Banner Header Promo Oktober

Waspada Salah Asuhan!

Browse By

Ini bukan judul sinetron ya, Parents. Ini adalah sebuah fenomena yang mana orangtua tidak bisa menerapkan pola asuh yang terbaik untuk buah hati mereka. Memang benar setiap orangtua selalu ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka. Akan tetapi, ada kalanya orangtua menggunakan pola asuh yang kurang tepat. Akibatnya, anak-anak malah tumbuh menjadi pribadi yang kurang disukai oleh masyarakat. Untuk mencegah hal tersebut, coba cek apakah Anda pernah melakukan kesalahan dalam mengasuh dan mendidik si kecil.

  •       Tidak Peduli Kebutuhan Dasar Anak

Orangtua fokus mencarikan sekolah yang mahal, mainan yang banyak dan selalu baru, memfasilitasinya bermacam-macam les, serta membelikan mereka baju-baju yang mahal. Akan tetapi, waktu untuk bertemu buah hati hanya 2 kali dalam sebulan. Apakah si kecil membutuhkan hal-hal tersebut? Bukankah kehadiran Andalah yang menjadi kebutuhan dasar si kecil?

Dampaknya, anak-anak akan merasa dirinya tidak cukup berharga bagi orangtuanya. Anak akan berpikir bahwa orangtuanya punya hal yang lebih penting dibandingkan dengan menghabiskan waktu bersamanya. Meski anak selalu mendengar kata-kata, “Papa-Mama kerja demi kebaikanmu, Nak,” sejatinya anak tidak pernah benar-benar mengerti makna kalimat tersebut.

Anda harus sadar bahwa Andalah sumber energi bagi si kecil. Ia tetap membutuhkan dukungan Anda di sisinya untuk menemaninya bercerita, bermain, dan bercanda. Saat anak merindukan Anda sementara Anda sangat sulit ditemui, anak akan mencari perhatian dengan melakukan hal-hal buruk.

Idelanya, berikan waktu yang cukup untuk si kecil. Berikanlah diri Anda sebagai suatu kebutuhan dasar bagi si kecil. Beri waktu dan perhatian penuh dan dengarkanlah kisah-kisahnya yang lucu, lugu, dan sangat ajaib.

  •       Memperlakukan Anak seperti Orang Dewasa

Jika orangtua memaksakan anak untuk berlaku dewasa, hal ini tidak akan pernah berhasil. Misalnya, makan harus duduk dan rapi, pakai baju harus serasi, cepat mengambil keputusan saat diberi pilihan, tidak boleh salah, dan lain-lain. Anda menjadikan diri Anda sebagai standar untuk si kecil. Padahal, belum masanya ia bertindak seperti orang dewasa.

Dampaknya, si kecil akan kelelahan karena otak kecilnya terus dipaksa bekerja layaknya otak orang dewasa. Fisiknya yang kecil harus mengikuti ritme orang dewasa. Perlakuan seperti ini sama saja membangun sifat rendah diri pada anak karena sering menempatkannya pada posisi yang man aia tidak mampu melakukannya.

Idelanya, tuntut anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Terlalu menuntut lebih justru tidak bagus untuk perkembangan psikologisnya. Orangtua harus lebih memahami perkembangan anak dan mengikuti irama serta jalan pikirannya. Anda harus paham bahwa logika anak belum sempurna. Otaknya masih tumbuh, begitupun fisiknya.

  •       Dilayani Terus Menerus

“Kan usianya masih 3 tahun, kasihan kalo harus beres-beres semua mainannya. Saya gak tega aja rasanya.” Anak terus diperlakukan seperti bayi. Semua hal dilakukan oleh orangtuanya. Apa pun kebutuhannya dilayani terus-terusan.

Dampaknya, anak tidak mampu mengembangkan dirinya. Dia juga tidak pernah bagaimana susahnya mendapatkan sesuatu karena apa-apa yang diinginkan selalu dilayani. Kelak, ketika anak sudah mulai dewasa, ia akan tumbuh menjadi anak yang manja dan tidak bisa mandiri. Lalu, kaitannya dengan perkembangan sosial, anak akan kesusahan menjalin kerja sama dengan orang lain sebab sikapnya yang sangat bossy.

Idealnya, berikan kesempatan pada si kecil untuk melakukan sesuatu yang sudah bisa ia lakukan, misalnya membereskan mainan, merapikan tempat tidur, atau membantu pekerjaan rumah. Bila perlu, mudahkan segala sesuatunya supaya ia merasa bisa melakukan segala sesuatu sendiri. Hal ini justru bisa meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri anak.

  •       Selalu berkata “ya”

Ketika kata-kata “ya” selalu muncul untuk semua permintaan si kecil, sebenarnya Anda tidak benar-benar sayang pada si kecil. Anda hanya peduli dengan diri Anda. Selalu berkata “ya” berarti Anda tidak perlu repot-repot berdebat dengan anak. Anda pun tidak mau berpikir mengapa Anda harus mengatakan “tidak” pada permintaan anak.

Dampaknya, anak akan menjadi tipe anak penuntut. Sikap Anda yang tidak peduli akan menular pada si kecil. Ia akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak peduli apa pun. Misalnya, ia memaksakan sesuatu dan tidak peduli dengan kondisi ekonomi keluarga.

Idealnya, pikirkan terlebih dahulu sebelum mengucapkan “ya” atau “tidak”. Anak harus tahu alasan mengapa ia harus mendapatkan jawaban tersebut. Dua kata tersebut juga sangat penting untuk menstimulasi anak agar mau bereksplorasi.

  •       Bicara dengan Bahasa Alay

Orangtua tidak mencontohkan standar bahasa yang jelas. Misalnya, maacih untuk terima kasih, inces untuk princess, utu untuk lucu, dan lain sebagainya. Bukannya lucu atau imut, kata-kata ini justru membingungkan si kecil.

Dampaknya, anak-anak tidak bisa belajar dengan benar mengenai kata-kata tersebut. Bisa jadi, si kecil malah akan terus-terusan memakai kata-kata kacau tersebut karena menganggap bahwa seperti itulah pelafalan yang benar.

Idealnya, orangtua harus mengajarkan cara melafalkan kata-kata yang benar. Tak perlu seolah-olah menjadi anak dengan melafalkan kata-kata yang kacau. Si kecil tetap butuh role model untuk dikenal dan ditiru.

  •       Tidak Mengajarkan Disiplin

Meletakkan topi di meja, dasi di kolong tempat tidur, sepatu di kursi tamu, dan lain sebagainya adalah bentuk perilaku anak yang tidak disiplin. Kondisi rumah jadi berantakan dan tanpa aturan. Meski begitu, orangtua dengan sabar membereskan semua kekacauan anak tanpa memberi tahu bahwa perilakunya salah.

Dampaknya, anak-anak tidak pernah belajar bagaimana tanggung jawab. Ia akan menjadi anak yang ceroboh dan masa bodoh dengan lingkungannya. Ketika berada di lingkungan sosial, orang-orang mungkin akan memilih menghindar daripada harus bertemu dengan anak Anda.

Idelanya, ajarkanlah tanggung jawab dan disiplin sedini mungkin. Buatlah daftar apa saja yang mesti dipatuhi oleh penghuni rumah. Khusus untuk si kecil, ingatkan jika ia meletakkan barang tidak pada tempatnya. Ajarkan ia menata kembali mainan yang sudah selesai dimainkan, dan hal-hal kecil lainnya.

 

  •       Tidak Menuntut Anda untuk Menghormati Orangtua

Demi menjaga hubungan orangtua dan anak, orangtua biasanya lebih memilih menjadi teman yang menyenangkan. Anda berperilaku seolah-olah Anda adalah teman sebayanya dengan membiarkan anak memanggil Anda dengan nama saja atau membiarkan si kecil mengucapkan “ah”. Anda tidak memberi batasan yang jelas antara hubungan orangtua dengan anak.

Dampaknya, si kecil tidak punya kesempatan untuk belajar menghormati orangtuanya. Ia tetap memperlakukan Anda seperti teman main. Ketika berada di masyarakat, anak seperti ini cenderung tidak menghormati orang yang lebih tua. Label “anak tak sopan” bisa saja melekat pada diri anak Anda.

Idealnya, meski tujuannya menjaga kedekatan dengan si kecil, Anda tetap harus memberlakukan konsep menghormati orang tua. Misalnya, mengucapkan salam ketika bertemu orang lain, membungkuk ketika berjalan di depan orang tua, dan mengajarkan tata krama pada si kecil.

  •       Tidak Mengijinkan Anak Memilih

Tidak sedikit orangtua yang selalu memaksakan keinginannya kepada si anak. Misalnya, menuntut anak untuk pandai bermain musik, padahal anak lebih suka olahraga atau memaksa anak di sekolah A padahal anak lebih nyaman di sekolah B. Anda terus-terusan meneror anak untuk melakukan seperti yang Anda mau. Bahkan, untuk sekedar pakaian yang akan dipakainya.

Dampaknya, anak akan kehilangan rasa percaya diri karena pendapatnya tidak dihargai. Anak tidak mengerti mengapa pilihannya selalu salah di mata orangtuanya.

Idealnya, orangtua harus mendengarkan pendapat si kecil. Anak-anak mungkin masih kecil, tetapi bukan berarti pendapatnya tidak layak didengar. Apalagi hal-hal yang menyangkut diri anak-anak.

 

Referensi: www.kancilku.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *