Anak Nggak Boleh Dimarahi? Siapa Bilang Sih?

Mengatasi rasa marah pada anak memang bukan pekerjaan yang mudah dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh usaha keras untuk menahan amarah pada anak.

Contoh, saat Anda lelah pulang kerja dan melihat anak secara tidak sengaja menumpahkan susu coklat di atas karpet yang baru saja dicuci hari minggu lalu. Orangtua mana sih yang tidak terpancing amarah saat mengalami situasi seperti ini?

Pertanyaannya kemudian, hal pertama apa yang akan Anda lakukan? Langsung membentak anak? Langsung memarahi, atau justru mendiamkan anak karena sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk merespon kondisi tersebut?

Banyak dari Anda yang mungkin langsung bereaksi memarahi anak, atau berteriak. Meskipun, tak lama kemudian Anda menyesal. Hal ini pun bukan hanya dialami oleh Anda, tapi juga dialami oleh kebanyakan orangtua di luar sana.

Memarahi anak karena situasi tertentu memang bukan hal baru dan terbilang situasi yang sangat wajar dialami oleh kebanyakan orangtua. Hal terpenting yang harus diingat saat amarah Anda terpancing adalah hindari bertindak saat marah.

Jadi, bukannya tidak boleh memarahi Anak, tapi hindari bereaksi di depan Anak saat Anda merasa marah. Reaksi yang Anda tunjukkan di depan anak saat amarah sedang memuncak bisa mengarah pada reaksi berlebihan dan cenderung negatif. Misalnya, berteriak, memukul, mengatakan sumpah serapah dan perilaku negatif lainnya.

Semua perilaku dan tindakan negatif yang Anda lakukan di depan anak saat marah, tentu bisa berdampak buruk pada kejiwaannya hingga dewasa nanti. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya kontrol amarah Anda dan marahi anak dengan cara yang tepat sebagai orangtua.

Bagaimana Memarahi Anak dengan Cara Tepat?

√ Hilangkan Amarah Anda Sebelum Bertindak

Penting bagi Anda untuk menghilangkan amarah sebelum bertindak di depan anak-anak. Misalnya saat Anda marah karena anak menumpahkan susu coklat di atas karpet kesayangan maka ambilah beberapa saat untuk menenangkan diri.

Hindari langsung bereaksi kepada anak Anda. Apalagi jika reaksi Anda berupa teriakan atau berupa reaksi fisik seperti mencubit bahkan memukul. Menurut penelitian, bereaksi negatif saat marah di depan anak akan membuat perilaku anak menjadi semakin sulit diatasi.

√ Berpikirlah Secara Jernih

Setelah Anda mengambil beberapa saat untuk menenangkan diri, mulailah berpikir secara jernih. Beberapa hal yang perlu Anda pikirkan dan katakan pada diri Anda saat marah misalnya:

  • “Aku marah, tapi aku bisa mengontrol amarahku.”
  • “Aku adalah orang dewasa di sini.”
  • “Aku marah karena kekacauan yang terjadi, bukan pada anak.”
  • “Aku akan tetap tenang dan kami akan belajar dari situasi ini. Aku akan berlatih dengan anakku tentang situasi ini berulang kali sampai aku dan anakku mahir melakukannya.”
  • “Oke, aku akan mengambil lap dan membersihkan susu yang tumpah ini segera.”
  • “Tidak masalah, Ibu akan membantumu membersihkan susu ini,nak.”

bolehkah memarahi anak?

√ Hindari Mengekspresikan Amarah Pada Orang Lain

Banyak yang beranggapan bahwa amarah harus dilampiaskan agar tidak memperburuk kondisi kejiwaan kita. Padahal, menurut penelitian, dengan mengekspresikan amarah pada orang lain saat sedang marah justru semakin membuat kita lebih marah. Hal ini berarti kondisi kejiwaan kita semakin buruk.

Untuk mengatasi hal ini maka ekspresikan amarah Anda di tempat sepi tanpa sepengetahuan orang lain. Misalnya di dalam kamar mandi dengan pintu terkunci, atau di tempat sepi lainnya. Sebaiknya ekspresikan amarah Anda dengan berteriak tanpa mengucapkan sumpah serapah agar amarah Anda tidak semakin memuncak.

√ Disiplinkan Anak Setelah Amarah Reda

Banyak yang beranggapan bahwa memarahi anak adalah cara untuk mendisiplinkan anak. Padahal masih banyak cara lain untuk mendisiplinkan anak, dan semua cara tersebut tidak dilakukan saat Anda sedang marah. Alih-alih memarahi anak dengan kata-kata negatif, lebih baik gunakan time in, sebagai solusi lain mendisiplinkan anak.

√ Hindari Bertindak Secara Fisik

Semarah apapun Anda pada perilaku anak, jangan biarkan emosi menguasai diri hingga membuat Anda bertindak secara fisik. Misalnya dengan mencubit, atau bahkan memukul anak. Menurut penelitian, kebanyakan orangtua melakukan kekerasan fisik pada anak.

Dilansir dari psychologytoday.com, menurut penelitian yang terbit pada Journal of Psychopathology, pada tahun 2007, sekitar 85% remaja mengaku pernah ditampar atau dipukul oleh orangtua mereka. Berdasarkan penelitian tersebut, American Academy of Pediatrics sangat menentang kekerasan pada anak karena bisa menimbulkan dampak negatif pada perkembangan anak yang bisa berlangsung seumur hidup.

√ Hindari Mengancam Anak

Salah satu kebiasaan orangtua saat marah pada anak adalah mengancam mereka dengan dalih agar anak tidak mengulangi perbuatannya. Perilaku ini sangat disayangkan, karena ancaman yang ditujukan pada anak hanya akan dianggap sebagai angin lalu saja.

Anak-anak seringkali memahami bahwa ancaman yang Anda tujukan pada anak sama sekali tidak akan Anda lakukan. Misal saja, saat Anda mengancam akan mengurung anak dalam kamar kalau perilaku anak tidak berubah. Saat yang sama juga anak tahu bahwa Anda tidak akan melakukannya.

√ Perhatikan Nada  Bicara dan pilihan Kata Anda di depan Anak

Penelitian mengungkapkan bahwa, semakin tenang kita berbicara, semakin tenang emosi yang kita rasakan dan semakin tenang pula respon yang kita peroleh dari lawan bicara. Untuk itu, perhatikan nada bicara dan pilihan kata pada anak saat Anda sedang marah. Tetaplah berusaha untuk tenang dan hindari berteriak pada anak.

√  Hindari Marah-Marah Karena Hal Sepele

Memarahi anak memang bisa terjadi kapan saja, tapi pastikan bahwa alasan Anda memarahi anak bukan karena hal sepele.

Sebaliknya, Anda bisa sedikit memarahi anak karena perilaku negatif yang dilakukannya berulang kali. Misalnya terus-terusan melanggar peraturan bermain gadget padahal Anda sudah membatasi waktu bermainnya dan hal lainnya yang sudah tidak bisa Anda toleransi.

Kapan Boleh Memarahi Anak?

Memarahi anak tetap boleh dilakukan selama orangtua memarahi anak dengan cara yang tempat. Artinya, hindari bereaksi berlebihan saat marah. Misalnya dengan berteriak, atau melakukan kekerasan fisik.

Gunakan kesempatan memarahi anak dengan tujuan untuk mendisiplinkan, meskipun memarahi anak bukanlah satu-satunya cara mendisiplinkan anak. Tidak masalah memberikan sinyal pada anak bahwa Anda sedang marah. Dengan begitu anak akan tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah salah dan tidak boleh diulangi kembali. Hal terpenting yang perlu diingat orang tua adalah selalu mengontrol marah pada anak. 

Baca juga:

  1. Anger Management: Langkah Kelola Kemarahan Anak
  2. Satu Cara Sederhana untuk Berhenti Berteriak pada Anak

Rekomendasi Kelas Online Bersama Ahli : Defryansyah Amin, M.Psi., Psikolog

Cara Mengontrol Marah untuk Orang Tua

Bagaimana Menurut Anda?
+1
6
+1
2
+1
1
Share with love
Member Premium SOP Member Premium SOP

Gabung Member Premium

Mulai perjalanan memahami emosi diri dan keluarga

Nikmati akses Kelas Video Belajar kapanpun & dimanapun

Gabung Sekarang

Sudah Member Premium? Masuk Di Sini

Contact Us School of Parenting
×

Info Masa Keanggotaan

Perpanjang Paket