Jangan Pukul Anak, Ini Dampak Buruknya

Browse By

Beberapa orang tua masih saja menggunakan kekerasan untuk mendidik anak-anaknya. Padahal, cara ini tidak pernah efektif. Anak-anak yang sering dipukul justru akan mengalami trauma. Tak hanya itu, kekerasan dalam mendidik anak juga bisa berdampak pada sisi psikologis mereka hingga dewasa kelak. Anak yang dididik dengan kekerasan sangat berpotensi menjadi pelaku kekerasan.

Parents, ini dampak buruk jika Anda sering menggunakan kekerasan ketika mendidik anak.

  • Menciptakan Tradisi Kekerasan yang Berulang

Awalnya, Anda mungkin berpikir anak akan jera melakukan kesalahan jika Anda memukulnya. Akan tetapi, bukannya jera, anak cenderung meniru perbuatan orang tuanya. Seperti yang kita ketahui bersama, anak-anak sering kali meniru kebiasaan orang tuanya. Jika Anda sering memukul anak, meskipun hanya pura-pura memukul, anak akan berpikir bahwa memukul adalah salah satu bentuk emosi. Suatu saat ketika mereka sedang marah, mereka berkemungkinan melakukan hal yang sama.

Anda tentu tidak ingin anak Anda tumbuh menjadi anak yang kasar. Oleh karena itu, berhentilah memukul anak mulai dari sekarang. Sadari dampak negatifnya. Selain pukulan, sebaiknya hindari juga kekerasan verbal seperti teriakan, bentakan, atau ancaman pada anak. Kekerasan verbal juga sama buruknya dengan pukulan.

dampak buruk memukul anak

  • Menurunkan Nilai Anak

Citra diri si anak dibangun dari persepsi orang di sekitarnya tentang dirinya. Jika orang tua terbiasa memukul anak, si anak akan berpikir bahwa dirinya lemah dan tidak berarti bagi orang tuanya. Jika hal ini terus dibiarkan, anak akan sulit untuk membela diri dari bullying ketika mereka sudah dewasa.

Bentuk kekerasan kecil seperti memukul bokong anak pun tidak boleh dibiasakan. Hal ini juga bisa membuat kebingungan pada diri anak. Di sisi lain, ia merasa seperti anak yang berharga karena mendapatkan cinta yang besar dari keluarga mereka. Akan tetapi, di sisi lain, si anak juga merasa dirinya tidak berharga karena orang tuanya kerap memukulnya karena kesalahan kecil.

  • Menurunkan nilai Anda

Sering kali pukulan yang mendarat pada tubuh anak adalah bentuk emosi sesaat. Setelah Anda memukul atau membentak anak, rasa yang kemudian timbul bukanlah rasa lega, melainkan rasa bersalah yang luar biasa. Bahkan, terkadang muncul juga perasaan gagal menjadi orang tua. Supaya penyesalan seperti ini tidak terjadi, sebaiknya saat sedang marah-marahnya kepada anak, tenangkanlah hati dan pikiran Anda terlebih dahulu. Setelah itu, bicarakan masalahnya pada anak dengan kepala dingin.

Ingat, orang tua adalah sosok yang dicintai, dipercaya, dan dihormati oleh anak. Bukan sebaliknya. Perasaan takut kepada orang tua justru akan membentuk pribadi anak menjadi tidak baik. Anak akan lebih sering bohong karena takut dimarahi.

  • Pukulan tidak akan bisa mendisiplinkan

Jika Anda berpikir bahwa pukulan bisa membuat anak lebih disiplin, ini tentu salah besar. Pukulan tidak akan pernah mengubah perilaku anak jadi lebih baik. Efeknya justru sebaliknya. Anak-anak malah akan tumbuh jadi seorang pembangkang.

  • Menciptakan kenangan buruk

Untuk hal-hal tertentu, ingatan anak-anak bisa sangat kuat. Hal-hal paling bahagia dan hal-hal paling buruk yang pernah dialami anak akan menjadi ingatan jangka panjang. Jangan sampai kebiasaan memukul anak menjadi kenangan buruk yang tidak bisa dilupakan si anak. Hal ini bisa mempengaruhi psikologis anak.

  • Menimbulkan Amarah dalam Diri Anak

Pada umumnya, anak-anak yang belum dewasa tidak bisa berpikir rasional seperti orang tua. Orang tua mungkin berpikir bahwa pukulan adalah salah satu bentuk kasih sayang agar anak tumbuh menjadi anak yang lebih disiplin. Akan tetapi, anak punya persepsi yang berbeda. Anak akan merasa dirinya direndahkan dan tidak dihargai. Hal ini bisa menimbulkan dendam yang diam-diam disimpan si anak. Efek buruknya, anak-anak akan lebih menjaga jarak pada orang tuanya.

  • Efek Jangka Panjang

Anak-anak yang sering menerima pukulan akan tumbuh menjadi orang yang egois dan antisosial. Anak tersebut juga sangat berpotensi untuk melegalkan kekerasan. Anak-anak yang dulunya sering mendapatkan kekerasan berpotensi melakukan KDRT pada pasangan mereka.

Selain dampak buruk di atas, melakukan kekerasan juga bisa menghancurkan hubungan orang tua dan anak. Oleh karena itu, sebisa mungkin hindari kekerasan fisik maupun verbal. Berusahalah mendidik anak dengan penuh cinta dan kasih sayang tanpa kekerasan. Teruslah belajar menjadi orang tua yang baik agar anak Anda pun berperilaku baik.

Kekerasan pada anak apapun bentuknya sangat tidak dibenarkan. Banyak dampak buruk yang bisa terjadi pada anak hingga dewasa nanti. Sebagai orangtua seharusnya memilih pola asuh yang lebih tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak. Misalnya pola asuh berdasarkan temperamen anak, pola asuh seperti Ibu gajah dan pola asuh lainnya yang dirasa lebih cocok.

Baca juga:

  1. Belajar Mengasuh Anak Seperti “Ibu Gajah”
  2. Menjadi Orangtua Proaktif atau Reaktif, yang Mana Pilihan Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *