bookmarks! .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *