Banner Header Komunitas SOP

Ingat, Bullying Juga Bisa Dialami oleh Anak TK dan SD!

Browse By

Maraknya kasus bullying pada anak seharusnya membuka mata semua orangtua dan pemerhati anak untuk menanggapi bullying dengan lebih serius. Pasalnya bullying bukan hanya bisa dialami oleh remaja, tapi juga oleh anak usia dini, misalnya anak-anak yang baru saja memasuki sekolah TK.

Kasus pengeroyokan yang dialami oleh Audrey,seorang siswi SMP di Pontianak baru-baru ini pun,  dipicu oleh bullying antara pelaku dan korban.

Bisa jadi pengalaman bullying tersebut pernah dialami oleh pelaku maupun korban sejak mereka masih kecil. Pasalnya, banyak ahli yang berpendapat bahwa perilaku bullying (perundungan) bisa dimiliki karena adanya pengalaman yang serupa sebelumnya.

Jamie Ostrov, Ph.D., profesor psikologi Universitas Buffalo dilansir dari verrywellfamily.com,menghimbau para orangtua dan para guru untuk selalu waspada dan memperhatikan anak sejak dini karena bullying juga bisa dialami oleh anak-anak usia dini.

Dr. Ostrov menjelaskan bahwa bullying yang dialami oleh anak-anak usia dini seperti anak-anak TK berbeda dengan bullying yang dialami oleh anak-anak remaja pada umumnya.

Menurutnya, perilaku bullying pada anak usia dini lebih jelas dan lebih mudah dikenali. Dr. Ostrov menjelaskan bahwa perilaku bullying pada anak usia dini berupa tindakan sangat langsung dan identitas pelaku mudah sekali diketahui.

Hal ini berbeda dengan perilaku bullying pada anak yang beranjak dewasa seperti anak-anak remaja yang lebih tertutup dan terkesan sangat rahasia.  Kondisi tersebut membuat para guru dan orangtua murid kesulitan mengetahuinya.

Terutama jika bullying yang berupa intimidasi bersifat relasional, seperti bergosip tentang seseorang, hingga upaya menjauhi seseorang dan lain sebagainya.

Bagaimana Bullying Bisa Terjadi Pada Anak TK dan SD?

Banyak sekali faktor yang membentuk anak menjadi pelaku bullying. Pada usia dini, seperti saat anak-anak memasuki usia TK dan SD, anak-anak memang masih mengembangkan keterampilan emosional, kognitif, dan sosial yang diperlukan untuk menangani konflik dengan teman-temannya saat mereka bersama.

Misalnya, anak-anak akan cenderung bersikap agresif saat mainannya diambil secara paksa oleh temannya dengan cara mendorong, atau perilaku agresif lainnya.

Perilaku seperti ini pun masih dianggap wajar dan biasa bagi anak-anak Tk maupun SD.

Namun, jika perilaku tersebut berkembang menjadi perilaku intimidasi yang ditandai dengan niat ingin menyakiti, niat untuk berkuasa bahkan untuk melakukan kekerasan pada anak lain, maka perilaku tersebut sudah dianggap tidak wajar dan perlu penanganan khusus.

Anak-anak usia dini biasanya meniru perilaku yang dilihat dari orangtuanya, dari orang dewasa di sekitarnya bahkan dari acara TV yang mungkin saja menunjukkan perilaku bullying termasuk di dalamnya perilaku intimidasi yang mengarah pada kekerasan.

Menurut Stephanie Mihalas, Ph.D, asisten profesor klinis di Departemen Psikiatri dan Ilmu Biobehavioral di UCLA, bentuk bullying yang dilakukan oleh anak usia dini seperti anak TK ataupun SD lebih konkret dan lebih terlihat.

Contohnya, anak-anak TK maupun SD mengatakan pada temannya, “Makan siangmu bau ya.”, “Aku tidak suka sama bajumu, jelek.” atau “Sepatumu dekil sekali,sih! ”

Anak-anak usia dini juga mungkin tidak menyertakan salah satu atau beberapa teman di pesta ulang tahunnya.

Apa Saja Tipe Bullying?

Menurut Dr. Ostrov tipe bullying dibagi menjadi 2, yaitu:

  • Physical Bullying:

Physical bullying meliputi perundungan dengan kekerasan fisik seperti memukul, menendang atau mengambil sesuatu dari orang lain.

  • Relasional atau Social Bullying

Relasional atau social bullying meliputi perilaku menyebarkan gosip, mengolok-olok, bahkan mengecualikan seseorang (mengucilkan).

Bentuk Bullying pada anak TK dan SD

Apa Saja Tanda Anak Di-Bully?

Beberapa anda anak mengalami bullying, misalnya:

  • Terlihat sedih.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Menolak pergi ke sekolah.
  • Memiliki masalah dengan saudaranya, seperti sering bertengkar dan melakukan perilaku agresi.
  • Mengalami perubahan perilaku.
  • Terdapat barang yang hilang atau pakaian yang kadang terlihat sobek setelah pulang sekolah.
  • Mengalami kecemasan.
  • Menjadi sering mengompol.

Apa yang Harus Dilakukan Orangtua/Guru untuk Membantu Anak yang Dibully?

  • Bicara dengan Guru dan Orangtua Lain

Baik guru maupun orangtua anak-anak harus bertemu untuk mendiskusikan bullying yang sedang terjadi pada anak. Diskusi yang dilakukan seharusnya bisa digunakan untuk menemukan jalan keluar agar anak bisa terhindar dari perilaku bullying.

  • Sering Bertanya Pada Anak Tentang Hari-Harinya

Sebaiknya dekatkan diri anda pada anak mulai dari sekarang. Beri anak-anak perhatian lebih setiap harinya. Salah satu cara yang mudah adalah dengan selalu bertanya pada anak tentang bagaimana ia menjalani hari-harinya. Misalnya apa saja yang dia kerjakan hari ini, bagaimana ia mengerjakan tugas di sekolah, bagaimana perilaku teman-temannya dalam satu kelompok tugas di sekolah, dan lain sebagainya.

  • Jadilah Panutan yang Baik untuk Anak

Yang paling penting untuk membantu anak terhindar dari perilaku bullying adalah dengan menjadi panutan yang baik bagi anak. Jangan lupa menjelaskan pada anak untuk tidak meniru segala perilaku bullying yang mungkin dia lihat di TV ataupun video yang banyak beredar melalui sosial media yang tidak sengaja ditonton..

  • Hindari Mengacuhkan Apa yang Dikatakan Anak

Penting bagi orangtua dan guru untuk tidak mengacuhkan apa yang dikatakan atau diceritakan oleh anak. Biarkan anak-anak tahu bahwa Anda ada di sana untuk mereka. Hal ini membuat anak-anak merasa dipedulikan dan tahu kemana harus mengadu saat mengalami bullying.

  • Ajarkan Pada Anak untuk Melawan secara Positif

Ajarkan pada anak untuk melawan atau membela diri dari segala jenis bullying dengan cara-cara yang baik. Misalnya dengan mengatakan bahwa, “Aku tidak suka dengan apa yang kamu katakan padaku”, “Tolong jangan katakan hal itu kepadaku” dan lain sebagainya.

  • Berikan Saran Pada Sekolah Anak untuk Memasukan Bullying Sebagai Kurikulum

Sebagai orangtua Anda juga boleh memberikan saran pada pihak sekolah untuk memasukkan “bullying” sebagai salah satu kurikulum di sekolah.

Tujuannya agar anak-anak memahami apa itu bullying, sehingga mereka secara tidak langsung bisa memperbaiki diri dari perilaku yang mengarah pada bullying.  

Bullying bukan hanya terjadi pada anak-anak remaja, melainkan juga terjadi pada anak usia diri seperti pada anak yang memasuki sekolah TK ataupun SD.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua dan guru untuk bahu-membahu mengetahui, mencegah bahkan mengatasi perilaku bullying yang sedang dialami oleh anak-anak. Beberapa tanda perilaku di atas bisa digunakan sebagai referensi untuk mengetahui perubahan perilaku bagi anak yang dibully.

Baca juga:

  1. Bela Diri, Tidak Selalu Secara Fisik
  2. Bagaimana Cara Menangani Anak Korban Bullying?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *