Menjadi Orangtua Proaktif atau Reaktif, yang Mana Pilihan Anda?

Browse By

A : “Stop! Jangan main-main lagi ya Kak, waktunya tidur siang!”

B : “Oke, mainnya 5 menit lagi ya Kak, setelah itu minum susu terus tidur siang.”

——————————————————————————————————-

Sebagai orangtua, sudah pasti Anda selalu meminta atau mengarahkan anak untuk “melakukan dan tidak melakukan” sesuatu setiap harinya. Mulai dari meminta anak untuk berhenti main, hingga mengarahkan anak untuk segera tidur siang dan lain sebagainya. Nah, dari contoh dua dialog di atas, kira-kira dialog yang mana nih yang sering Anda katakan pada anak?

Jika memilih dialog A, dimana Anda langsung meminta anak berhenti bermain kemudian segera tidur siang, pilihan ini mengarah pada orangtua reaktif.

Jika memilih dialog B, dimana Anda memberi anak waktu 5 menit untuk berhenti bermain, kemudian mengarahkan anak tidur siang,pilihan ini mengarah pada orangtua proaktif.

Di luar pilihan Anda, kedua dialog di atas memang terlihat sangat kontras. Dialog A lebih terkesan “memaksa” anak melakukan sesuatu saat itu juga (reaktif). Sedangkan dialog B, lebih sedikit longgar, yaitu dengan memberikan anak jeda, untuk melakukan sesuatu (proaktif).

Apa itu Orangtua Reaktif dan Orangtua Proaktif?

Menjadi orangtua reaktif berarti menjadi orangtua yang cenderung “bereaksi” terhadap hal tertentu yang dilakukan oleh anak. Sikap orangtua reaktif ini ditandai dengan reaksi cenderung marah atau menyalahkan anak atas sesuatu. Kebanyakan orangtua yang reaktif biasanya sering berteriak pada anak, menjerit, bahkan memukul atau mencubit anak.

Orangtua reaktif seringkali tidak menikmati masa kebersamaan dengan anak-anak. Mereka akan selalu merasa “jengkel” dengan setiap perilaku anak-anak. Tak jarang, orangtua reaktif terus berusaha mencari pelanggaran aturan yang dilakukan oleh anak-anak mereka.

Sedangkan menjadi orangtua proaktif berarti menjadi orangtua yang berusaha mengendalikan situasi dengan cara fokus pada masalah yang ingin dikendalikan tanpa melibatkan sikap reaktif, seperti marah atau menyalahkan anak. Orangtua proaktif ini umumnya sering menggunakan kalimat positif saat sedang berkomunikasi dengan anak.

Menjadi orangtua proaktif juga berarti menjadi orangtua yang mampu mengontrol diri atau emosi dan bertindak konsisten terhadap peraturan yang telah dibuat. Sikap konsisten yang dimiliki oleh orangtua proaktif ini juga berfungsi sebagai kontrol diri agar tidak bereaksi secara berlebihan pada anak.

Setelah mengetahui apa itu orangtua reaktif dan orangtua proaktif, lalu apa saja sih dampak yang muncul pada anak dan orangtua terkait kedua sikap ini?

Apa Saja Dampak Menjadi Orangtua Reaktif dan Orangtua Proaktif?

Anak-anak dengan orangtua reaktif seringkali sulit belajar mana yang benar dan mana yang salah. Anak-anak hanya akan belajar bagaimana menyenangkan hati orangtua dan hal apa saja yang membuat orangtua tidak bertindak reaktif, seperti berteriak atau memukul.

Jika kondisi ini terus berlangsung, maka anak-anak hanya akan belajar sesuatu saat bersama dengan Anda. Anak-anak akan menganggap bahwa hal baik adalah hal yang membuat Anda tidak marah, sedangkan hal buruk adalah hal yang membuat Anda marah. Lalu, apa yang akan terjadi jika suatu saat Anda tidak lagi bersama dengan anak-anak? Hal inilah yang harus dipikirkan oleh orangtua “reaktif” mulai sekarang.

Menjadi orangtua reaktif sama saja mengajarkan anak untuk bertindak reaktif pada segala sesuatu. Pada akhirnya, saat anak-anak sudah dewasa, mereka cenderung melakukan hal yang sama pada orang lain, termasuk pada Anda. Bukankah Anda juga tidak akan senang jika anak-anak membentak bahkan memukul orang lain,bahkan kepada anda sendiri?

Kondisi seperti ini tentu berbeda dengan orangtua proaktif. Anak-anak dengan orangtua proaktif, mampu membedakan mana hal yang benar dan mana hal yang salah, bahkan tanpa kehadiran orangtua. Hal ini karena orangtua proaktif sudah membimbing anak-anak dalam membentuk kebiasaan dan sikap yang benar. Sehingga “hal yang benar dan hal yang salah” tidak didasarkan pada reaksi orangtua (apakah orangtua akan marah atau tidak). Akan tetapi lebih didasarkan pada kenyataan, yaitu “benar dan salah”.

Misalnya, saat anak dihadapkan pada pilihan tidur siang atau tidak. Anak dengan orangtua reaktif menunggu reaksi dari orangtuanya, apakah marah atau tidak jika mereka tidak tidur siang, baru kemudian memutuskan pilihan mereka.

Sedangkan anak dengan orangtua proaktif akan berpikir konsekuensi apa yang akan diterima saat mereka tidak tidur. Konsekuensi tersebut lebih pada apa yang akan terjadi jika tidak tidur siang, misalnya akan mengantuk saat sore hari,sehingga waktu bermain lebih pendek.  

Berdasarkan hal tersebut, tipe mana nih yang ingin Anda pilih? Apakah menjadi orangtua yang reaktif atau menjadi orangtua yang proaktif. Jika Anda ingin memilih menjadi orangtua yang proaktif, berikut ini beberapa tips untuk menjalankannya:

Tips Menjadi Orangtua Proaktif

  • Gunakan kalimat “positif” saat berkomunikasi dengan anak.

Biasakan menggunakan kalimat positif saat berkomunikasi dengan anak. Misalnya gunakan kalimat ajakan “Yuk, tidur siang dulu supaya nanti malam bisa belajar”, daripada “Jangan main terus, cepat tidur siang!”.

  • Lihat Situasi yang Dihadapi Anak

Kebanyakan orangtua terjebak dengan sikap reaktif pada anak karena terpancing emosi saat anak mengalami tantrum. Jika hal ini terjadi, maka sebaiknya lihat situasi yang sedang dialami oleh anak. Pikirkan kembali apa yang sebenarnya membuatnya tantrum.

Salah satu fase perkembangan anak mungkin saja membuat anak mengalami masalah perilaku seperti tantrum, membentak dan lain sebagainya. Fase ini seringkali dikenal dengan fase “terrible two”. Nah, jika anak masuk pada fase ini, sebenarnya Anda tidak perlu bersikap “reaktif”, karena fase ini dianggap sebagai tanda bahwa anak berada dalam masa kecerdasan.

  • Cari Pola Perilaku Anak

Saat anak mengalami masalah perilaku misalnya tidak mau makan, berteriak atau hal lainnya. Lakukan observasi dan temukan pola perilaku anak. Jangan lupa temukan juga alasan anak melakukan perilaku tersebut.

Contohnya saja anak tidak mau makan karena terlalu lelah, mengantuk, bahkan karena ingin mencari perhatian dari Anda. jika Anda sudah menemukan alasan dari perilaku anak tersebut, maka sikap reaktif sudah tidak diperlukan lagi.

  • Alihkan Perhatian Anak

Jika anak-anak menolak melakukan sesuatu, misalnya menolak untuk mandi, maka alihkan saja perhatiannya. Gunakan beberapa permainan untuk menarik perhatiannya mandi. Misalnya, sertakan pistol air, bebek-bebek karet atau mainan lain saat waktu mandi. Dengan begitu, anak akan berpikir bahwa, waktu mandi adalah waktunya untuk bermain.

Hubungan orangtua dengan anak memang hubungan yang sangat spesial, sehingga diperlukan sikap-sikap positif yang mendasari hubungan tersebut. Salah satu sikap positif yang perlu dikembangkan adalah sikap proaktif pada pola asuh anak. Beberapa tips di atas bisa digunakan sebagai referensi untuk selalu bersikap “proaktif” pada anak.

Baca juga:

  1. Belajar Mengasuh Anak Seperti “Ibu Gajah”.
  2. Pahami Lebih Jauh Tentang “Tiger” Parenting.
  3. Helicopter Parenting dan Efek Jangka Panjangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *