apa pentingnya belajar berbagi bagi anak-anak?
Balita Bayi Parenting Remaja Usia Sekolah

Apa Sih Pentingnya Berbagi?

Sudahkah Anda mengajarkan anak untuk berbagi? Apa saja yang Anda lakukan agar anak mau berbagi? Apa saja kesulitan yang Anda alami? Dan, sebenarnya apa sih pentingnya berbagi?

Pertanyaan terakhir mungkin terdengar sedikit lucu di telinga. Banyak dari Anda yang menjawab “tentu saja penting”. Nah, kalau memang penting, bisakah Anda menjelaskan alasannya? Ya, tak mudah memang menjelaskan alasannya. Itulah mengapa, masih banyak orang dewasa di luar sana yang tidak dibekali oleh keterampilan ini sejak kecil. Alasannya sederhana, mungkin karena mereka belum bisa menemukan “pentingnya berbagi”.

Mungkin juga, sebagian dari mereka merasa, bahwa apa yang sudah dimiliki tidak perlu dibagi, toh semua ini hasil dari usahanya dan bukan dari campur tangan orang lain. Mungkin Anda bukan salah satu orang yang berpikiran seperti ini, namun tetap masih ada orang yang memiliki pemikiran seperti ini. Untuk itu, sebelum Anda mengajarkan Anak berbagi atau mungkin Anda sendiri yang ingin belajar berbagi, yuk pahami dulu pentingnya berbagi.

Berbagi memang penting bagi semua orang, khususnya bagi anak-anak. Dengan belajar berbagi, maka anak-anak juga akan belajar tentang kompromi dan keadilan. Mereka akan belajar bahwa, jika kita memberi sedikit kepada orang lain, maka kita juga bisa mendapatkan sebagian dari apa yang kita inginkan juga.

Tak hanya itu, anak-anak yang berbagi juga belajar cara bergiliran dan bernegosiasi. Semua hal ini adalah keterampilan hidup yang penting dan akan selalu digunakan saat anak-anak dewasa kelak.

Nah, jika Anda sudah menyadari alasan pentingnya berbagi dan juga sudah mengajarkan anak berbagi, tapi anak-anak sering menolak untuk berbagi, lalu apa yang harus dilakukan?

Berbagi, memang kadang cukup menantang bagi anak-anak. Pasalnya, anak usia dini memang masih memiliki tingkat ego yang tinggi. Sehingga wajar rasanya jika kadang anak mau berbagi, tapi di lain hari dia menolak dengan berbagai macam cara.

Tipsnya, sering-seringlah mengajak anak berlatih berbagi di rumah. Parents bisa mengajak anak berbagi kue atau makanan kecil kesukaannya dengan Anda. Semakin sering anak berlatih berbagi, maka akan semakin mudah Ia mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari bersama dengan orang lain khususnya dengan teman-teman. Parents bisa memberikan pujian saat anak mampu berbagi dengan orang lain.

Baru setelah banyak latihan yang dilakukan, namun anak tetap menolak untuk berbagi, Anda bisa memberi konsekuensi pada anak. Pemberian konsekuensi tentu saja boleh dilakukan asalkan tidak melanggar batas-batas tertentu yang bisa menyakiti anak. Pemberian konsekuensi juga dilakukan untuk mendisiplinkan anak dengan cara yang baik.

Apa Sih Konsekuensi yang Diberikan Saat Anak Menolak Berbagi?

Jika Anda ingin menggunakan konsekuensi saat anak menolak untuk berbagi, maka pastikan bahwa konsekuensi tersebut berhubungan dengan pelajaran “berbagi” yang sedang diajarkan.

Misal, saat anak menolak berbagi mainan mobil-mobilan dengan temannya, Anda bisa mengambil mainan tersebut selama beberapa saat, sehingga anak juga merasakan hal yang sama, yaitu sama-sama tidak bermain mobil-mobilan. Dengan cara ini anak akan merasakan perasaan yang tidak menyenangkan saat orang lain tidak mau berbagi dengannya. Hal ini dapat membuat anak berpikir tentang apa yang harus dilakukan jika ingin tetap bermain bersama.

Pada Usia Berapa Anak Mau Berbagi?

Jangan terlalu khawatir jika anak tidak mau berbagi di usianya yang masih sangat muda, karena hal ini dianggap sangat wajar. Semakin muda usia anak, seperti di kisaran umur 2-3 tahun, semakin anak menolak untuk berbagi. Pasalnya anak-anak usia dini memang belum memiliki kesadaran untuk berbagi. Anak-anak usia dini hanya berpikir bahwa, pusat perhatian seharusnya hanya pada dirinya. Itulah mengapa mereka sangat menjunjung tinggi ego yang dimiliki. Bahkan, seringkali anak-anak usia 2 tahun merengek, dan tantrum ketika mainannya diberikan pada orang lain.

Barulah saat usianya memasuki 3 tahun, anak-anak mulai mengerti tentang “berbagi” dan bagaimana mengambil giliran saat bermain. Anak-anak usia 3 tahun mulai memahami bahwa “berbagi secara adil” adalah cara yang tepat dilakukan. Tapi, jangan kaget jika anak masih tidak sabar saat menunggu gilirannya bermain. Hal ini wajar karena anak masih belajar untuk mengendalikan emosi dalam dirinya. Hal yang perlu Anda lakukan adalah sering melatih anak untuk berbagi dengan cara sederhana, yaitu bermain.

Nah, saat anak sudah memasuki usia sekolah, anak akan merasakan perasaan orang lain. Artinya, anak mulai memahami benar apa itu berbagi dan mengambil giliran.

Walaupun mungkin masih sulit bagi mereka untuk berbagi mainan favoritnya. Anak-anak usia sekolah sudah memiliki rasa keadilan yang kuat dan mungkin tidak ingin berbagi mainan jika mereka pikir tidak akan mendapatkan keadilan yang sama. Pada usia sekolah, anak juga akan jauh lebih sabar dan toleran daripada sebelumnya. Anak-anak juga lebih tertarik untuk melakukan hal yang benar dan dapat membentuk hubungan pertemanan yang lebih banyak.

apa pentingnya belajar berbagi bagi anak-anak?
apa pentingnya belajar berbagi bagi anak-anak?

Berbagi memang salah satu keterampilan hidup yang penting untuk dipelajari sejak kecil. Sebagai orang tua yang bijak, seharusnya kita bisa mengajarkan keterampilan ini pada anak-anak dengan cara yang menyenangkan seperti bermain. Anda pun bisa mengajarkan anak berbagi dengan cara lain yang lebih kreatif.

Artikel terkait:

  1. Mengajarkan Anak Berbagi
  2. Masih Kecil Sudah Pandai Membantah? Tangani Dengan Cara Ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *