Banner Header Tanya Ahli SOP

Cemburu : Antara Madu dan Racun

Browse By

Papah, WA sama siapa sih dari tadi Mamah perhatiin ketawa-ketawa sendirian. Awas ya Pah, kalau lirik sana-sini!”

Sudah menikah lama, tapi masih saja cemburu dengan pasangan? Katanya sih cemburu itu bumbu dalam pernikahan supaya lebih bahagia. Betulkah demikian?

Cemburu merupakan emosi normal yang dirasakan oleh semua orang dan merupakan reaksi terhadap ancaman, baik nyata atau dalam bayangan terhadap suatu hubungan yang dihargai. Kecemburuan kecil yang dirasakan oleh seseorang memang bisa menjadi “madu” dalam suatu hubungan, Namun, cemburu berlebihan justru menakutkan dan menjadi “racun” karena dapat menyebabkan perilaku berbahaya. Misalnya, menguntit, kekerasan atau pelecehan seksual dan fisik.

Cemburu Sehat Vs Cemburu Tidak Sehat

Cemburu sehat mengarah pada kecemburuan yang memotivasi pasangan untuk saling menghargai. Biasanya, cemburu sehat ini mampu meningkatkan emosi dan membuat cinta terasa lebih kuat serta hubungan intim yang lebih bergairah. Dalam cemburu sehat, kecemburuan dapat dikelola menjadi kekuatan positif dalam suatu hubungan.

Sedangkan, cemburu tidak sehat berakar pada rasa takut ditinggalkan dan kekhawatiran tentang rasa “tidak benar-benar dicintai”. Rasa cemburu menjadi tidak sehat apabila kecemburuan mengarah pada tindakan melakukan kontrol penuh terhadap pasangan. Bisa jadi berupa penyalahgunaan keuangan, intimidasi verbal, kekerasan, dan tindakan kontrol lainnya yang bisa meringankan atau menutupi perasaan cemburu seseorang.

Cemburu tidak sehat ditandai oleh:

  1. Mulai menanyakan perilaku dan motif pasangan secara berlebihan
  2. Menguntit pasangan untuk mengkonfirmasi keberadaan
  3. Melarang pasangan melihat atau bertemu dengan teman dan keluarga
  4. Membaca email, chat, daftar panggilan berharap menemukan bukti perselingkuhan/kebohongan
  5. Terus mengirim pesan/menelepon pasangan tanpa henti saat berpisah
  6. Menuduh hal yang tidak benar
  7. Menjadi paranoid terhadap apa yang dilakukan atau dirasakan pasangan

Cemburu sehat dan cemburu tidak sehat perbedaan

Penasaran Bagaimana Resep Kelola Cemburu Agar Jadi “Madu” ?  

  1. Biarkan “Si Dia” Tahu Anda sedang Cemburu

Merasa cemburu dengan pasangan saat melihat ada rekan kerja yang genit, atau saat pasangan terus sibuk chatting dengan teman lawan jenis adalah hal yang normal. Namun, jangan sampai cemburu Anda berubah menjadi cemburu yang tidak sehat.

Sebaiknya, diskusikan rasa cemburu Anda tanpa perlu malu terhadap pasangan.

Misalnya, Anda berdua sepakat untuk membatasi komunikasi dengan teman lawan jenis atau dengan rekan kerja yang dianggap genit. Atau, terus terang kepada pasangan terkait hal apa saja yang dibicarakan dengan lawan jenis. Diskusi secara terbuka ini bisa jadi resep manjur agar rasa cemburu menjadi pemanis cinta dalam pernikahan, loh!

  1. Temukan Akar Rasa Cemburu

Resep lain untuk merubah cemburu menjadi “madu” adalah dengan menemukan akar dari rasa cemburu pasangan. Misalnya, apakah pasangan cemburu karena Anda terlalu sering chatting dengan teman lawan jenis? Atau, cemburu karena merasa tidak aman karena Anda tidak menghabiskan banyak waktu bersama pasangan?

Cobalah memahami akar dari rasa cemburu pasangan, dan apa yang bisa dilakukan untuk meringankan rasa cemburu tersebut.

  1. Bentuk Lingkaran Kepercayaan

Cara terbaik untuk mengubah rasa cemburu menjadi madu adalah dengan membentuk lingkaran kepercayaan bersama pasangan. Proses ini diawali dengan saling setia, berkomitmen dan jujur satu sama lain. Jika kedua pasangan bekerja sama untuk membentuk lingkaran kepercayaan, maka rasa cemburu pun akan berubah menjadi “madu” cinta, karena kita sama-sama yakin bahwa pasangan akan tetap setia.

  1. Kembangkan Keterikatan yang Sehat

Cara lain yang bisa mengubah rasa cemburu menjadi serbuk cinta adalah dengan mengembangkan keterikatan yang sehat. Artinya, Anda bisa saling terikat satu sama lain namun tidak terlalu mengekang atau mengontrol pasangan dalam setiap hal.

  1. Kenali Saat Cemburu Mulai Jadi Racun

Hal terpenting dari rasa cemburu adalah mengenali saat kecemburuan itu berubah menjadi racun atau mulai berubah menjadi cemburu tidak sehat. Misalnya, rasa cemburu yang dirasakan mulai mendorong Anda untuk mengintai pasangan,  atau mulai melakukan kekerasan secara verbal maupun fisik.

Kecemburuan memang bisa menjadi pemanis cinta maupun racun bagi siapa saja. Meski rasa cemburu itu normal, namun penting bagi kita untuk selalu mengelola dan mengatasi rasa cemburu agar kecemburuan terus berubah menjadi cinta yang akhirnya menguatkan hubungan kedua pasangan.

Baca juga:

  1. Ibu-Ibu Kerap Iri dan Cemburu, Masa Sih? Ini Faktanya!
  2. Atasi Cemburu dalam Pernikahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *