Banner Header Komunitas SOP

Mengasuh Anak Ektrover Mudah?

Browse By

Banyak orang tua yang menganggap mengasuh anak ektrover itu lebih mudah dibandingkan mengasuh anak introver. Pasalnya, anak ektrover dikenal memiliki jiwa yang bebas, mudah bersosialisasi, mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan ekspresif.

Namun, sangat mungkin orang tua dari anak ektrover juga mengalami kesulitan saat menerapkan pola asuh yang tepat. Bisa Parents bayangkan apa yang terjadi pada anak ektrover saat berada di acara kantor? Mungkin si ektrover ini akan mengajak ngobrol banyak orang yang tidak ia kenal dan mengatakan sesuatu secara ‘blak-blakan’. Tentu Anda tidak ingin satu ungkapan buruk keluar dari mulut kecilnya bukan?

Nah, beberapa hal berikut ini akan membantu Parents dalam mengasuh anak ektrover

  1. Berikan Ruang Interaksi Interpersonal

Berinteraksi dengan orang sekitar adalah hal yang membuat anak ekstrover bersemangat. Sebaliknya, hanya berdiam diri dalam jangka waktu yang lama tanpa berinteraksi membuat mereka sangat kelelahan, sehingga mampu memicu perilaku agresif seperti pemarah maupun tersinggung. 

Hal yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan ruang interaksi sosial untuk si ekstrover. Misalnya, berinteraksi dengan saudara kandung, orang tua, teman sepermainan, bahkan biarkan anak mengeksplorasi lingkungan sekitar dan menemukan orang baru untuk diajak berinteraksi. Namun, ingat untuk tetap memberikan batasan dalam berinteraksi dengan orang-orang baru yang bahkan belum pernah dikenalnya. 

Hal yang perlu dihindari orang tua adalah berekspektasi berlebihan bahwa anak ektrover bisa duduk diam sambil mendengarkan. Akan lebih baik memberikan ruang bermain dengan permainan “bebas sosial” yang lebih memenuhi kebutuhan anak untuk berekspresi. 

2. Latih Anak Mengekspresikan Emosinya dengan Baik

Anak ektrover memang cukup ekspresif, sehingga tidak heran mereka bisa menangis, tertawa, frustasi atau meluapkan amarah melalui suara, tindakan dan bahasa tubuh. Anak ektrover memproses kehidupan secara eksternal yang berarti semua emosi yang berasa dari dalam diri akan dikembalikan ke dunia luar. Wajar, jika sulit bagi si ekstrover mengendalikan emosi dengan hanya berdiam diri, karena semuanya akan meluap ke luar. Sama dengan Introver yang membutuhkan ketenangan untuk mengekspresikan emosinya. 

Hal yang perlu dilakukan orang tua adalah menerima perasaan anak ekstrover. Biarkan ia bersuara tentang apa yang terjadi di dalam dirinya. Ketahuilah dengan mengungkapkan emosi yang dirasakan anak ektrover, itulah yang sehat bagi jiwanya. Namun, jangan lupa melatih anak untuk  mengekspresikan emosinya dengan baik. Misalnya, ajarkan pada anak untuk melakukan time in atau menjauh dari situasi yang memicu emosinya sementara waktu dengan melakukan hal lain yang membuatnya tenang. 

Hal yang perlu dihindari orang tua adalah memaksa anak untuk memendam emosinya. Saat anak sedang kesal, sebaiknya hindari mengatakan “ aku tidak mau mendengarmu lagi, saatnya untuk diam!”. Dia mungkin akan belajar bahwa emosi itu harus ditekan dan disembunyikan. Hal tersebut bertentangan dengan anak ektrover, sehingga justru membuatnya stres. 

tips mengasuh anak ekstrover

3. Dukung Proses Belajar dengan Fasilitas/Lingkungan yang Sesuai Jiwanya

Anak ekstrover lebih senang aktivitas yang membuatnya tetap aktif bergerak dan bukan hanya diam mendengarkan. Mereka akan menemukan kebahagiaan lebih banyak dalam aktivitas yang melibatkan seluruh panca indera. Dengan kata lain, anak ekstrover lebih senang aktivitas yang eksperimental dan kemungkinan besar bukan hanya duduk tenang di bangku sekolah.

Hal yang perlu dilakukan orang tua adalah mencari sekolah dan guru yang lebih banyak memberikan “pekerjaan lapangan” praktis dalam kurikulum sekolah. Tak hanya itu, sebaiknya libatkan anak dalam diskusi ringan selama di rumah. Mungkin melalui permainan atau pekerjaan rumah yang sedang dikerjakan bersama. Manfaatkan juga kegiatan ekstrakurikuler untuk membantu anak ekstrover memenuhi kebutuhan inderanya. Misalnya, bermain musik, olahraga, membuat konten video, dsb.

Hal yang perlu dihindari orang tua adalah berekspektasi bahwa anak akan melakukan sesuatu hanya dengan mendengarkan orang tua / guru (artinya : komunikasi satu arah) yang sangat bertentangan dengan jiwa ekstrover. Kondisi ini akan membuat proses belajar menjadi frustasi bagi si ekstrover. 

4. Berikan Waktu untuk Sendiri

Bukan berarti karena memiliki jiwa bebas dan sangat senang berinteraksi dengan orang  lain, si ekstrover selalu ingin dihibur oleh orang sekitar sepanjang waktu. Si ekstrover juga membutuhkan waktu sendiri dengan dirinya dan jiwanya. 

Hal yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan waktu sendiri untuk anak setiap hari, meski hanya beberapa menit. Berikan keseimbangan bagi dunianya yang cukup ramai selama ini dengan memberikan waktu untuk menyendiri. Biarkan anak mendengarkan musik sendiri, bermain sendiri atau membaca buku sendirian. Hal ini akan membantu anak menyeimbangkan dunianya. 

Hal yang sebaiknya dihindari orang tua adalah menetapkan batasan tertentu tentang bagaimana waktu sendiri sebaiknya bagi anak. Jika anak ekstrover Anda ingin berbicara sendiri, melompat-lompat sendiri bahkan bermain pedang-pedangan sendiri, maka biarkan dia mengekspresikan dirinya dengan caranya sendiri. 

Jiwa anak ekstrover memang bebas dan terasa penuh dengan keceriaan. Namun bukan berarti menjadikan parenting Anda terasa lebih mudah. Ada beberapa hal dari anak ektrover yang terasa sama sulitnya dengan anak introver. Maka, terapkan pola asuh yang sesuai untuk anak ekstrover Anda dan jangan memaksanya menjadi Introver.

Baca juga:

  1. Membesarkan Anak Introver di Tengah Dunia Ekstrover
  2. Si Kecil Kelepasan Ngomong di Tempat Umum?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *