Banner Header Komunitas SOP

Jangan Jadi Ibu-Ibu Instagram, Berat…

Browse By

Menjadi ibu muda masa kini memang penuh dengan tantangan. Bukan hanya tentang bagaimana susahnya mengurus anak, tetapi juga tuntutan untuk mengikuti tren. Banyaknya postingan mama-mama Instagram mau tidak mau ikut mempengaruhi gaya hidup ibu-ibu muda yang aktif di sosial media.

Jika Anda melihat beberapa artis sekaligus ibu muda di instagram, Anda pasti tahu apa inti pembahasan kali ini. Mulai dari tren melahirkan di dalam air yang bisa menghabiskan uang hingga puluhan juta, stroller yang harganya setara dengan satu buah motor, mainan anak, baby class, dan masih banyak tren lain yang secara harga sangat tidak ekonomis bagi orang-orang biasa.

Sebagai orangtua apalagi ibu, tentu semua ingin memberikan hal yang terbaik bagi anak-anaknya. Bagi mereka yang mampu, persalinan dalam air atau kerap disebut water birth memang dinilai nyaman, baik untuk ibu dan baik pula untuk si bayi. Tidak heran jika banyak publik figur maupun kalangan ibu biasa yang ingin menggunakan metode ini.

Selanjutnya, stroller bayi. Ada salah satu artis instagram yang menggunakan stroller bayi berharga hingga lebih dari Rp 19 juta. Hmmm, harganya seperti tidak logis ya Parents. Akan tetapi kabarnya, stroller mahal tersebut mempunyai kenyamanan kelas satu, suspensinya dibuat sangat baik. Jadi, bayi tidak akan terganggu jika melintasi jalan yang tidak rata.

Terakhir, ada juga tren baby class. Kali ini, bukan hanya public figur saja lho yang memasukkan bayinya ke kelas bayi. Kalangan ibu kelas menengah pun cukup banyak yang mengikutkan buah hatinya ke kelas bayi. Konon untuk memberi stimulasi yang lebih baik bagi perkembangan bayi.

Ingin tahu biayanya? Untuk bergabung di kelas-kelas bayi ini, orangtua wajib membayar uang pendaftaran sekitar Rp2.5 juta, belum lagi SPP bulanan yang mencapai Rp4.5 juta, dan masih ada paket buku senilai Rp2 juta.

Itu hanya sedikit contoh tren parenting yang sedang merajalela di Instagram. Apa imbasnya bagi ibu-ibu muda yang bukan dari kalangan artis atau “selebgram”? Tentu saja trend tersebut sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup mereka.

Banyak sekali ibu-ibu muda yang ingin berlomba-lomba menjadi “ibu terbaik” bagi buah hati mereka. Sayangnya, dalam usaha menjadi ibu terbaik, banyak yang justru menjadi lalai dan salah prioritas. Mereka terlalu fokus pada mencari pengakuan dari orang lain, yaitu dengan membagikan semua aktivitas parenting mereka di akun media sosial instagram.

Dari sekian banyak postingan mama-mama instagram, hanya sedikit yang isinya tentang berbagi tips mengasuh anak. Sebanyak tiga per empat sisanya isinya lebih pada kegiatan yang berorientasi sebagai ajang pamer. Baju branded terbaik, peralatan bayi terbaik, makanan bergizi, dan lain sebagainya.

Setelah hidup dengan lingkungan seperti ini, rasanya susah sekali untuk berhenti. Mungkin, tidak semua melakukan hal yang sama. Kita tidak berniat pamer di Instagram. Akan tetapi, terus terpapar dengan konten-konten yang serupa sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikir kita.

Yang perlu kita renungkan bersama adalah apakah menjadi yang terbaik berarti harus memberikan segala sesuatu yang mahal untuk anak-anak? Tentu tidak, bukan?

Selain benda-benda mahal yang kita berikan kepada anak, yang paling penting bagi anak adalah merasakan kasih sayang tulus dari orangtua mereka. Kehadiran orangtua di sisi anak adalah yang terbaik. Fasilitas dan barang-barang pelengkap lainnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Kebahagiaan Semu di Instagram

Media sosial memang telah menciptakan ilusi, apalagi media sosial berbasis foto seperti Instagram. Setiap orang pasti berlomba-lomba membagikan foto bahagia dan terbaik mereka.

Nah, pertanyaannya, apakah foto bahagia tersebut benar-benar nyata seperti apa adanya? Jawabannya belum tentu.

Selanjutnya, apakah Anda benar-benar puas dan bahagia setelah mengunggah foto di instagram? Jawabannya pun belum tentu.

Oleh karena itu, jangan terbawa dengan ilusi kebahagiaan yang ada di instagram. Mari menyadari bahwa media sosial memang diciptakan untuk membagikan banyak hal. Namun kalau kita tidak bisa menahan diri, kita akan lupa bahwa fokus kita seharusnya ada di luar layar ponsel. Dan ingat, hidup bukanlah foto yang harus selalu “Instagramable”.

Baca juga:

Perlukah Orangtua Membatasi Pertemanan Anak?

Apakah Tugas Anak adalah Membahaguakan Orangtua?

Masih Pentingkah Mengajarkan Bahasa Daerah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *