Masih Kecil Sudah Pandai Membantah? Tangani Dengan Cara Ini!

Browse By

“Dek, awas loh, jangan naik-naik, nanti jatuh!”

“Gak jatuh kok Mah, ini kan nggak tinggi!”

Duh, pasti pusing ya saat anak suka sekali membantah. Apalagi setelah membantah seringkali Anda bertengkar dengan anak karena beradu argumen. Sebagai orang tua tentunya tidak ingin beradu argumen dengan anak hingga bertengkar, tapi apa daya Anda sering dibuat emosi karena anak sering membantah. Lalu, apakah kondisi seperti ini hanya dialami oleh anak Anda?

Rupanya fase suka membantah ini dialami oleh semua anak. Russell Barkley, Ph.D, penulis buku Your Defiant Child: 8 Steps to Better Behaviour, mengatakan bahwa fase membantah, suka berargumen dan tidak mematuhi peraturan sering dialami oleh anak berusia 4-5 tahun. Menurutnya, pada usia ini anak-anak memiliki fokus untuk mendapatkan apa yang mereka mau dan mereka inginkan dengan cara baru, yaitu “membantah”. Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena kondisi ini sangat normal bagi anak usia pra sekolah.

Kondisi anak suka membantah juga menandakan perkembangan kemandirian dalam diri anak. Namun, Anda perlu waspada jika perilaku suka membantah ini, hampir dijadikan hobi oleh anak. Sehingga sedikit-sedikit si kecil mudah melawan, mudah membantah atau memberontak. Untuk itu, Anda bisa menghadapinya dengan beberapa langkah berikut ini:

Bagaimana Cara Menghadapi Anak Suka Membantah?

  • Hadapi dengan Psikologi Terbalik

Nah, alih-alih melarang anak sesuatu dan akhirnya berakhir dengan sikap membantah, sebaiknya gunakan psikologi terbalik. Seperti apa ?

Anda bisa melarangnya melakukan sesuatu dengan mendukungnya. Misalnya, saat anak menolak untuk menyikat gigi, katakan padanya “Iya, tidak apa-apa tidak gosok gigi, nanti paling giginya berlubang, terus gusinya bengkak, dan sakit sekali, adek juga tidak bisa lagi makan coklat atau permen”.

Dengan begitu anak berpikir bahwa Anda sama sekali tidak peduli dengan reaksinya dan justru akan berbuat sebaliknya untuk mendapatkan respon dari Anda.

  • Menyuruh dengan Meminta

Seringkali anak malas untuk disuruh-suruh. Untuk itu, ubah cara menyuruh Anda dengan meminta. Misalnya, “Nak, boleh tidak Ibu minta baju yang ada di tempat tidur kamu?” daripada mengatakan “Nak, baju yang ada di tempat tidur bawa sini!”

  • Tanggapi dengan Humor

Mendengar anak suka membantah atau beradu argumen dengan Anda tentu sering membuat emosi. Tapi, sebagai orang tua tentunya harus bisa menahan rasa emosi tersebut. Untuk itu, saat anak mulai membantah, tanggapi dengan sikap humor, misalnya “Oh, kamu masukkan nasinya ke gelas supaya bisa berenang,ya? Padahal, nasinya lebih senang kalau berenang di perut adek”.

Nah, cara ini akan berdampak positif bagi anak dan Anda. di satu sisi anak akan mencoba untuk memakan nasinya karena dia percaya nasi tersebut akan berenang di perutnya. Di sisi lain, Anda akan terhindar dari batahan atau amarah terhadap anak.

  • Katakan dengan Jelas

Saat Anda berhadapan dengan tingkah anak yang sedikit menjengkelkan, jangan terpancing emosi dulu. Gunakan strategi lainnya yaitu dengan mengatakan dengan jelas.

Misalnya, saat Anda meminta anak untuk mandi, usahakan jangan memintanya dengan nada yang keras dan cenderung marah-marah. Sebaiknya katakan dengan jelas, seperti “Mandi yuk kak, biar wangi, nanti setelah mandi boleh main lagi dengan bonekanya.”

  • Tetapkan Aturan dengan Konsisten

Untuk beberapa hal tertentu, Anda memang harus tegas. Khususnya hal-hal yang berkaitan dengan keamanan dan keselamatan anak. Misalnya, larang anak memanjat perabot di dalam rumah atau bermain dengan benda tajam. Hal ini penting dilakukan agar anak memahami bahwa ada hal-hal yang sama sekali tidak bisa dibantah olehnya.

  • Hindari Menggunakan Kata “Jangan” untuk Melarang

Banyak orang tua yang sering melarang anak melakukan sesuatu. Padahal larangan kepada anak justru kadang membuat anak sering melakukan larangan tersebut. Akhirnya Anda akan emosi dan marah-marah terhadap anak.

Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya hindari menggunakan kata “jangan”, atau kata perintah lainnya yang terkesan negatif. Hal ini juga dikatakan oleh Angie T.Cranor, Ph.D, seorang asisten profesor dari Universitas North Carolina, AS. Menurutnya, daripada melarang anak melakukan sesuatu, sebaiknya Anda meminta Anda melakukan sesuatu.

Misalnya, saat anak seringkali memanjat furniture di rumah, katakan padanya “Dek, coba duduk sini yuk sama Mama biar tidak jatuh”. Atau saat anak suka bermain dengan sampah, katakan “Ihhh adek jijik, di sampah kan banyak cacingnya, nanti cacingnya bisa masuk di kuku terus masuk ke makanan saat makan.” Jangan lupa gunakan ekspresi yang mendukung, sehingga anak percaya kalau bermain di sampah memang berbahaya untuk kesehatan.

  • Alihkan Perhatian Anak

Saat anak melakukan hal yang Anda larang, maka cukup alihkan saja perhatiannya untuk melakukan aktivitas yang lebih aman dan bermanfaat. Contoh, saat anak suka sekali melompat-lompat bahkan dari tempat yang cukup tinggi dan berbahaya, maka alihkan dengan kegiatan yang hampir sama.

Anda bisa mengajak anak untuk bermain lompat tinggi bersama, atau belajar lompat tali. Dengan begitu, anak masih bisa melompat, namun dengan cara yang lebih aman dan bermanfaat, Karena toh melompat-lompat juga baik untuk perkembangan motorik kasar anak. Anda juga bisa mengajak anak untuk bermain trampolin. Dengan begitu, anak tetap melakukan hal kesukaannya namun dengan cara yang lebih aman.

  • Hindari Sikap Bossy Anda

Sebenarnya tidak ada orang yang suka diperintah, termasuk anak-anak. Untuk itu, alih-alih selalu menyuruh atau memerintah anak, sebaiknya hindari sikap bossy. Parents bisa mengganti kalimat perintah tersebut dengan kalimat ajakan. Misal, saat ingin meminta anak untuk minum susu, katakan, “Yuk minum susu dulu sebelum tidur supaya tidurnya bisa nyenyak.”

Sambil mengajak anak minum susu, Anda juga bisa minum teh atau coklat hangat, sehingga anak tidak protes, kenapa hanya dia yang harus minum susu sebelum tidur. Katakan padanya, bahwa anak-anak memang harus banyak minum susu agar tubuhnya sehat dan kuat, sama seperti saat Anda kecil dulu.

  • Gunakan kalimat Berkonotasi Positif Setelah Kalimat Larangan Berkonotasi Negatif

Beberapa hal memang harus secara langsung dilarang demi keamanan anak, misalnya saat anak bermain dengan pisau dapur. Tentunya Anda tidak ingin anak terluka.

Untuk itu gunakan kata berkonotasi positif setelah kalimat larangan. Sebagai contoh, “Adik tidak boleh menggunakan pisau sendirian di dapur, tapi adik boleh menggunakan pisau ditemani Mama.”  Cara ini akan memberikan anak pilihan daripada selalu melarang anak melakukan ini dan itu.

Anak-anak memang seringkali membantah atau beradu argumen dengan orang tua. Hal ini adalah salah satu ciri perkembangan anak yang normal, sehingga Anda tidak perlu khawatir. Jangan sampai kondisi ini membuat Anda menganggap anak bandel. Namun, jika anak sudah menggunakan “sikap membantah” sebagai hobi, Anda perlu melakukan langkah tepat mengurangi hobinya tersebut. Beberapa trik di atas bisa digunakan sebagai referensi menghadapi anak yang suka membantah.

Baca juga:

  1. Anak Berkemauan Keras Bukan Anak Bandel
  2. Biang Onar atau Hanya Mencari Perhatian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *