Banner Header Komunitas SOP

Apakah Anda Ibu Yang Pemarah? Mungkin Ini Alasannya!

Browse By

“Apakah Anda Ibu yang pemarah?”

Pertanyaan tersebut kadang membuat kita sedikit mengernyitkan dahi sembari berpikir, “Benarkah saya Ibu yang pemarah?”

Beberapa dari Anda mungkin mengakuinya, namun tidak menutup kemungkinan jika ada juga yang mengingkarinya.

Bagi Anda yang mengingkarinya, kemungkinan karena merasa bahwa, apa yang dilakukan adalah untuk mendisiplinkan anak, sekalipun caranya dengan “marah-marah”.

Kondisi seperti ini sering dihadapi oleh para Ibu di luar sana. Di satu sisi Ibu ingin mendisiplinkan anak, namun di sisi lain Ibu juga tidak ingin menjadi Ibu yang pemarah. Solusinya, banyak Ibu yang mencari cara agar tidak “marah-marah” pada anak, namun tetap bisa mendisiplinkan anak.

Lalu, apa sih Bu yang sering membuat Anda menjadi Ibu yang Pemarah? Apakah hanya karena anak bermain make-up Ibu hingga rusak? Atau karena anak tidak mau tidur tepat waktu?

Sebenarnya ada beberapa pemicu seorang Ibu menjadi pemarah, beberapa hal ini misalnya:

  • Terlalu Mengambil Hati atas Perbuatan Anak

Kadang banyak hal sederhana yang sering membuat Ibu jadi pemarah, misalnya karena anak tidak mau makan, karena anak menaruh mainan sembarangan, atau karena anak tidak mendengarkan apa yang Ibu katakan?

Hal-hal sederhana ini seharusnya tidak perlu membuat Ibu marah-marah. Ingat, bahwa ada banyak alasan anak melakukan hal tersebut. Mungkin karena anak ingin lebih diperhatikan namun tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengambil perhatian dari Anda. mungkin juga karena anak terlalu lelah sehingga tidak mau membereskan mainan atau tidak mendengarkan yang Ibu katakan.

  • Harapan yang Berlebihan Pada Anak

Tahukah Anda bahwa banyak Ibu-Ibu di luar sana yang memiliki harapan atau ekspektasi terlalu tinggi pada anak-anak? Misalnya, Ibu yang berharap bahwa anak umur 3 tahun sudah bisa membereskan mainannya sendiri, sama seperti anak umur 5-6 tahun. Apakah Anda termasuk salah satunya?

Jika Anda salah satunya, maka segera turunkan harapan Anda pada anak. Berharap sesuatu pada anak memang boleh, namun harus sesuai dengan realitas. Artinya jangan terlalu memaksa anak menjadi seperti apa yang Anda harapkan. Dengan begitu Anda akan terhindar dari perasaan marah / jengkel yang bisa menjadikan anda Ibu yang pemarah.

  • Terlalu Lelah

Kondisi yang lelah secara fisik dan psikis memang sering membuat seseorang tidak mampu mengelola emosi. Nah, jika hal ini terjadi pada Ibu, maka kemungkinan besar Ibu menjadi pemarah.

Apalagi jika Ibu merasa sudah banyak sekali berkorban, dan berusaha merawat anak serta mengurus rumah tangga. Sedangkan Ibu sama sekali tidak banyak menerima perhatian dari suami atau dari anggota keluarga lain. Kondisi seperti inilah yang seringkali membuat Ibu tak kuasa menahan amarah pada semua orang termasuk anak-anak.

Untuk itu, sebaiknya buatlah jadwal me-time setiap harinya. Anda bisa membuat anak-anak tidur awal, kemudian gunakan waktu senggang Anda untuk menonton film kesukaan, atau sekedar minum teh hangat agar lebih tenang. Gunakan waktu senggang Anda untuk beristirahat, karena pekerjaan lain seperti mencuci atau membersihkan rumah juga bisa menunggu. Sebaiknya, bagi tugas dengan suami, agar pekerjaan rumah menjadi lebih ringan dan  Anda tidak kelelahan.

  • Ibu Membiarkan Anak-Anak Lepas Kendali

Kadang Ibu memang ingin memberi sedikit kebebasan bagi anak. Misal dengan membebaskan anak dari rutinitas tidur siang, atau dari rutinitas lainnya yang sering membuat anak tertekan. Tujuannya memang baik, agar anak-anak juga merasakan sedikit kebebasan, dan melakukan apa yang mereka inginkan.

Namun, jika hal ini berlangsung terus menerus, keadaan bisa saja memburuk dan menyebabkan Ibu menjadi pemarah.

Sebagai contoh, dengan membebaskan anak-anak tidak tidur siang beberapa hari, di malam harinya anak tidak fokus belajar. Akhirnya beberapa nilai anak menjadi menurun. Kondisi seperti ini memang sering membuat Ibu bingung, karena di satu sisi Ibu ingin membuat anak bahagia, namun di sisi lain ternyata menimbulkan masalah lainnya. Hal ini wajar kok bu, karena tidak ada Ibu yang sempurna.

Nah, untuk mengatasi hal tersebut, cukup kembalikan keadaan semula. Anda bisa kembali memberi anak rutinitas yang selama ini ditinggalkan. Kembalikan juga beberapa aturan yang selama ini Anda terapkan pada anak. Namun ingat, jangan terlalu keras pada anak ya,Bu.

  • Stres

Stres yang sedang dialami bisa memicu Anda jadi Ibu yang pemarah. Misalnya stres karena banyak pekerjaan rumah atau kantor yang belum terselesaikan, stres karena masalah dengan suami, atau stres karena sedang berkonflik dengan mertua.

Semua stres yang Anda alami sebenarnya tidak perlu membuat Anda “marah-marah” pada anak. Anak tidak berhak menerima semua amarah Anda ini. Untuk itu, ambil waktu sejenak dan tenangkan diri Anda. Evaluasi kembali apa yang sebenarnya terjadi, dan gunakan waktu Anda untuk memikirkan jalan keluar dari masalah Anda tanpa melibatkan anak.

Kuncinya:
  1. Pahami pemicu utama Anda menjadi Ibu yang pemarah.
  2. Terlalu lelah, bisa menjadi menjadi salah satu pemicu Ibu jadi pemarah
  3. Jadwalkan waktu me-time agar Ibu lebih tenang sehingga sikap frekuensi marah bisa dikurangi
  4. Pahami alasan anak melakukan perbuatan yang memicu amarah Anda

Lalu, apa yang harus dilakukan saat melihat perbuatan anak yang memicu amarah?

Tantangan terbesar Ibu yang pemarah adalah melihat perbuatan anak yang memicu amarahnya. Nah, untuk mengatasi hal ini, sebaiknya jawab dulu beberapa pertanyaan berikut sebelum “marah-marah” pada anak:

Apakah anakku lapar?

√ Apakah anakku lelah?

√ Apakah anakku kesepian?

√ Apakah anakku sedang marah?

Beberapa pertanyaan tersebut harus Anda jawab dan pahami, agar amarah Anda bisa terkontrol dengan baik. Pasalnya, anak-anak kadang tidak memiliki maksud untuk membuat Anda marah. Anak-anak memiliki berbagai alasan yang mendorong mereka melakukan perbuatan yang mungkin membuat Anda menjadi “marah-marah”.

Artikel terkait:

  1. Yuk, Kurangi “Marah-Marah” Pada Anak
  2. Bagaimana Cara Mengatur Emosi?

One thought on “Apakah Anda Ibu Yang Pemarah? Mungkin Ini Alasannya!”

  1. Lusi says:

    Setuju dgn artikel di atas. apakah ada parenting utk remaja? Krn sy yakin cara menghandlenya jg lebih spesifik. Trims sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *