Banner Header Komunitas SOP

Anger Management: Langkah Kelola Kemarahan Anak

Browse By

Setiap orang bisa saja merasa marah, tak terkecuali dengan anak-anak. Maka jangan heran jika anak usia 2 tahun saja sudah bisa mengekspresikan kemarahan.

Mungkin kemarahan yang ditunjukkannya tidak se-ekstrim kemarahan yang ditunjukkan oleh orang dewasa. Akan tetapi, Parents pun tahu bahwa anak sedang marah. Misalnya dari raut wajahnya, atau dari perilaku yang ia tunjukkan pada Anda.

Apa itu Kemarahan dan Kenapa Kemarahan Perlu Dikelola?

Kemarahan sebenarnya adalah emosi yang selalu dimiliki oleh setiap orang. Tapi, kemarahan seseorang yang tidak terkendali bisa saja menyebabkan timbulnya agresi. Agresi tersebut ternyata bisa menimbulkan masalah psikologis dan perilaku yang bahaya.

Nah, agresi pertama kali muncul pada saat balita. Kemunculan agresi ini mungkin juga karena anak-anak balita belum mampu berbicara dan mengungkapkan perasaannya dengan baik.

Untuk itu, anak-anak perlu mengelola emosi mereka ini. Tujuannya agar tidak menimbulkan masalah di sekolah maupun di rumah dengan teman-temannya di kemudian hari nanti. Suatu studi bahkan menemukan fakta bahwa, anak-anak yang mengalami agresi di awal kehidupannya akan beresiko untuk mengalami:

  • Kegagalan di bangku sekolah
  • Kekerasan fisik
  • Penyakit kejiwaan

Bagaimana Cara Mengelola Kemarahan Anak?

Tujuan utama dari mengelola kemarahan adalah untuk mengurangi perasaan negatif dan hal buruk yang kemungkinan terjadi pada diri anak saat ia sedang marah. Sehingga ada 3 cara utama untuk mengelola kemarahan anak, yaitu:

  • Membuat anak mengekspresikan kemarahannya.
  • Mengajarkan anak menekan kemarahannya.
  • Melatih anak menenangkan kemarahannya.
  1. Membuat Anak Mengekspresikan Kemarahannya

Cara pertama untuk mengelola kemarahan anak adalah dengan membuat anak mengekspresikan kemarahannya. Semakin banyak seorang anak mengekspresikan kemarahannya, maka semakin kecil kemungkinan seorang anak memiliki ledakan kemarahan. Hal ini karena dengan mengekspresikan kemarahan, maka seorang anak akan diharuskan untuk berkomunikasi. Tujuannya agar orangtua mengetahui alasan seorang anak marah, sehingga orangtua tahu apa yang harus dilakukan.

Untuk itu, ajarkan pada anak untuk mengatakan “Aku sedang marah karena…” atau “Aku marah karena…” .

Cara ini dilakukan agar anak-anak mampu mengekspresikan apa yang mereka butuhkan tanpa menyakiti orang lain.

Anda bisa membantu anak memahami perasaan yang mereka rasakan dengan cara bertanya bagaimana perasaan anak saat mereka tenang dan bahagia. Anda bisa juga membantu anak memahami perasaan melalui media lain seperti melalui buku cerita atau media televisi.

2. Mengajarkan Anak Menekan Kemarahannya

Cara lain untuk mengelola kemarahan anak adalah dengan mengajarkan anak menekan amarahnya dengan cara mengubah amarah tersebut menjadi bentuk emosi lain. Hal ini hanya dapat terjadi jika anak Anda fokus pada hal lainnya yang lebih positif. Cara ini sebenarnya lebih cocok digunakan untuk anak-anak dengan usia sekolah atau remaja.

Cara ini dapat membuat anak Anda mengenali kemarahan mereka, dan kemudian mengubah kemarahan tersebut menjadi sesuatu yang positif.

Maka dari itu, Anda bisa mengajak anak untuk menggambar bagaimana perasaan mereka saat sedang marah. Tak hanya itu, bagi anak-anak yang memasuki masa remaja, Anda bisa memintanya menulis tentang perasaan yang mereka rasakan dalam sebuah buku diary.

3. Melatih Anak Menenangkan Kemarahannya

Cara selanjutnya untuk mengelola kemarahan anak adalah dengan mengajarkan anak untuk tenang.

Cara ini membantu anak untuk mengelola kemarahan yang sedang dirasakan. Nah, Anda bisa mengajarkan anak untuk mengambil napas dalam-dalam, pergi jalan-jalan keluar rumah, menghabiskan waktu beberapa saat untuk sendiri, atau melakukan kegiatan yang membutuhkan gerakan fisik seperti olahraga saat sedang marah.

Kapan Anda Perlu Mengajarkan Anak untuk Mengelola Emosi?

Sebaiknya segera ajarkan anak untuk mengelola kemarahannya sedini mungkin, khususnya saat anak sudah menunjukkan perilaku, seperti:

  1. Anak sudah tidak mampu mengendalikan kemarahannya dan memukul orang lain.
  2. Kemarahan anak sering meledak-ledak yang menunjukkan bahwa ia sudah terlalu banyak memendam kemarahan.
  3. Anak merasa terus-menerus menjadi korban atas kemarahannya sendiri.
  4. Anak jadi dijauhi teman dan nampak terobsesi dengan rencana balas dendam.
  5. Anak sering mengancam dirinya sendiri jika marah.
  6. Sering merusak benda-benda sekitar saat marah.
  7. Sering menyakiti anak kecil atau binatang peliharaan di sekitar.

Kapan Harus Menghubungi Psikolog atau Ahli Medis?

Segera hubungi ahli medis jika kemarahan anak sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Terlebih jika kemarahannya sudah berdampak pada hubungan anak dengan teman-teman, dengan keluarga dan orang lain di sekitarnya.

 

Kemarahan bisa dirasakan oleh siapa saja termasuk oleh anak-anak. Untuk itu, ajarkan anak mengelola kemarahannya sejak dini. 3 langkah awal di atas bisa digunakan sebagai referensi untuk mengajarkan anak mengelola kemarahan.

Baca juga:

  1. Belajar Sabar Yuk, Nak!
  2. Saat Anak Dilanda “Badai” Emosi Negatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *