Banner Header Tanya Ahli SOP

Beda Pola Asuh dengan Pasangan, Harus Bagaimana?

Browse By

Apakah Anda pernah membicarakan pola pengasuhan bersama pasangan jauh sebelum memiliki anak? Atau, pernahkah Anda memiliki waktu khusus mencari gaya pengasuhan bersama pasangan untuk anak-anak?

Biasanya, saat kedua orang menikah dan memiliki anak, mereka jarang sekali membicarakan mengenai hal-hal spesifik seperti bagaimana cara mereka membesarkan anak. Akibatnya, saat pasangan tidak setuju dengan cara pengasuhan kita, kebanyakan mereka akan memberikan berbagai argumen. 

Seperti, “Orang tuaku membesarkanku dengan cara x, y, atau z dan aku tumbuh dengan baik. Jadi aku akan mengasuh anak kita dengan cara yang sama.” Atau,  beberapa pasangan berpendapat bahwa “orang tua A di seberang sana memiliki pola asuh a, b, c dan memiliki anak-anak yang baik, maka kita harus memiliki pola asuh sama seperti mereka”. 

Perbedaan pendapat ini tentu memberi dampak sendiri bagi pasangan. Beberapa pasangan yang berbeda pendapat tentang pengasuhan biasanya cenderung terlibat dalam pengasuhan “menang-kalah”. Dimana, masing-masing pasangan akan berlomba menerapkan pola asuh terbaik bagi anak dengan dasar “ingin menang dari pasangannya” dan bukan atas dasar kebaikan anak-anak. Padahal dalam pengasuhan anak-anak, orang tua diharapkan bisa bekerja sama satu sama lain untuk menang bersama dengan anak. Namun, sebelum mampu menang bersama anak, orang tua perlu menang bersama dengan pasangan. Artinya, pasangan perlu meninggalkan ego masing-masing untuk kepentingan bersama, yaitu anak.   

Apa yang Perlu Dilakukan saat pasangan tidak setuju dengan Pola Asuh Anda?

Mendiskusikan pola asuh yang tepat pada anak bersama pasangan merupakan jalan keluar terbaik bagi setiap pasangan jika memiliki perbedaan pola asuh. Namun, kebanyakan pasangan tidak memiliki konteks untuk diskusi seperti ini sampai mereka benar-benar membesarkan menghadapi kesulitan saat mengasuh anak-anak. 

Untuk mengatasi masalah ini, Anda bisa banyak belajar dari orang tua lainnya di grup-grup parenting atau belajar dari berbagai kelas parenting. Menambah ilmu parenting dan terlibat dalam support group parenting, akan sangat membantu Anda dalam menjadi orang tua. Anda dan pasangan bisa bertanya terkait tantangan pola pengasuhan yang sedang dihadapi. Sedangkan orang tua lainnya dan ahli dalam kelas-kelas parenting tentu akan dengan senang hati membantu Anda. 

Namun perlu diingat bahwa, setiap pendapat dan ilmu yang diperoleh harus didiskusikan kembali bersama pasangan. Apakah pola asuh tertentu memang cocok dengan anak-anak Anda atau perlu sedikit perubahan di sana sini agar pola asuh tersebut cocok pada anak. 

Tenang, banyak orang tua yang membutuhkan waktu sedikit lama dalam menemukan pola asuh yang tepat untuk anak-anak dan itu tidak apa-apa. Anda tak perlu khawatir dengan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengasuhan. Hal yang perlu Anda berdua lakukan adalah terus berdiskusi selama pengasuhan, sehingga beberapa kesalahan yang mungkin terjadi bisa segera diatasi bersama pasangan.  

Dalam situasi ini, penting bagi Anda berdua untuk bekerja sama dan mengesampingkan ego demi kepentingan anak. Mengambil jalan tengah saat pasangan ingin pola asuh A dan Anda ingin pola asuh B adalah hal wajib yang perlu dipikirkan. Tentunya, jalan tengah yang diambil dalam pengasuhan disesuaikan dengan temperamen anak. 

Misalnya, Anda mengalami kesulitan mendisiplinkan anak untuk belajar

Anda bisa bertanya pendapat pasangan tentang tantangan pengasuhan ini. Cari berbagai sumber tentang cara mendisiplinkan anak dan diskusikan beberapa solusi bersama dengan pasangan. Misalnya, Anda menemukan bahwa anak memiliki temperamen “difficult”, dimana anak cenderung rewel dan bertindak sesuai suasana hatinya.

Maka hal yang bisa dilakukan adalah memahami alasan anak sulit sekali diminta belajar. Mungkin anak mengalami kesulitan dalam memahami mata pelajaran tertentu. Anda dan pasangan bisa membantunya untuk belajar dan terus mengingatkan anak untuk belajar. Sebab, anak dengan temperamen difficult membutuhkan waktu lebih lama untuk mematuhi aturan tertentu. 

Bagaimana jika Anda dan Pasangan Sudah Terlalu Jauh Menempuh Jalur Berbeda dalam Mengasuh Anak?

Ada satu tindakan penting yang dapat mengembalikan Anda berdua ke jalur yang sama. Pertama, lakukan introspeksi bahwa sebagai orang tua kita wajib bekerjasama dalam pengasuhan. Dalam situasi ini, menurunkan ego adalah jalan keluar terbaik. Berhentilah untuk mengasuh anak dengan dasar kenyamanan untuk diri sendiri. Kita harus mulai berpikir bahwa parenting adalah untuk kebaikan bersama. Untuk anak-anak dan untuk kedua orang tua. 

Kedua, ajak pasangan untuk mengenali anak lebih dekat. Selama ini perbedaan pola asuh mungkin terjadi karena masing-masing dari kita belum memahami anak lebih dalam.  Akibatnya, kita hanya menerapkan pola asuh yang menurut kita baik, namun belum tentu cocok untuk anak. Ingat, bahwa setiap anak itu unik dan orang tua perlu memahami keunikan dari anak-anak sendiri. 

Ketiga, tentukan siapa yang ingin memimpin dalam pengasuhan. Beberapa pasangan menerapkan pola asuh lunak dan tegas dalam bersamaan, tentunya dengan aturan-aturan pengasuhan yang sudah disetujui bersama. Maka, biarkan pasangan yang lebih tegas memimpin dalam pengasuhan. Dan bagi pasangan yang lebih lunak bisa melengkapi di sampingnya. 

Sebagai contoh, saat anak tidak mau berhenti bermain gadget. Pasangan yang lebih tegas dalam pengasuhan bisa lebih ketat dalam aturan bermain gadget sedangkan yang lunak dalam pengasuhan bisa mengajak anak melakukan hal lain untuk menghindarkannya dari terus bermain gadget. Pasangan yang lebih tegas dalam pengasuhan bisa mengatakan “ayo berhenti bermain gadget, sudah 1 jam”, sedangkan pasangan yang lebih lunak bisa mengatakan “main gadgetnya besok lagi ya, kasian nanti matanya capek lihat layar terus” atau “ sekarang saatnya main bola di halaman yuk dek!” 

Menghadapi beda pola asuh dengan pasangan

Apa yang Terjadi Saat Kita Menentukan Pemimpin dalam Pengasuhan Anak?

Orang tua yang tegas menjadi lebih fleksibel dan murah hati dalam mengasuh karena tidak harus bersitegang akibat perbedaan pola asuh dengan pasangan. Dengan begitu, anak-anak tidak akan menderita karena harus melihat kedua orang tua bertengkar akibat perbedaan pola asuh. Orang tua yang lebih tegas juga lebih memahami bahwa dengan bersikap sedikit lebih lunak, anak-anak juga akan memahami aturan yang kita tetapkan. 

Tak hanya itu, bagi orang tua yang lebih lunak, mereka akan belajar menjadi sedikit lebih tegas pada anak-anak pada situasi tertentu. Mereka menjadi lebih dekat untuk berada dalam 1 tim dengan orang tua yang tegas. 

Sekarang Anda berdua menjadi orang tua yang lunak dan tegas serta saling mendukung. Anda dan pasangan dapat merasakan bahwa masing-masing memiliki seseorang yang berpihak ketika pengasuhan menjadi sulit. Bukankah itu terdengar jauh lebih baik?

Hubungan orang tua menjadi contoh bagaimana seharusnya hubungan antar anggota seluruh keluarga.

Anak-anak dari pasangan yang memiliki hubungan yang saling mendukung, penuh kasih, serta bekerja sama dengan baik, meskipun memiliki keterampilan pengasuhan marjinal, akan hidup lebih nyaman dibandingkan dengan anak-anak dari orang tua yang selalu berbeda pendapat dalam pengasuhan. 

Hubungan orang tua menjadi contoh bagaimana seharusnya seluruh keluarga berperilaku. Jadi, jika hubungan Anda tidak lagi disukai oleh anak-anak, mungkin inilah saatnya menjadwalkan diskusi bersama pasangan lagi. Luangkan lebih banyak, di awal dan penghujung hari untuk berhubungan sebagai pasangan. Bahkan jika perlu, ikuti beberapa konseling pasangan.

Baca Juga:

  1. Mengenal Tipe Temperamen Anak
  2. Pola Asuh yang Salah Bisa Membuat Anak Egois
  3. Mengenal Pola Asuh Co-Parenting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *