Banner Header Komunitas SOP

Benarkah Anakku Autis?

Browse By

Autisme memang sering dibicarakan oleh banyak orang tua saat ini, melihat banyaknya kasus yang dialami oleh anak-anak. Dan bagi Anda yang belum paham betul apa itu autisme, sebaiknya mulai banyak mencari tahu tentang autisme.

Ya, autisme memang dikenal sebagai kelainan neurologis dan perkembangan yang dimulai sejak anak-anak. Kelainan ini menyebabkan interaksi sosial, perilaku, serta komunikasi anak baik secara verbal dan non verbal terganggu. Sayangnya masih banyak orang tua yang belum paham betul apa saja tanda autisme pada anak.

Tak jarang banyak orang yang melabeli anak-anak sebagai penderita autisme hanya karena tanda kecil terkait terganggunya interaksi sosial. Misalnya anak yang senang bermain sendiri, anak yang lambat bicara atau speech delay, langsung serta merta dilabeli sebagai autisme. Tentu saja tidak satupun dari tanda perilaku tersebut mutlak ciri anak dengan autisme.

Anak dengan Autisme sendiri biasanya ditandai dengan gabungan dari gangguan perilaku. Dengan kata lain, anak dengan autisme memiliki beberapa tanda gangguan perilaku, yaitu:

  • Bergoyang, Berputar-putar dan Mondar-Mandir

Setiap orang, baik dengan autisme atau tidak pasti memiliki Stim (self-stimulatory behavior) atau perilaku berulang yang sering dilakukan. Perilaku ini biasanya berupa menggoyangkan tubuh atau bagian tubuh tertentu misalnya mengetuk jari di meja, menghisap ibu jari, menggigit kuku dan lain sebagainya. Perilaku ini berfungsi untuk membantu seseorang menghilangkan kecemasan, sehingga bisa fokus pada situasi yang ada di depan mata.

Nah, sebagian besar dari kita memilih perilaku yang bisa diterima secara budaya, seperti menggigit kuku, atau mengetuk jari. Hal ini karena bagi seseorang yang normal biasanya akan melihat perilaku orang lain terlebih dahulu dan berpikir apakah beberapa hal bisa diterima atau tidak. Atau apakah orang disekitar juga melakukan hal tersebut.

Namun, tidak demikian bagi yang memiliki autisme. Bagi anak-anak dengan autisme, jarang sekali melihat atau mempedulikan sekitar. Mereka lebih banyak merasakan kecemasan sehingga Stim yang dimiliki berbeda dengan orang lain. Misalnya menggoyangkan seluruh badan, berjalan mondar-mandir, berputar-putar, bahkan mengepakan tangan dan lain sebagainya.

Stim yang dilakukan oleh anak dengan autisme ini juga sering sekali dilakukan. Nah, hal inilah yang membuat mereka kurang atau tidak bisa berpartisipasi dalam kegiatan tertentu. Sehingga, interaksi sosialnya juga terganggu.

  • Kurangnya Perhatian Bersama

Perhatian bersama biasanya dilakukan seseorang dengan orang lain secara bersama-sama, sehingga terjadi berbagi pengalaman. Misalnya Anda menunjukkan pada anak bagaimana meniup gelembung sabun yang ada di tangan lalu anak pun melakukan hal yang sama. Atau saat Anda mengajarkan anak membaca, lalu anak meraih buku, membalik-balikan halaman dan mulai mengulangi perkataan Anda dengan baik.

Namun, hal ini rasanya akan sulit dilakukan oleh anak dengan autisme. Anak yang memilki autisme tidak dapat terlibat dalam perhatian bersama atau mungkin ada tetapi dengan frekuensi yang sangat rendah. sebaliknya ,pengidap autisme justru bisa fokus selama berjam-jam hanya melakukan hal yang disukai sendirian. Misalnya bermain game, menyusun puzzle dan lain sebagainya.

Anak dengan autisme juga tidak menyadari betapapun keras Anda menarik perhatiannya. Mungkin, awalnya Anda berpikir ada yang salah dengan pendengaran atau penglihatannya. Tapi, jika Anda sudah pernah melakukan berbagai macam tes penglihatan atau pendengaran, dan anak tetap dalam kondisi yang sama. Ada baiknya Anda mulai mempertimbangkan melakukan evaluasi bersama dokter perkembangan anak atau praktisi autisme.

  • Menyukai Rutinitas yang Sama Secara Ekstrim

Setiap orang memiliki rutinitas atau kebiasaan sehari-hari. Beberapa orang mungkin saja senang dengan rutinitas. Hal yang sama juga dialami oleh anak-anak. Mereka senang melakukan hal yang sama, mendengar cerita yang sama, menonton film yang sama, bahkan bertanya hal yang sama.

Hal ini juga dialami mereka yang memiliki autisme. Bedanya, mereka melakukan rutinitas tersebut secara ekstrim. Misalnya, anak autis sering menolak mencoba makanan baru, menonton film yang baru, bahkan menolak menggunakan pakaian yang baru. Beberapa anak dengan autisme mungkin mengalami kecemasan berlebih ketika rutinitasnya diubah. Bahkan, transisi naik kelas di sekolah bisa jadi sangat berat bagi mereka yang memiliki  autisme.

Namun, perlu diingat bahwa kebutuhan akan rutinitas bukan sebagai tanda autisme. Yang merupakan tanda autisme adalah adanya kebutuhan akan rutinitas secara ekstrim dan berlebihan.

  • Senang Mengulang Kata, Ide dan Tingkah Laku

Anak-anak memang senang mengulang kata-kata tertentu atau mengulangi tingkah laku tertentu. Khususnya jika kosa kata atau tingkah laku tersebut baru saja diperoleh. Misalnya saat anak mendapat kosa kata baru “buah”, bisa saja anak kemudian bernyanyi “lihat kebunku penuh dengan “buah” (bukan bunga”. Hal ini dilakukan karena anak baru saja mengenal kata “buah” sehingga dia ingin sekali mengganti lirik lagu tersebut. Atau saat anak pertama kali melihat tempat air minum dengan tutup yang bisa dibuka otomatis. Tak jarang mereka lalu bermain dengan membuka tutup tempat minum tersebut berulang kali.

Hal yang sama juga dilakukan oleh anak-anak dengan autisme. Bedanya, mereka melakukannya dengan tekun bahkan tanpa bosan dengan detail yang sama. Misalnya anak dengan autisme akan bertanya hal yang sama 50 kali, dengan nada dan intonasi yang sama. Bahkan saat mereka mengetahui jawabannya. Tanda ini memang bukan ciri pasti anak dengan autisme, namun bisa digunakan sebagai langkah awal untuk observasi perilaku selanjutnya.

Apa yang Harus dilakukan Orang Tua?

Jika Anda khawatir dengan perilaku anak Anda yang mungkin saja mengarah pada autisme, maka segera lakukan observasi menyeluruh. Mulailah catat perilaku anak yang nampak aneh atau tidak biasa dilakukan oleh anak lain seumurannya. Segera hubungi dokter perkembangan anak atau ahli perilaku anak dan segera lakukan konsultasi. Dalam banyak kasus, semakin awal Anda gangguan perilaku ini disadari, semakin besar kesempatan untuk memulihkan kondisi anak.

Baca juga:

  1. Mengenal Lebih Dekat tentang Autisme
  2. Speech Delay atau Autis?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *