Parenting School Life Usia Sekolah

Anak Jadi Atlet? Seimbangkan Dunia Pendidikan dan Sosialnya

Masih dalam momentum Asian Games 2018 yang diadakan di Indonesia. Sebagai orang Indonesia tentunya ikut senang dan bersemangat dalam mendukung atlet-atlet kita. terlebih jika atlet tersebut adalah keluarga sendiri , mungkin suatu hari ada putra putri kita yang berlaga di sana.

Sebagai orang tua tentunya kita merasa senang dan bangga jika putra putri kita menjadi atlet yang sering ikut berbagai macam kejuaraan. Namun, mungkin ada satu kekhawatiran terhadap anak parents yang sedang menjalani peran ganda yaitu sebagai atlet sekaligus pelajar.

Di satu sisi ingin terus berlatih menekuni olahraga pilihannya, namun di sisi lain pendidikan juga hal yang sangat penting. Begitulah keraguan orang tua yang memiliki anak seorang atlet. Tak sedikit yang akhirnya merelakan putra putri nya untuk fokus pada kehidupan atlet, dan “menyerah” dengan pendidikannya.

Padahal, Kehidupan menjadi atlet tentu ada batas usia, dan tidak selalu produktif. Dari segi ekonomi, kita tahu ada banyak kisah atlet-atlet dalam negeri yang kurang beruntung di masa pensiunnya, dan tidak punya banyak pilihan karena pendidikan yang juga tidak menunjang.

Hal seperti ini pasti tidak akan pernah diharapkan untuk putra putri kita, bukan? Itulah mengapa pendidikan sangat penting. Tidak ada yang tahu sampai kapan anak kita mampu mempertahankan prestasi sebagai atlet. Semua hal bisa terjadi dalam perjalanan hidup mereka.

Jadi, dukungan dan persiapan mental seperti apa yang harus Parents berikan untuk menyeimbangkan dua peran penting anak sebagai pelajar dan atlet?

Yuk ,kita pelajari dalam poin-poin berikut:

1. Pengaturan Waktu

Hal yang paling penting dalam mendampingi kehidupan seorang atlet sekaligus pelajar adalah pengaturan waktu yang baik. Orangtua harus membantu anak dalam menyeimbangkan dua peran ini.

Sebagai pelajar hal yang paling utama adalah mengetahui kapan ujian dilaksanakan. Hal yang sama juga berlaku untuk kegiatannya sebagai seorang atlet. Orangtua dan anak harus sama-sama mengetahui kapan jadwal suatu pertandingan dilaksanakan.

Berikut langkah mudah untuk memulainya

  • Komunikasi dengan guru dan pelatih. Parents dan anak bisa bertanya pada guru dan pelatih tentang tanggal-tanggal penting. Baik untuk ujian sekolah maupun untuk pertandingan sebagai atlet.
  • Ambil kalender dan mulailah menandai tanggal-tanggal penting tersebut
  • Jika jadwal pertandingan bertepatan dengan jadwal ujian dan hampir tidak mungkin mengubah jadwal pertandingan. Orangtua bisa lebih dulu mengupayakan permintaan ujian susulan bagi anak.

Pastikan anak mematuhi setiap jadwal yang sudah dibuat bersama termasuk kapan anak harus belajar untuk ujian dan kapan harus berlatih untuk pertandingan.

2. Buat Prioritas

Setelah membuat jadwal bersama dengan anak, pastikan orangtua dan anak membuat skala prioritas. Jika jadwal ujian lebih dekat dari pada jadwal pertandingan, maka anak harus belajar untuk ujian terlebih dahulu.

Bantu anak mengatur jam belajarnya agar anak memperoleh hasil yang maksimal. Ingatkan anak bahwa ujian sekolah sama halnya dengan pertandingan. Anak harus melakukan yang terbaik dari kemampuannya. Setelah ujian anak selesai, mulailah bantu anak untuk fokus pada pertandingannya.  

Jika jadwal kompetisi lebih dekat daripada jadwal ujian, orangtua harus menyusun jadwal latihan dan rutinitas anak sebagai pelajar. Hal ini berarti walaupun anak sibuk berlatih untuk pertandingan, mereka juga tidak boleh meninggalkan kewajiban akademisnya.

Sebagai contoh, anak bisa berlatih di sore hari dan tetap mengerjakan PR di malam hari. Orangtua bisa membantunya dengan membiarkan anak tidur dahulu setelah latihan dan bangunkan anak setelah 2 atau 3 jam. Mintalah anak untuk mulai mengerjakan PR nya. Hal ini membantu anak memulihkan tenaga setelah lelah berlatih. Jangan lupa atur pula pola makannya agar tidak sampai jatuh sakit.

3. Jangan Lupakan Kehidupan Sosial

Kehidupan sosial seorang pelajar sekaligus atlet juga sangat penting karena membantu mereka untuk rileks. Jangan biarkan anak hanya memiliki kehidupan di sekolah dan kehidupan sebagai atlet. Ini akan membuat mereka merasa kelelahan secara mental dan fisik.

Biarkan anak berteman, pergi ke bioskop, pergi makan dengan teman atau kegiatan lain yang membuat mereka merasa rileks. Kegiatan ini bisa mengurangi stres pada anak karena padatnya jadwal mereka. Ini juga akan membuat mereka jadi “anak normal”, bukan hanya atlet atau anak sekolah yang diburu-buru untuk selalu belajar dan jadi juara.

4. Buat Tujuan Yang Jelas Untuk Anak

Pastikan Parents memberi pemahaman pada anak tentang tujuan hidup. Buatlah tujuan jangka panjang dan jangka pendek. Mulailah dengan tujuan harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Ingatkan anak untuk selalu berjuang dalam meraih sesuatu yang ingin dicapainya.

Tanamkan bahwa berprestasi sebagai atlet itu penting, namun pendidikan juga tidak boleh ditinggalkan. Buat anak paham bahwa sangat penting untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai dan meraih apa yang ingin diraih. Hal ini berarti perlu untuk meraih impian menjadi juara dalam tiap pertandingan dan menyelesaikan pendidikan.

5. Pilihkan Sekolah Atlet Untuk Anak

Akan lebih baik memilihkan sekolah khusus atlet untuk anak yang memang sudah berkecimpung di bidang olahraga dalam waktu yang lama. Hal ini membantu Parents dan anak mengatur jadwal dengan lebih mudah.

Pemerintah saat ini menyediakan sekolah khusus bagi para atlet. Tujuannya tidak lain agar atlet-atlet ini tidak kehilangan pendidikan karena sibuk mengikuti pertandingan.

Sekolah Khusus Olahraga di Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan mungkin menjadi jawaban atas dilema para orang tua yang memiliki anak sebagai atlet nasional. Mata pelajaran yang diberikan sama dengan sekolah lain dan sesuai kurikulum yang berlaku saat ini.

Perbedaannya hanya terletak pada durasi belajar siswa. Di sekolahan biasa tiap mata pelajaran berlangsung selama 45 menit. Sedangkan di sekolah khusus ini hanya berlaku 30 menit. Belajar mengajar dimulai pukul 08.30 WIB dan selesai pukul 12.00 WIB. Di luar jam itu siswa bisa fokus dalam berlatih olahraga.

Seleksi calon siswa dilakukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) DKI Jakarta. Para atlet yang terpilih akan dibina oleh pelatih dan ditunjang oleh fasilitas olahraga berstandar Olimpiade.

Dengan sistem sekolah khusus ini, sekolah akan memberikan toleransi bagi atlet untuk mengembangkan bakat di bidang olahraga serta tetap dalam koridornya sebagai seorang pelajar. Sehingga pendidikan dan prestasi sebagai atlet bisa berjalan beriringan.

Menjadi orang tua memang hal yang tak mudah. Terlebih jika memiliki anak dengan impian menjadi atlet nasional. Pengaturan waktu dan prioritas yang baik dan seimbang menjadi kunci utama bagi masa depan anak kita.

Baca Juga:
  1. Asian Games: Momen Penting Tanamkan Nasionalisme pada Anak
  2. Tips Anak Rajin Belajar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *