Kejar Pertumbuhan (Catch Up Growth) Pada Anak Stunting

Browse By

Apakah Parents masih ingat soal Stunting? Ya, Stunting atau masalah gizi kronis ini sudah lama menjadi berita utama di Indonesia. Bahkan sebagai orangtua jaman now, sudah mengetahui bagaimana cara mencegah Stunting melalui berbagai macam sumber. Seberapa banyak sih anak-anak yang menderita Stunting di Indonesia?

Berdasarkan survey dari Departemen Kesehatan pada tahun 2013, 37% anak Indonesia di bawah 5 tahun mengalami Stunting. Atau hampir 9 juta anak Indonesia yang mengalami gizi buruk. Jumlah ini tentunya bukan angka yang sedikit ya, Parents. Lalu apakah pemerintah sudah mengambil langkah nyata?

Ternyata, pemerintah tidak tinggal diam terkait isu ini. Menurut data World Bank, Pemerintah sudah menetapkan strategi nasional untuk peningkatan layanan gizi buruk bagi Ibu hamil dan anak-anak di bawah usia 2 tahun. Beberapa layanan tersebut yaitu, imunisasi dasar, program menyusui, fasilitas air minum bersih, sanitasi, pendidikan anak usia dini, pengukuran ketidaknyamanan pangan dll.

Strategi nasional ini, menargetkan 100 kabupaten pada tahun 2018, 160 kabupaten pada tahun 2019, 390 kabupaten pada tahun 2020, serta 514 kabupaten dan kota pada tahun 2021.

Tapi, apakah Stunting, benar-benar bisa diperbaiki? Bagaimana dengan anak-anak yang sudah terlanjur mengalami Stunting?

Jangan terlalu cemas Parents, ternyata bagi anak-anak yang sudah terlanjur mengalami Stunting, tetap bisa ditangani. Caranya adalah dengan mengejar perbaikan gizi pada anak tersebut. Hal yang sama dikatakan oleh Dokter Spesialis Anak di RSCM, Klara Yuliarti. Menurutnya, bagi anak-anak yang sudah terlanjur mengalami Stunting. Maka harus dilakukan perbaikan gizi secepatnya. Agar pertumbuhanya dapat dikejar. Istilah ini disebut Catch Up Growth.

Catch Up Growth ini memang seharusnya dilakukan sebelum anak berusia 2 tahun. Loh, berarti bagi anak remaja sudah tidak bisa ya? Eits, jangan salah Parents. Bagi anak-anak yang memang baru saja diketahui Stunting setelah usia 2 tahun, tetap bisa kok diperbaiki. Misalnya pada remaja atau pada masa lonjakan pertumbuhan (growth spurt). Namun, hasilnya memang kurang maksimal.

Upaya Catch Up Growth pada remaja seharusnya dilakukan sebelum pertumbuhan remaja terhenti. Pertumbuhan remaja akan terhenti pada usia 20 tahun bagi perempuan dan 30 tahun bagi laki-laki.

Bagaimana Melakukan Catch Up Growth?

Nah, bagi anak-anak yang mengalami Stunting, pengaturan pola makan dan gizi seimbang sangat diperlukan untuk Catch Up Growth. Gizi yang seimabng tersebut harus memenuhi 50-60% karbohidrat, 40% lemak bagi anak di bawah usia 2 tahun dan maksimal 30% bagi anak di atas usia 2 tahun. Selain karbohidrat dan lemak, protein juga harus dipenuhi sebesar 10-15%.

Apa Yang Salah Dengan Stunting di Indonesia?

Menurut dr. Klara Yuliarti, Stunting di Indonesia banyak disebabkan oleh kekurangan asupan kalori dan protein. Selain itu, banyak dari anak-anak yang mengalami Stunting, karena kesalahan pemberian MPASI. Apa sih yang salah?

√ Pemberian MPASI Tanpa Melibatkan Protein Hewani

Beberapa dari Ibu-Ibu mungkin hanya memberikan MPASI berupa sayuran, gandum, tepung, dan beras merah. Sedangkan proteinnya hanya diperoleh dari tempe dan tahu. Padahal anak-anak perlu juga diberi protein hewani berupa daging, telur dan susu agar memenuhi gizi yang seimbang.  

√ Picky Eater

Anak yang sudah diperbolehkan MPASI biasanya memang sering pilih-pilih. Perubahan dari pemberian ASI ke MPASI memang butuh proses. Nah, seharusnya orang tua jauh lebih aktif memperkenalkan makanan baru bagi anak.

Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Ahmad Syafiq mengatakan bahwa banyak dari Ibu Indonesia yang kurang siap dalam memberikan MPASI bagi anak. Menurutnya inilah mengapa banyak dari anak yang mengalami picky eater.

Bagaimana Mengetahui Anak Stunting?

Sebaiknya Parents perlu mengetahui lebih dini apakah anak mengalami Stunting. Agar, Catch Up Growth bisa dilakukan lebih dini, apabila anak terbukti mengalami Stunting.

Beberapa tanda atau ciri Stunting yaitu, anak berbadan lebih pendek dan berat badan anak yang rendah untuk anak seusia nya. Berapa sih berat badan dan tinggi badan pertumbuhan anak normal di Indonesia? Cermati panduan menurut Kementrian Kesehatan RI berikut

Berat Badan Pertumbuhan Normal Anak Indonesia

Usia (Tahun) Anak Perempuan (Kg) Anak laki-laki (Kg)
1 7 – 11,5 7,7 – 12
2 9 – 14,8 9,7 – 15,3
3 10,8 – 18,1 11,3 – 18,3
4 12,3 – 21,5 12,7 – 21,2
5 13,7 – 24,9 14,1 – 24,2

Tinggi Badan Pertumbuhan Normal Anak Indonesia

Usia (Tahun) Anak Perempuan (cm) Anak Laki-Laki (cm)
1 68,9 – 79,2 71 – 80,5
2 80 – 92,9 81,7 – 93,9
3 87,4 – 102,7 88,7 – 103,5
4 94,1 – 111,3 94,9 – 111,7
5 99,9 – 118,9 100,7 – 199,2

Nah, sekarang Parents bisa memeriksa tinggi badan dan berat badan anak di rumah berdasarkan tabel panduan tinggi dan berat badan di atas. Jika anak memiliki berat badan dan tinggi badan di bawah standar, maka segeralah konsultasikan dengan dokter. Agar penanganan tepat bisa segera dilakukan.

Yang Harus Rutin Dilakukan Parents!

Dalam rangka mencegah Stunting, yuk selalu rutin lakukan pemeriksaan di Posyandu. Pemeriksaan berkala di posyandu memang sangat penting lho. Petugas Posyandu akan memeriksa secara berkala baik kenaikan berat badan dan tinggi badan anak.

Apabila ada kejanggalan dalam pertumbuhan anak, petugas Posyandu akan memberikan saran terbaik. Jadi sebaiknya jangan pernah abaikan pentingnya Posyandu ya, Parents.

Yang Harus Diperhatikan

  • Cukupi kebutuhan gizi saat hamil dan setelah anak lahir
  • Berilah MPASI dengan gizi yang seimbang. Berikan juga protein hewani seperti telur, daging dan susu.
  • Kenalkan anak pada berbagai jenis makanan baru agar anak tidak mengalami Picky Eater
  • Lakukanlah pemeriksaan berkala di Posyandu atau dokter anak.
  • Apabila anak terbukti mengalami Stunting, segera konsultasikan dengan dokter. Agar program Catch Up Growth segera dilakukan dengan tepat.

Angka Stunting di Indonesia memang cukup tinggi. Walaupun peran pemerintah sudah sangat aktif di berbagai bidang. Sebagai orang tua seharusnya lebih aktif dalam memberantas Stunting pada anak. Lakukanlah pemeriksaan kesehatan secara berkala di layanan kesehatan terdekat terkait pertumbuhan anak. Khususnya berat badan dan tinggi badan anak.   

Baca Juga :

  1. Apa Itu Stunting dan Bagaimana Cara Mencegahnya?
  2. Mencegah “Picky Eater”, Kenalkan Makanan Sehat Sejak Dini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *