Banner Header Promo Oktober

Mengenal Pola Asuh Co-Parenting

Browse By

Tak ada seorang pun yang ingin hubungan pernikahannya berujung pada perceraian. Akan tetapi, jika memang hal itu harus terjadi, tak perlu saling menyalahkan atau menuduh orangtua egois. Sebagai pasangan sekaligus orangtua, mereka yang bercerai pasti sudah tahu konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil. Jadi, hal yang sebaiknya dilakukan setelah bercerai adalah tetap mengasuh dan membesarkan anak bersama-sama. Ingat, tugas mengasuh dan mendidik anak tidak hanya membutuhkan ibu saja atau ayah saja, tetapi keduanya.

Pernahkah Anda mendengar istilah pola asuh Co-Parenting? Ini adalah metode pengasuhan yang bisa dijalankan oleh para pasangan yang bercerai. Istilah Co-Parenting sendiri digagas oleh komunitas orangtua yang berpisah di Italia, yaitu Association of Separated Parents. Definisi dari Co-Parenting adalah sebuah usaha pengasuhan yang dilakukan bersama-sama meskipun dalam kondisi berpisah atau bercerai untuk saling berkomitmen dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka.

Menjalankan Co-Parenting tidak semudah yang dibayangkan. Harus dibangun dengan komitmen yang tinggi untuk semata-mata mengutamakan kepentingan anak di atas segalanya. Untuk para orangtua dengan kondisi keluarga seperti ini, lakukan Co-Parenting agar perkembangan anak bisa berjalan dengan baik dan tidak menemui kendala terkait psikologi anak pasca perceraian orangtua.

Lakukan (Do) :

  • Komitmen Penuh

Tentu akan ada ketidaknyamanan saat Anda kembali berhubungan dengan mantan pasangan meski semata-mata hanya untuk kebutuhan si kecil. Jangan pentingkan perasaan pribadi. Anda dan mantan pasangan harus fokus pada berbagi peran dalam pengasuhan anak. Meskipun tidak saling bertatap muka, tetap susun jadwal untuk saling berbagi informasi tentang perkembangan si kecil, mulai jadwal sekolahnya hingga jadwal pemeriksaan kesehatan berkala.

  • Terapkan satu aturan yang dijalankan kedua pihak

Berkaitan dengan kewajiban dan hak si kecil, tulislah dalam selembar kertas yang telah didiskusikan bersama. Hal ini penting agar anak tidak merasa ada perbedaan aturan yang diterapkan oleh pihak ibu atau pihak ayah.

  • Saling Terbuka

Tidak ada salahnya Anda dan mantan pasangan saling terbuka atas perkembangan kehidupan pribadi masing-masing. Jangan jadikan anak sebagai sumber informasi untuk mengetahui kehidupan orang tuanya pasca berpisah.

  • Kenali Potensi Diri Sendiri untuk Berbagi Tugas Mengurus Anak

Jika mantan pasangan lebih cermat dalam hal mengatur jadwal dan kedisiplinan, biarkan ia untuk mengajarkan konsep tersebut kepada si kecil. Anda bisa ambil peran lainnya untuk melengkapinya.

  • Pahami Bagaimana Cara Berpikir Anak

Anak-anak yang sehat adalah hasil pengasuhan yang baik dari kedua orangtuanya. Penuhi tangki cintanya dengan kasih sayang ayah dan ibu. Pahami bagaimana cara berpikirnya untuk mengetahui apa sebenarnya kebutuhan dan keinginannya.

apa itu pola asuh co parenting

Jangan Lakukan (Don’t) :

  • Saling Merusak Nama Baik Pasangan

Anak tidak akan belajar hal baik dari Anda jika Anda merusak nama baik pasangan atau sebaliknya. Meski Anda memendam amarah pada pasangan, jangan melibatkan anak. Biarkan dia belajar cinta dan kasih, bukan amarah dan benci.

  • Bertengkar dengan Mantan Suami/Isteri di Depan Anak

Jangan bertengkar di depan anak. Jangan juga mencari-cari informasi tentang mantan pasangan dari anak. Jangan melibatkan anak-anak dalam lingkaran konflik Anda. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang berada dalam lingkaran konflik orangtuanya akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri dan tertutup.

  • Memutuskan Masalah Tanpa Berdikusi dengan Mantan Suami/Istri

Meskipun tidak hidup bersama sebagai sebuah keluarga, keputusan atas hal-hal yang berhubungan dengan anak tetap harus didiskusikan bersama.

  • Terus-terusan Merasa Bersalah

Perpisahan merupakan sebuah keputusan yang sulit. Kadang, rasa bersalah masih terus datang menghantui. Meski begitu, jangan sering menunjukkannya di depan anak karena anak sangat membutuhkan orangtua yang bahagia.

Baca juga:

  1. Pola Asuh Ala Barat dan Timur, Mana yang Terbaik?
  2. Helicopter Parenting dan Efek Jangka Panjangnya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *