Banner Header Tanya Ahli SOP

Kok Anakku Pelupa Sih, Apa yang Salah?

Browse By

“Ayah! Jaketku di mana, ya?”

“Ibu! celana jeans ku ditaruh di mana sih?!…”

“Ibu, perlengkapan menggambar ku ada di mana ya?”

Apakah pertanyaan di atas terdengar tidak asing?

“Anak selalu lupa bahwa mereka memiliki orang tua yang selalu “ingat”

Banyak orang tua mengeluhkan sifat pelupa dan tidak bertanggung jawab yang dimiliki oleh anak-anak. Sifat ini mulai muncul di usia 4 atau 5 tahun, dan puncaknya adalah ketika anak mulai SMP. 

Kondisi ini sebenarnya tidak terlepas dari kebiasaan orang tua yang selalu menyelamatkan anak saat masih kecil. Seperti terbiasa mengambilkan botol minum balita yang jatuh terguling ke bawah kursi ketika ia menjerit-jerit kehilangan botol minum. Atau kebiasaan orang tua mencarikan celana jeans yang tidak ditemukan oleh anak pra remaja. 

Orang tua sering tidak menyadari seberapa banyak hal yang bisa dilakukan oleh anak-anak. Kebanyakan batita mampu mengerti kata-kata yang kita ucapkan dan bahasa tubuh yang kita ekspresikan, meskipun mereka tidak bisa mengkomunikasikannya secara verbal. Jadi dari contoh di atas, ketika seorang anak mengalami tekanan, kita cenderung “menyelamatkan” mereka. Kondisi ini memang wajar dan merupakan respons yang normal! 

“Penyelamatan” anak dari situasi yang sulit adalah kesempatan bagi orang tua membangun ikatan erat dengan anak. Ketika anak menangis karena lapar, kita “menyelamatkan” dengan cara memberinya makan. Ketika anak menangis karena popoknya bocor, kita “menyelamatkan” dengan cara mengganti popoknya. Mekanisme ini terjadi secara naluriah dalam keadaan normal, dan juga karena adanya ikatan antara orang tua dan anak yang terjalin. 

Namun, masalah lain terjadi ketika kita “menyelamatkan” anak dari aktivitas yang dia mampu selesaikan sendiri. Jadi, saat botol minumnya terguling di bawah kursi, Anda tidak perlu “menyelamatkan” anak dengan cara mengambilkan botol tersebut. Sekaranglah waktunya untuk membantu memecahkan masalahnya. Anda bisa bermain game, “Menurutmu ke mana botolmu pergi?” Dan mulailah mencari di sekitar kursi dan bantu menemukan botolnya. Dengan cara ini, dia mulai belajar menyelesaikan masalah dengan bimbingan penuh kasih dari Anda.

Pikirkan sesuatu yang biasa Anda lakukan untuk anak Anda, namun sesuatu tersebut juga memungkinkan untuk dilakukan oleh anak Anda secara mandiri. Berikan hal ini kepada anak Anda sebagai tanggung jawab baru. Dengan cara ini, Anda membangun harga dirinya dan mengajarkannya kemandirian.

Masalah yang lebih kompleks terjadi ketika anak Anda mulai memasuki bangku sekolah. Mereka lupa untuk makan siang, mengerjakan PR, memakai jaket, meletakkan tas, menyimpan buku…dan masih banyak kecerobohan lainnya! Mereka lupa, dan kita akan merespons dengan mengomel, berteriak, mengeluh, mengancam, atau bahkan memberikan hukuman. Namun, sepertinya tidak ada respons yang berhasil untuk mengatasi masalah ini. 

Berikut adalah 3 aturan untuk mengajarkan tanggung jawab kepada anak:

  1. Berhenti mengingatkan mereka.

2. Jangan mengatakan “Kan sudah ibu/ayah bilang!”.

3. Jangan beri tahu mereka apa yang akan terjadi, biarkan konsekuensi yang berbicara.

Jadi hal pertama yang harus orang tua lakukan adalah berhenti untuk mengingatkan mereka! Ketika orang tua mengingatkan anak tentang suatu hal, mereka akan bergantung pada Anda dan kehilangan kemampuan mengingat. Hal kedua yang perlu diperhatikan juga adalah berhenti mengatakan “Kan sudah ibu/ayah bilang!” atau “Lihat apa yang terjadi sekarang karena kamu lupa?” Dalam permasalahan ini anak fokus pada betapa kejamnya kita atau betapa bodohnya diri mereka, dan justru tidak belajar mengenai tanggung jawab yang tepat. Ketiga, berhenti menceritakan kepada mereka bagaimana dunia ini bekerja, biarkan dunia dan konsekuensi alam yang mengajarkannya. 

“Ketika Anda menceritakan apa yang terjadi di dunia ini, mereka akan fokus kepada Anda dan bukan pada pembelajarannya”

sebab anak pelupa akibat pola asuh

Respon parental terbaik sebagai orang tua adalah menjadi teman aman untuk berlindung saat dunia yang kejam ini memberikan pelajaran kepada anak kita. Misalnya, ketika anak lupa membawa bekal makannya, orang tua bisa memilih untuk menyiapkan makan siang di rumah untuknya. “Kamu pasti lapar, kan. Ayo makan siang dulu.” Jika ia mencoba menyalahkan kita, ”Kenapa ibu tidak membawakan bekalku ke sekolah!”, maka kita bisa menjawab “Kamu pasti benar-benar kelaparan karena bekalmu tertinggal, mau snack?

Melalui cara ini anak akan menyadari bahwa bekal adalah tanggung jawabnya sendiri, bukan orang tuanya.

Dengan seiring waktu Anda bisa membantu anak Anda lebih bertanggung jawab lagi dengan mengajarkan mereka bagaimana cara berpikir yang tepat. Saat Anda memberi tahu mereka apa yang harus mereka lakukan, mereka tidak akan belajar untuk mandiri. Ketika Anda bertanya dengan penuh kasih, maka mereka akan menggunakan otak mereka untuk berpikir.

Jika Anda ingin memberitahukan sesuatu kepada anak Anda, sampaikanlah dengan sebuah pertanyaan. Contoh, daripada mengatakan, “Waktunya berangkat sekolah.”, pilihlah untuk bertanya “Jam berapa kamu perlu berangkat supaya tidak terlambat?”

Daripada menyeru, “Jangan lupa kembalikan buku ke perpustakaan!”, cobalah untuk bertanya “Bagaimana caramu mengingatkan dirimu sendiri untuk mengembalikan buku ke perpustakaan tepat waktu?”

Daripada menyuruh, “Kerjakan PR!”, cobalah memberikan pertanyaan seperti “Berapa jam waktu yang kamu butuhkan untuk mengerjakan PR nanti malam?”

Style komunikasi ini akan membentuk anak untuk belajar mengingat, bertanggung jawab, dan memperhitungkan aksi yang mereka lakukan. Anda sudah melakukan banyak hal agar anak Anda belajar untuk berpikir, bagaimana mereka bereaksi dan bagaimana mereka berkomunikasi. Dengan menanyakan pertanyaan, Anda bisa menjadi seorang guru bagi anak Anda dalam mempelajari kesuksesan di sekolah dan kesuksesan di hidupnya.

Baca Juga:

  1. Tak Perlu Buru-Buru Respon Anak Saat Menangis
  2. Anak Usia Pra Remaja Apa yang Berubah?
  3. Pola Asuh yang Salah bisa Membuat Anak Menjadi Egois

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *