Banner Header

SAAT ANAK DILANDA “BADAI” EMOSI NEGATIF

Browse By

Aliya, 6 tahun yang biasanya bisa dibilang anak yang tenang tahu-tahu menjadi gampang marah. Beberapa kali ibunya mendapati sang anak membanting pintu kamar tanpa sebab yang jelas. Saat ibunya ingin bertanya penyebabnya, Aliya seperti menolak terbuka. Ia hanya mengatakan sedang jengkel.

Menghadapi anak-anak memang harus dengan kesabaran yang tinggi, terutama saat mereka menunjukkan ekspesi emosi yang negatif seperti marah tanpa sebab, terus-terusan membantah dan memberontak, tantrum, dan beragam ekspresi emosi negatif  lainnya. Di sini, lagi-lagi kesabaran kita sebagai orang tua kembali dipertaruhkan.

Orangtua diharapkan punya stok kesabaran yang berlebih bila menghadapi situasi ini. Kita saja yang mengaku sebagai orangtua kadang belum bisa mengendalikan perasaan, kan?

Nah, apalagi anak-anak yang masih sulit mengenali emosi apalagi meredamnya.

Berikut adalah beberapa cara untuk memahami emosi negatif anak dengan sudut pandang mereka.

1.      Jangan Menyalahkannya

Anak-anak yang berani menolak perintah kita bukan berarti anak tersebut pembangkang atau tidak mau menurut. Mereka mungkin punya kemauan sendiri. Ingat, anak berkemauan keras bukan anak bandel. Mereka hanya punya sudut pandang sendiri. Ketika mereka menolak, jangan langsung menyalahkannya. Tanyakan alasannya dan apa yang diinginkannya. Jika keinginannya berlawanan dengan kita, bujuk dengan halus. Memarahinya hanya akan membuatnya menjadi semakin menolak.

2.      Beri Dukungan atau Pilihan

Daripada memarahi anak lebih baik tunjukkan sikap bahwa Anda benar-benar peduli dengan perasaannya. Misalnya, ketika anak marah karena menolak untuk mandi, berikan ia pilihan dengan berkata, “Adik kalau mandi sekarang nanti bisa lanjut main lagi. Tapi kalau mandinya nanti kemaleman, adik keburu ngantuk nggak bisa lama mainnya.” Berikan pilihan-pilihan sederhana.

Lalu, jika anak-anak terlihat kecewa, berilah dukungan yang positif. Misalnya, anak kecewa karena kalah lomba, dan kelihatan sedih. Sebagai orangtua, berilah dukungan penuh, misalnya dengan berkata, “Nak, gak papa sekarang kalah,namanya juga lomba. Yang penting usahanya sudah maksimal. Lain kali bisa coba lagi , ya! ”

3.      Jangan Memaksakan perasaan Anak

Sebagai orangtua, jelas kita tidak senang jika melihat anak cemberut atau marah. Tanpa sadar, kita sering memaksa anak mengubah perasaannya dengan cepat, misalnya dengan berkata, “Bunda gak suka wajahmu cemberut gitu. Sekarang, senyum yuk, nak.” Tindakan seperti ini justru bisa membuat kemunduruan untuk perkembangan emosional anak. Berikan anak waktu untuk merasa kecewa atau sedih. Dengan begitu, ia bisa belajar mengenali emosinya. Yang perlu Anda lakukan adalah menjaga agar emosi negatif tersebut tidak diekspresikan dengan berlebihan hingga berdampak melukai diri sendiri atau orang lain.

4.      Tetapkan Batasan

Emosi negatif, seperti marah, kecewa, sedih, tetap harus dirasakan anak. Akan tetapi, Anda tetap harus memberikan batasan, misalnya ketika anak kecewa lalu ia meninju-ninju tembok yang bisa melukai tangannya, jangan panik untuk langsung menghentikan atau berteriak, perlahan dekati anak dan memeluknya, katakan pada anak,  “Ayah paham kakak lagi marah. Tetapi, harus bisa jaga diri dengan baik, ya. Ayah sama Bunda sayang sama kakak.” Kata-kata seperti ini diucapkan untuk menenangkannya. Tujuan lainnya adalah agar anak tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya.

Anak-anak memang perlu merasa sedih, kecewa, marah, dan berbagai bentuk emosi negatif lainnya. Hal ini penting untuk mengembangkan kemampuan emosionalnya. Sebagai orangtua, yang perlu Anda lakukan adalah memastikan bahwa anak-anak tidak terus berlarut-larut pada emosi negatif hingga memengaruhi karakter dan perilakunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *